Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
64 > Heppy Birthday


__ADS_3

Setelah semua selesai sarapan, Syerkhan dan Syifa juga Micella bergegas pergi ke sekolah gadis kecil itu, karena takut terlambat, karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.30, yang artinya tinggal 30 menit lagi Micella terlambat.


"Sayang, kami tunggu di mobil saja ya, kasihan Bunda kalau ikut ke dalam," ucap Syerkhan lembut.


"Tidak apa Om, Micella sudah terbiasa sendirian," jawab Micella lembut.


"Hati-hati ya sayang," ucap Syifa lembut.


Micella bergegas turun dari mobil dan, masuk ke dalam sekolah. Syerkhan dan Syifa menunggu gadis kecil itu di dalam mobil, karena takut Micella akan pulang cepat kalau mereka pulang.


"Sayang, mungkin besok aku pergi menemui rekan bisnis, kami sama Micella saja tidak masalah?" tanya Syerkhan dengan hati-hati.


Sebab, dia takut sang istri merah karena dia pergi dihari Minggu. Syifa tersenyum dan menganggukkan kepala, sebab dia selalu mengizinkan suaminya pergi.


"Kenapa harus bertanya, kalau itu demi pekerjaan tidak masalah, pergilah Syifa dan Micella bisa ke rumah tante Dila," ucap Syifa lembut.


"Aku takut kamu marah, karena besok hari Minggu, biasanya, 'kan aku ada di rumah," sahut Syerkhan lembut.


"Tidak, masalah itu," jawab Syifa lembut.


Syerkhan langsung memeluk istrinya, karena dia bahagia bisa memiliki istri yang pengertian akan posisinya menjadi CEO, yang tidak kenal hari Minggu.


'Syifa sangat jauh berbeda dengan Dila, kalau wanita itu pasti tidak akan mengizinkan aku pergi walaupun demi pekerjaan, walaupun hari Minggu,' batin Syerkhan.


"Aku sangat mencintaimu," ucap Syerkhan lembut.


Syifa tersenyum, karena dia juga mulai mencintai pria itu dan, melupakan Anggi selamanya dalam hatinya.


'Aku berharap bisa melupakan Anggi dengan sempurna dan, mencintai suamiku yang sangat mencintaiku,' batin Syifa.


Gadis itu sudah menerima takdir menjadi istri Syerkhan, karena dia berpikir kalau Syerkhan adalah ayah dari bayi yang ia kandung, bukan hanya itu saja, ia juga mulai nyaman akan perlakuan sang suami padanya.


"Syifa juga sangat mencintai Om," ucap Syifa lembut.


Syerkhan mencium puncak kepala gadis itu dan, mengelus-elus perut yang sudah membuncit. Bahkan bayi yang ada di dalam kandungan Syifa, sudah menendang-nendang di dalam perut.


"Kalian adalah harta yang terindah dalam hidupku. Jangan pernah pergi dariku, karena aku tidak akan mampu," ucap Syerkhan lembut.


"Tidak," jawab Syifa.

__ADS_1


Syerkhan memeluk Syifa dengan erat, karena dia takut kehilangan sang istri. Padahal gadis itu tidak berniat pergi ke mana pun.


'Om Syerkhan ini kenapa sih? Sejak tadi, dia terus mengatakan tidak mau kehilangan aku? Padahal, tidak ada pikiran aku akan pergi darinya,' batin Syifa sambil berpikir.


Entahlah, sejak tadi pagi Syerkhan terus mengatakan jangan pergi darinya, membuat Syifa heran sekaligus penasaran, apa yang membuat sang suami menjadi takut seperti ini?


"Sayang, aku ingin bertanya. Tapi, kamu jawab jujur," ucap Syerkhan lembut.


Syifa menganggukkan kepalanya dan, pria itu mulai memberikannya pertanyaan satu persatu dan, dia berhasil menjawab dengan jujur.


"Om, kenapa seperti ini? Apa ada kesalahan yang Syifa buat?" tanya Syifa terus terang.


Sebab, dari kemarin sikap sang suami sangat berbeda padanya. Padahal dia sama sekali tidak membuat kesalahan apapun, yang gadis itu ingat.


"Jujur, aku cemburu saat kamu makan siang bersama Anggi," ungkap Syerkhan.


Sontak membuat Syifa diam, karena dia memang melakukan kesalahan, dengan makan siang bersama pria lain tanpa suaminya.


