
Setelah sampai di rumah, Juwita turun dan, Edwin juga turun, sebab susu yang dibawa gadis itu tertinggal, namun sang empunya tidak sadar.
"Menantunya tuan Syerkhan!" teriak Edwin.
Namun, Juwita sama sekali tidak mendengar dan, masuk ke dalam. Sedangkan Edwin hanya bisa menggelengkan kepala, sebab gadis itu sangat tuli.
"Ya ampun, tenyata tuan Syerkhan akan memiliki cucu. Padahal dia juga akan memiliki anak lagi, ini benar-benar sangat lucu," gumam Edwin.
Pria itu mengetuk-ngetuk pintu rumah Anggi dan, pintu terbuka, namun bukan Juwita yang membuka, melainkan Dila.
"Malam Nyonya," sapa Edwin lembut.
"Malam, ada keperluan apa kamu ke sini?" tanya Dila lembut.
Edwin menceritakan semua pada Dila, membuat wanita itu terkejut, sebab Juwita tidak pernah mengatakan kalau dirinya hamil.
"Terima kasih, kalau begitu saya masuk dulu," ucap Dila lembut.
"Sama-sama Nyonya, saya permisi dulu," jawab Edwin lembut.
Edwin bergegas pergi dari sana, karena dia ingin segera pulang dan beristirahat, sebab pekerjanya tadi sangat menumpuk. Sedangkan Dila, langsung menuju ke kamar sang anak.
Ingin bertanya, kenapa Juwita tidak memberitahunya tenteng kehamilan gadis itu, yang membuatnya sangat marah.
"Ada-ada saja anak itu, kenapa tidak memberitahu aku, tentang kehamilannya!" geram Dila.
Tok!
Tok!
Tok!
Dila mengetuk-ngetuk pintu kamar sang anak dengan sangat keras dan, terbuka dia langsung masuk ke dalam, kemudian melemparkan kotak susu ke hadapan Anggi.
"Aduh!" pekik Anggi.
Sebab, kotak susu yang dilemparkan oleh Dila mengenai wajahnya. Sedangkan Juwita langsung tersenyum, sebab susu yang dikira hilang, ada dihadapannya.
"Syukurlah susu itu kembali," ucap Juwita girang.
"Apa itu!" seru Dila.
"Susu," jawab Anggi dan Juwita bersamaan.
Dila semakin kesal, sebab kedua anaknya sama-sama tidak benar menjawabnya dan, dia memilih duduk di sofa sambil mengatur nafasnya.
"Kenapa kalian tidak bila, kalau Juwita hamil?!" tanya Dila emosi.
Sontak, membuat Juwita dan Anggi terkejut akan ucapan Dila dan, pria itu menjelaskan pada sang mama, kalau susu itu untuknya, bukan karena Juwita hamil.
"Astaga Anggi, kamu itu ada-ada saja!" seru Dila.
__ADS_1
Juwita langsung membuat susu untuk sang suami, sedangkan Anggi masih bercerita dengan sang mama, sebab dia menginginkan hal yang aneh.
"Sudahlah, mama mau istirahat dulu," ucap Dila lembut.
"Iya Ma," jawab Anggi.
Dila bergegas pergi dari sana, karena dia lelah dan ingin beristirahat, sebab besok pagi harus pergi ke koto kue miliknya.
. . .
Edwin baru tiba di rumah, dia langsung menelpon sang-bos, sebab ingin mengucapkan selamat, atas kehamilan menantunya.
Syerkhan: Katakan! Kau mengganggu aku!
Edwin: Sabar Tuan, kenapa Anda emosi?
Syerkhan: Kau mengaggu malam ku!
Edwin tertawa lepas, sebab dia sudah menebak kalau ia pasti akan menggangu sang-bos menelpon malam-malam seperti ini.
Edwin: Selamat atas kehamilan menantu Anda.
Syerkan langsung membuka mata lebar-lebar, sebab sang sekertsri mengatakan kalau menantunya hamil. Padahal tadi saat bertemu dengannya, tidak mengatakan apapun.
"Halo, dasar brengsek!" geram Syerkhan.
Sebab, Edwin memutuskan sambungan telepon mereka secara sepihak, sebelum dia menyelesaikan ucapnya, membuat Syifa terkejut.
Syerkan langsung diam, karena dia lupa kalau Syifa belum tidur, sehingga sang istri mendengar perkataannya barusan.
"Tidak ada sayang," jawab Syerkhan lembut.
