
Syerkhan turun dari motornya dan, langsung bergegas masuk ke dalam kantor, sesampainya di dalam, semua karyawan menyapa dia, sebab sudah lama tidak datang ke perusahaan ia sendiri.
"Siang Pak Syerkhan."
"Siang Pak Syerkhan."
"Siang Pak Syerkhan."
Syerkan hanya tersenyum dan, bergegas masuk ke dalam ruangannya, kemudian mengambil berkas yang ia butuhkan. Setelah itu, dia tidak langsung pergi, melainkan duduk di bangku kekuasaannya.
"Rindu juga ada di sini. Tapi, aku tidak mau kehilangan moments bersama istriku yang tengah mengandung buah hati kami," gumam Syerkan.
Pria itu langsung pergi sambil membawa semua berkas penting yang ia butuhkan. Syerkan berjalan dengan perlahan menuju motor yang ia parkiran. Setelah itu, dia pun membuka ponsel berharap ada pesan masuk dari Syifa.
Namun, tidak ada pesan, sebab gadis itu hanya membaca pesan yang tadi ia kirimkan lewat WhatsApp.
"Mungkin dia masih tidur. Jadi, tidak sempat membaca pesan dariku," gumam Syerkan sambil mengemudikan motornya.
Pria itu sangat gagah saat mengendarai motor sport miliknya, terlihat seperti remaja yang berusia 20 tahun, tidak terlihat usianya yang sudah berkepala empat. Bahkan, dia sebentar lagi memiliki cucu.
'Lucu juga ya, aku segera memiliki cucu dan anak bersamaan, hanya berjarak hitung bulan. Bukankah itu lucu?' batin Syerkan.
Pria itu tersenyum tanpa sadar, karena dia membayangkan sang anak tumbuh bersamaan dengan cucunya. Setelah sampai di rumah, Syerkan tidak langsung turun, karena ada panggilan dari rekan bisnisnya.
Syerkan: Halo Pak, ada yang bisa saya bantu?
Rojer: Maaf Pak, kami mengalami kendala di proyek dan, apa Bapak bisa datang, bersama bu Syifa?
Syerkan: Bisa Pak, besok kami langsung datang.
Rojer: Terima kasih Pak, saya tutup dulu telponnya.
Rekan bisnis Syerkan langsung memutuskan sambungan telepon dan, pria itu langsung bergegas masuk ke dalam rumah, dia pun berjalan menuju kamar.
Sesampainya di dalam kamar, dia menghampiri sang istri yang masih tidur pulas di dalam selimut tebal.
"Sayang bangun," ucap Syerkan dengan lembut.
Syifa membuka matanya dengan perlahan dan, tersenyum saat melihat sang suami ada di hadapannya sekarang. Gadis itu langsung bangun, kemudian memeluk suaminya dengan lembut.
"Sayang, kamu bau pandan, pergilah mandi dan, kita bercerita sambil mengerjakan tugas yang aku berikan," ucap Syerkan lembut.
Syifa mengerutkan keningnya, karena dia tidak mengerti tugas apa yang harus ia kerjakan, sebab sudah lama tidak bekerja di perusahaan sang suami.
__ADS_1
"Maksudnya pekerjaan apa?" tanya Syifa bingung.
"Ingat ini?" Syerkan memberikan berkas dari Pak Rojer.
Sontak, Syifa langsung ingat dan menganggukkan kepala, karena proyek itu dia yang mebghendel beberapa bulan lalu, saat belum hamil.
Syifa bergegas membersihkan diri. Setelah itu, dia langsung mengerjakan tugasnya, gadis itu sedikit gugup, karena sudah lama tidak mengerjakan tugas semacam ini.
Namun, dia tidak salah mengerjakan tugasnya dan semua yang ia pegang berhasil, membuat Syerkan kagum.
"Aku sangat beruntung memilikimu, karena kamu adalah gadis yang sangat bijak juga cantik," ucap Syerkan kagum.
Syifa tersenyum malu-malu, karena pujian sang suami dan, gadis itu kembali membantu pekerjaan sang suami dengan sangat lincah, karena dia sudah terbiasa mengerjakan tugas seperti itu.
'Syifa adalah emas bagiku, karena dia lebih dari harta yang aku miliki sekarang, hanya dia kekayaan yang baling berarti dalam hidupku,' batin Syerkan.
. . .
