
Syifa tersenyum saat melihat kepulangan Micella, sebab gadis itu membawa kotak makan siang untuknya.
"Bunda!" teriak Micella sambil memberikan kotak makan siang, untuk sang bunda.
"Terima kasih, sayangku." Syifa bergegas mengambil kotak makanan dari Micella.
Kemudian, duduk di samping gadis kecil itu dan, mereka saling berpelukan melepaskan rasa rindu dari pagi belum bertemu.
"Bunda, Micella rindu sekali," ucap Micella dengan lembut dan manja.
"Sama, bunda juga merasakan hal yang sama," jawab Syifa lembut.
Pada saat itu juga, Dilon datang dan duduk di samping mereka berdua, kemudian menatap heran pada kedua gadis itu.
"Ada apa ni?" tanya Dilon lembut.
Micella tidak menjawab, melainkan hanya tertawa, sebab merasa lucu pada diri sendiri dan, dia pun memegang tangan Syifa dah sang papa.
"Micella, ingin Bunda menjadi ibu sambungku," ucap Micella lembut.
Sontak, membuat Syifa dan Dilon saling menatap satu sama lain, karena ucapan gadis kecil itu.
"Tapi ... " Syifa tidak bisa meneruskan ucapannya.
Sebab, dia sudah menikah dan tengah mengandung anak suaminya. Namun, dia tidak tegah menolak permintaan Micella.
"Micella, boleh papa bicara dengan Bunda?" tanya Dilon lembut.
Micella langsung menganggukan kepala, karena dia tahu apa yang akan dibicarakan sang papa pada bundanya.
"Syifa, aku ingin bicara berdua denganmu," ucap Dilon lembut.
Syifa menganggukan kepalanya dan, ia pun mengikuti kepergian pria itu. Sesampainya di halaman belakang, mereka duduk saling berhadapan.
"Maafkan ucapan Micella tadi, sebab dia belum tahu apa-apa," ucap Dilon lembut.
"Tidak masalah Paman, Syifa tahu dia masih kecil. Jadi, belum mengerti hubungan orang dewasa," jawab Syifa lembut.
Dilon tersenyum, karena Syifa sama sekali tidak marah pada Micella yang artinya, gadis itu setuju akan permintaan putrinya.
"Jadi, artinya kamu setuju?" tanya Dilon lembut.
Syifa langsung mengelengkan kepalanya, karena tidak mungkin mereka baru satu hari mengenal dan langsung menikah, gadis itu juga sudah menjadi istri orang saat ini.
__ADS_1
"Tapi, saya sudah menikah dan saat ini tengah mengandung anak suami saya," ungkap Syifa.
Sontak, membuat Dilon terkejut, sebab ia mengira Syifa masih gadis. Namun, semua salah, gadis sudah menjadi istri orang. Bahkan, tengah mengandung.
"Lalu, kenapa kamu sendirian? Di mana suamimu?" tanya Dilon penuh selidik.
Syifa mencaritahu Dilon yang sebenarnya, membuat pria itu terkejut dan, akan membantu sang keponakan menyelesaikan masalah.
"Aku janji, akan membantu mu. Tapi, bukan artinya masalah mu selesai dengan pergi dari rumah, sebaiknya pulang dulu dan, ceritakan keluh kesah mu," ucap Dilon bijak.
Walaupun dia berharap Syifa menjadi istrinya, tetap dia tidak mau menahan istri orang di rumahnya, apa lagi memiliki masalah.
"Tapi, Paman bisa membantu Syifa, sebab Paman adalah keluarga Syifa satu-satunya," jawab Syifa lirih.
Dilon menganggukan kepalanya, karena dia akan selalu ada untuk anak dari wanita yang sangat ia cintai.
'Walaupun, dia tidak akan menjadi istriku. Tapi, aku akan ada untuk dia dan, membantunya dalam keadaan apa pun,' batin Dilon.
. . .
Dila merasa sedih, karena pertemuannya tadi dengan Dilon dan putri pria itu, sebab sedikit sulit untuk mendekatinya.
"Aku harus bisa mendekati Micella, sebab sejak dulu aku memendam rasa untuk Dilo. Tapi, dia malah memilih pergi dari kehidupan ku," ucap Dila lirih.