"Maafkan Syifa, karena hal itu tidak akan terulang kembali," ucap Syifa lembut.


Syerkhan menganggukkan kepala, karena dia senang istrinya bisa mengerti akan posisinya, yang cemburu pada sang anak.


. . .


Dila terkejut, karena anaknya ada di rumah. Padahal mereka sudah pergi sejak pagi-pagi buta dan, sekarang ada di hadapannya membawa kejutan.


"Ayo Ma, tiup lilinnya," ucap Anggi lembut.


"Iya Ma, Juwita tidak sabar memakan kue ini," tambah Juwita.


Dila menitihkan air mata, karena ulang tahun kali ini tidak ada Syerkhan dan Syifa seperti sebelumnya, sebab dia selalu merayakan hari kelahirannya bersama keluarga kecilnya.


Namun, sekarang sudah berbeda, Syifa dan sang suami sudah menikah dan hidup bahagia tanpa memikirkan dia dan Anggi.


"Mama, jangan menangis," ucap Anggi lembut.


Dila langsung menghapus air matanya dan, meniup lilin, kemudian mereka bernyanyi bertiga. Ada rasa sedih di dalam hati wanita paruh baya itu, saat merayakan ulang tahun tanpa Syifa.


'Aku harap, Syifa tidak lupa hari ulang tahunku, walaupun dia menikah dengan suamiku. Tapi, aku sangat menyayangi dia, tidak pernah aku berpikir untuk membencinya,' batin Dila.

__ADS_1


"Hore!" teriak Anggi.


Saat Dila meniup lilin. Pria itu tahu apa yang tengah dipikirkan sang mama, sebab itu dia terus membuat wanita yang sudah melahirkannya bahagia.


"Ma, Anggi ada satu kejutan untuk mama. Tapi, semua itu adalah hadiah dari Anggi dan Micella," ucap Anggi lembut.


"Lalu, di mana hadiah itu dan, apa hadiah yang kalian berikan untuk mama?" jawab Dila dengan pertanyaan.


"Ada bersama Micel, nanti juga dia datang setelah pulang sekolah," jawab Anggi.


Dila tersenyum, karena calon anak sambungnya sudah mulai menerimanya. Bahkan mulai menyayangi dia, walaupun gadis kecil itu tidak mau tinggal bersamanya, saat Dilon ke luar kota.


"Ma, Anggi dan Juwita harap, Mama bisa segera menikah dengan om Dilon, karena kami ingin melihat Mama bahagia," ucap Anggi lembut.


"Benar itu Ma, Juwita ingin Mama ada temannya kalau kami ke kantor," tambah Juwita.


Dila tersenyum, karena dia bahagia sang anak merestui hubungannya dengan Dilon dan, dia berharap pria itu akan selalu setia padanya sampai maut memisahkan mereka.


"Mama!" teriak Micella yang baru saja tiba.


Sontak, membuat Dila menangis saat gadis itu memanggilnya dengan sebutan mama. Wanita paruh baya itu langsung menghampiri calon anak sambungnya.


"Heppy birthday Mommy," ucap Micella lembut.


"Thank You," jawab Dila lembut.


Wanita paruh baya itu mencium Micella dengan lembut dan, gadis kecil itu memberikan kotak kecil berwarna putih.


"Apa ini, sayang?" tanya Dila.


"Ayo buka, pasti Mama menyukainya, karena itu dari Micella dan Kak Anggi," jawab Micella lembut.


Dila tersenyum dan, langsung membuka hadiah dari Micella, sontak membuatnya sangat bahagia, karena mereka tahu apa kesukaannya.


"Terima kasih sayangku, kalian adalah anak-anak yang mama cinta," ucap Dila lirih.


Anggi dan Micella memeluk Dila, juga Juwita, pada saat itu juga, Syerkhan dan Syifa masuk ke dalam rumah. Mereka semua saling pandang dan, suasana menjadi canggung, saat kedua pasang suami-istri itu masuk ke dalam.


'Apa ini? Kenapa suasana menjadi canggung?' batin Syifa sambil berpikir.

__ADS_1


Gadis itu merasa tidak enak, karena dia masuk suasana menjadi canggung seperti saat ini. Padahal sebelumnya dia masuk, terlihat Dila sangat bahagia.


BERSAMBUNG.


__ADS_2