Juwita sudah masuk ke toko baju lagi, kerena pesanan semakin banyak dan, pekerjaan sang suami semakin menumpuk, ditambah dengan keadaan suaminya yang kurung baik.
"Kenapa ya, Anggi belum kembali ya?" gumam Juwita.
Gadis itu terus melanjutkan pekerjaannya menyusun barang-barang yang akan dikirim ke dalam mobil, pada saat itu juga, Anggi datang dan langsung menghampirinya.
Sontak, membuat Juwita tersenyum dan menganggukkan wajahnya, karena menahan malu, sebab mereka ada di depan umum dan, di lihat banyak orang.
"Dasar, tidak tau malu," ucap Juwita.
"Biyarin," balas Anggi.
Mereka pun kembali mengerjakan tugas bersama, walaupun kepala Anggi masih sering pusing, tetap dia mengerjakan tugasnya.
"Anggi, biar aku saja yang mengerjakan, kamu istirahat saja," ucap Juwita lembut.
"Hei, yang seharusnya istirahat itu kamu, karena sedang mengandung anakku," sahut Anggi.
Pria itu pun memegang perut Juwita yang masih rata, membuat gadis itu seakan terbang ke langit, karena pria yang dicintainya sudah mencintainya juga.
"Aku masih kuat. Kalua aku lelah baru beristirahat," jawab Juwita.
"Siap sayangku," sahut Anggi lembut.
Lagi-lagi Juwita dibuat malu oleh pria itu dan, dia membuang pandangannya, agar sang suami tidak melihat wajah dia yang merona seperti kepiting rebus.
__ADS_1
'Ya ampun, aku seperti sedang mimpi indah dan, aku tidak mau bangun, karena takut mimpi ini berakhir,' batin Juwita.
Setelah selesai mengerjakan tugas, Anggi berlari menuju wastafel dan, memuntahkan isi perutnya, sebab merasa sangat mual. Juwita pun membantu sang suami.
"Anggi, sebaiknya kamu istirahat saja! Semua ini, biar aku yang mengerjakannya, aku takut kamu semakin parah," ucap Juwita dengan cemas.
Anggi tersenyum sambil mengecup kening sang istri, membuat Juwita malu dan, menuruti apa saja yang ia ucapkan.
"Kamu jangan khawatir! Aku pasti baik-baik saja, anggap aku seperti wanita hamil pada umumnya, bukankah mereka tidak apa, selama sembilan bulan mengandung?" ucap Anggi dengan lembut.
Juwita berpikir apa yang diucapkan oleh Anggi dan, dia pun tersenyum, sebab membayangkan Anggi merasakan sakit saat melahirkan, sedangkan dia tidak merasakan apapun.
"Hei! Jangan mengkhayal," ucap Anggi.
Sontak, membuat Juwita langsung tersadar, kemudian dia tertawa dan, bergegas pergi mengambil minyak kayu putih untuk sang suami.
"Sini sayang, aku pijitin seperti yang diajarkan oleh Syifa," ucap Juwita sambil menepuk pahanya.
Agar sang suami menidurkan kepala di pahanya dan, pria itu menuruti keinginan istrinya.
"Anak pandai," ucap Juwita.
Sontak, Anggi langsung menggigit paha sang istri, membuat Juwita berteriak-teriak dan, pria itu memeluk istrinya.
"Hentikan teriakanmu, tadi itu tidak sakit, karena aku bukan fampir," celetuk Anggi.
"Dasar mesum!" teriak Juwita.
Mereka berdua saling menyalahkan dan, sama-sama tidak mau mengalah, sebab merasa mereka benar, sampai Juwita merasa pusing.
"Astaga, kepalaku sakit dan, aku mual," ucap Juwita lemas.
"Itu adalah karma," sahut Anggi tanpa dosa.
Juwita langsung menidurkan kepalanya ke paha sang suami, kemudian pria itu memijatnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku mencintaimu," ucap Anggi lembut.
"Aku juga mencintaimu," jawab Juwita.
Mereka berdua saling menatap dan, Anggi silap melahap bibir sang istri dengan lembut, tanpa mereka sadari, ternyata Dila sejak tadi melihat apa yang terjadi.
'Aku bahagia, karena Juwita dan Anggi saling mencintai dan, menerima satu sama lainnya,' batin Dila girang.
__ADS_1
BERSAMBUNG.