Pria itu langsung mendekati sang istri, kemudian memeluknya dengan sangat lembut, membuat Syifa tertidur pulas.
. . .
Keesokan harinya . . .
Syerkhan dan Syifa, sudah bersiap-siap berangkat menuju rumah Anggi, sebab ingin menjenguk pria itu yang tengah sakit. Selama diperjalanan, mereka berdua hanya diam dalam pikiran masing-masing.
Setelah sampai, mereka langsung bergegas turun dan, bertemu dengan Dila dan Dilon didepan pintu, terlihat kedua pasang kekasih itu akan pergi jauh.
"Mau ke mana kalian?" tanya Syerkhan lembut.
"Toko roti," jawab Dila.
"Kalian masuklah, karena aku harus pergi cepat. Maafkan aku tidak bisa menemani kalian," tambah Dila.
Syerkan dan Syifa menganggukan kepalanya dan, Dila mengecup kening Syifa, kemudian bergegas pergi dari sana, sebab dia sudah hampir terlambat untuk bertemu dengan rekan bisnisnya.
Sedangkan Syerkhan dan Syifa, langsung masuk ke dalam rumah dan, melihat Anggi tengah duduk sambil di pijat kepalanya oleh Juwita.
__ADS_1
"Sayang, kamu masih sakit?" tanya Syerkhan lembut.
Pria itu langsung menghampiri sang anak dan, Anggi mencium tangan sang papa dengan lembut.
"Maaf Pa, Anggi tidak enak badan, dari tadi kepala Anggi pusing banget," ucap Anggi lema.
"Tidak apa sayang, apa kita ke dokter saja?" jawab Syerkan dengan pernyataan.
Anggi menggelengkan kepalanya, kemudian Syifa menghampiri Anggi dan, mengambil ahli pekerjaan Juwita.
"Maaf ya, aku ingin menunjukkan cara yang benar agar kepala tidak sakit lagi, setelah dipijat," ucap Syifa lembut.
Sebab, dia takut Juwita salah paham padanya dan, mengira dia ingin merebut Anggi lagi. Padahal ia hanya ingin membantu anak sambungnya.
"Tidak masalah Syifa, agar suamiku sehat kembali, itu tidak masalah bagiku," jawab Juwita lembut.
"Benar itu. Sekarang lakukan agar Anggi cepat sembuh. Jujur, aku tidak sanggup melihatnya sakit," sambung Syerkan.
Syifa menganggukkan kepalanya, kemudian mulai memijat kepala Anggi dengan lembut dan, bayi yang ada didalam kandungan terus bergerak lincah.
"Seperti akan ada bayi di rumah ini," ucap Syifa lembut.
Sontak, membuat semua yang ada di sana langsung membuka mata mereka lebar-lebar, akan ucapan Syifa.
"Anak?" tanya Anggi dan Juwita bersamaan.
"Iya, Anggi seperti ini karena bawaan bayi yang ada di dalam kandungan Juwita," jawab Syifa lembut.
Lagi-lagi mereka membuka mata lebar-lebar, akan ucapan gadis itu, sebab Juwita saja tidak tahu kalau dirinya tengah mengandung.
"Kamu tahu dari mana, sayang?" tanya Syerkhan lembut.
Syifa menjelaskan semua pada mereka, karena dari semalam dia sudah menebak kalua Juwita hamil dan, Anggi yang mengalami morning skin.
"Juwita, elo emak kebangetan sama gue, tega elo," ucap Anggi lirih.
Bagaimana dia tidak sedih, pria itu harus menerima keadaan yang seperti ini selama sembilan bulan kedepan, karena Juwita sama sekali tidak merasa masa kehamilan seperti orang pada umumnya, melainkan suaminya yang merasakan hal itu.
"Anggi kenapa bicara seperti itu? Semua, adalah takdirmu Nak," ucap Syerkhan lembut
Sebab, dia tidak merasakan apa yang dirasakan oleh Anggi dan, pria itu langsung duduk lemas. Sedangkan Juwita merasa biasa-biasa saja.
Karena dia, tidak akan merasakan mual dan muntah di pagi hari, karena semua sudah Anggi rasakan.
"Tapi, aku belum periksa kandungan, apakah itu memang sudah positif?" tanya Juwita lembut.
Syifa langsung memesan alat tes kehamilan untuk Juwita, sebab dia ingin membuat sang sahabat percaya, kalau dirinya itu sudah pasti mengandung.
BERSAMBUNG.
Jangan lupa hampir ke novelku yang ini ya teman-teman.
__ADS_1