Ya, sebelum mereka berpisah, Dila ingin menyatakan cintanya. Namun, sayang pria itu sudah pergi dari kehidupannya.
. . .
"Entahlah, yang pasti aku menunggu sampai esok. Jika dia tidak kembali, maka aku akan menjemputnya dengan cara paksa, sebab dia ada di rumah saingan rekan bisnis ku," ucap Syerkhan.
Pria itu senang sekali, sebab dia sudah tahu di mana sang istri, yang artinya mereka bisa kembali bersama.
. . .
Malam hari tiba, Dilon menangis, karena melihat sang anak yang tidak mau berpisah dari Syifa. Gadis itu akan kembali ke rumah suaminya.
"Tidak! Bunda, jangan pergi dari sini!" teriak Micella dengan histeris.
Sebab, gadis kecil itu tidak mau berpisah dari Syifa dan, wanita itu juga sedih melihat Micella yang menangisi kepergiannya.
"Sayang, bunda janji akan selalu ada untuk Micella. Bahkan, jika Micella mau tidur di rumah sama bunda boleh," ucap Syifa lembut sambil mengelus-elus rambut gadis kecil itu.
Micella langsung tersenyum, sebab ia masih bisa berdekatan dengan wanita yang sangat disayangi.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi, ingatlah bila Micella ingin bertemu, Bunda harus bisa," ucap Micella lirih.
Syifa menganggukan kepalanya, kemudian mereka bergegas pergi dari rumah, menuju rumah Syerkhan. Selama di perjalanan, gadis itu hanya diam sambil memeluk Micella.
'Apa akan ada jalan lagi untukku? Tapi, jika aku pergi, masalah tidak akan selesai, seperti yang diucapkan oleh Paman Dilon tadi,' batin Syifa lirih.
Gadis itu menitihkan air mata dan, langsung menghapusnya, sebab takut Micella atau Dilon melihatnya.
Setelah sampai, mereka bertiga langsung turun dan, masuk ke dalam bersama beberapa anak buah Syerkhan.
'Rumah ini, adalah rumah mantan suami Dila, apa Syifa ini adalah istri kedua Syerkhan?' batin Dilon sambil berpikir.
Pria itu langsung menepuk keningnya, karena lambat berpikir, sebab tadi Syifa sudah bercerita dan, hal itu sama seperti yang diceritakan oleh Dila.
"Paman, kita duduk saja di ruang tamu," ucap Syifa lembut.
Dilon menganggukkan kepalanya dan, dia berjalan sambil membawa tas milik Syifa, kemudian duduk di sofa, menunggu kedatangan Syerkhan.
. . .
"Apa! Syifa kembali?!" tanya Syerkhan dengan sangat tidak percaya.
"Benar Tuan dan, dia bersama seorang pria dan juga anak kecil," jawab sang pelayan.
Syerkhan langsung bergegas pergi dari sana, karena dia penasaran siapa pria yang bersama Syifa.
"Syifa!" teriak Syerkhan.
Dilon langsung menoleh dan, melihat benar adanya Syerkhan adalah suami Syifa, ia pun langsung membuang pandangannya.
"Syifa, aku sangat merindukanmu," ucap Syerkhan lembut.
Pria itu langsung menghampiri sang istri dan, hendak memeluknya. Namun, ia keduluan oleh gadis kecil yang ada di samping Syifa.
"Bukankah kamu, Dilon Aksara?" tanya Syerkhan lembut.
Sambil menatap wajah Dilon dan, pria itu menganggukan kepalanya, kemudian menceritakan keluh kesah Syifa, mengapa gadis itu pergi dari rumah.
"Aku tidak menyangka, tenyata kamu dan Syifa bersaudara," ucap Syerkhan tak percaya.
Sebab, selama ini dia dan Dilon selalu bersaing untuk mendapatkan tender proyek. Bahkan, Syifa juga terlihat. Namun, mereka tidak pernah bertemu Dilon, sebab pria itu tidak pernah hadir saat pertemuan.
"Lupakan saja! Sekarang, yang terpenting adalah masalah mu dan anakku," ucap Dilon datar.
__ADS_1
Syerkhan menganggukkan kepalanya, kemudian menceritakan semua pada Syifa dan Dilon, kalau yang didengar gadis itu adalah salah paham.
BERSAMBUNG.