Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
72 > Sangat mencintai kalian berdua


__ADS_3

Malam hari tiba, Syerkhan dan Syifa sudah bersiap-siap berangkat menuju rumah Merlin bersama Anggi, karena pria itu pergi sendiri. Jadi, mereka pergi bersama. Walaupun Syerkhan merasa tidak nyaman ada anaknya. Namun, dia harus bersikap wajar.


"Pa, seperti Anggi kenal dengan nama Merlin," ujar Anggi.


Sontak, membuat Syerkhan langsung menoleh ke arah belakang, kemudian dia kembali fokus mengemudikan mobil dengan perlahan.


"Dia itu istri rekan bisnis papa. Apa kamu kenal dia?" tanya Syerkhan dengan penasaran.


"Benar sekali, dia itu juga istri dari pelanggan Anggi, Pa." Jawaban Anggi membuat Syerkhan terdiam.


Karena, mereka mengenal Merlin sebagai istri dari rekan mereka. Hal itu membuat Syifa cemburu, sebab sang suami bertanya-tanya tentang wanita lain dihadapannya.


Namun, dia hanya diam, karena malu bila bersuara ada Anggi di belakang. Sedangkan Syerkhan, semakin bertanya-tanya pada anaknya tenteng Merlin, tanpa memikirkan perasaan sang istri.


Sesampainya mereka di rumah Merlin, Syerkhan meminta Anggi dan Syifa masuk ke dalam duluan, sedangkan dia, ingin memarkirkan mobilnya.


"Syifa, apa papa sering menceritakan tentang bu Merlin?" tanya Anggi dengan berbisik.


Sebab, dia tidak ingin sang papa mendengar ucapannya, karena sejak tadi dia terus melihat wajah jutek Syifa dan, mengerti bahwa gadis itu tengah cemburu.


"Iya. Tapi, aku tidak mau ambil pusing, biarkan saja mereka dekat. Lagi pula, mereka rekan kerja," jawab Syifa cuek.


Anggi tersenyum, karena dia tahu bahwa Syifa tengah kesal dari jawabannya tadi. Namun, dia memilih diam, sebab tidak ingin membuat ibu sambungnya semakin kesal pada papanya.


Mereka berdua masuk ke dalam dan, bertemu dengan Merlin. Wanita itu langsung memeluk Syifa dengan lembut sambil menatap ke arah Anggi dengan sangat terkejut.


"Loh, Anggi ada di sini?" tanya Merlin sambil melepaskan pelukannya.


"Iya Bu, saya anak papa Syerkhan," jawab Anggi.


Merlin sangat tidak percaya, kalau Anggi adalah anak Syerkhan, pria konglomerat di kota ini. Namun, bekerja sebagai penjual baju online shopping.


"Jangan terkejut Bu, saya bisa jelaskan nanti setelah papa saya masuk," ucap Anggi lembut.


Karena, dia mengerti kalau Merlin pasti terkejut melihat dia dan, bertanya-tanya siapa dirinya. Sebab itu, ia langsung menceritakan siapa dirinya.


"Ini pasti Syifa, 'Kan?" tanya Merlin dengan lembut sambil menatap wajah Syifa.


"Benar Tante," jawab Syifa.


Gadis itu heran, mengapa Merlin mengetahui namanya? Dari siapa wanita itu tahu, apa mungkin Syerkhan yang memberitahukan tentang dirinya. Begitulah yang ada di dalam benak Syifa.

__ADS_1


"Iya, dia Syifa," sahut Syerkhan yang baru saja sampai.


Sontak, membuat Merlin menoleh juga tersenyum melihat pria yang sedang didambakannya.


"Wah, sebentar lagi Bapak segera memiliki cucu," ucap Merlin lembut.


"Iya," sahut Syerkhan.


Mereka semua bergegas masuk ke dalam dan, langsung duduk di meja makan, karena Merlin sengaja agar mereka cepat makan bersama.


"Jadi, istri Bapak tidak ikut?" tanya Merlin.


Sontak, membuat Syifa langsung membulatkan matanya dan, juga Anggi, karena mereka terkejut akan ucapan Merlin barusan.


"Syifa, adalah istri saya," ungkap Syerkhan.


Hal itu membuat Merlin membuka mulut lebar-lebar, karena yang ia tahu, gadis itu tunangan Anggi, anak Syerkhan, bukan istrinya.


"Lalu, istri Anggi siapa?" tanya Merlin.


Syerkhan memperlihatkan Poto keluarganya pada Merlin dan, menjelaskan bahwa dia dan Dila sudah bercerai. Hal itu, membuat Merlin sangat kesal, karena saingannya mendapatkan Syerkhan sangat sulit.


'Sial! Aku salah sasaran, ternyata istrinya sangat muda. Bahkan seumuran dengan anaknya!' gram Merlin dalam hatinya.


. . .


Micella kesal pada sang papa, karena dia ingin makan malam bersama bundanya. Namun, pria itu tidak mengizinkan, beralasan banyak pekerjaan.


"Papa tidak sayang Micella!" teriak Micella untuk yang kesekian kalinya.


Sebab, gadis itu sudah melontarkan kata-kata itu sejak tadi dan, Dilon hanya diam, karena dia tidak ingin pergi ke mana pun, sebab memiliki banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini juga.


"Besok ya, sayang." Dilon berjalan menghampiri sang anak dengan perlahan.


Namun, gadis itu semakin menjauh sampai ke pintu dan, mereka berdua saling menatap satu sama lainnya saat mendengar suara bel dari luar, yang artinya ada tamu.


"Biar Micella yang buka," ucap Micella.


Dilon menganguk tanda setuju dan, Micella langsung membuka pintu. Alangkah senangnya dia, saat melihat Dila yang datang, ia pun memeluk wanita itu dengan lembut.


"Mama!" teriak Micella.

__ADS_1


Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu sambil memeluk calon ibu sambungnya, membuat Dila terkejut dan, dia langsung menatap wajah Micella.


"Ada apa, sayang?" tanya Dila lembut.


"Papa," jawab Micella dalam isak tangisnya.


Dila langsung membawa Micella masuk ke dalam dan, menemui Dilon, karena dia ingin menemui pria itu dan bertanya, kenapa dengan Micella.


"Mas, ada apa?" tanya Dila lembut.


"Tidak ada," jawab Dilon dengan santai.


Dila meletakan Micella dengan perlahan di sofa, kemudian dia menghampiri Dilon dan, duduk di samping pria itu.


"Tidak mungkin dia sampai menangis tersedu-sedu, kalau tidak ada masalahnya," sahut Dila lembut.


Dilon pun menceritakan semua pada Dila apa yang terjadi, agar wanita itu tidak salah paham padanya. Dila mengerti setelah calon suaminya bercerita.


"Ayo iku mama, nanti kita bisa menemui bunda dan, menginap di sana," ucap Dila lembut.


Sontak, membuat Micella tersenyum dan, langsung berhenti menangis, kemudian dia berlari menghampiri Dila.


"Mama sayang Micella, sedangkan Papa, tidak!" seru Micella.


Dila menjelaskan pada Micella dan, gadis kecil itu mengerti, dia pun sudah berbaikan dengan sang papa. Mereka bertiga saling berpelukan dengan lembut, terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.


"Aku sangat mencintai kalian berdua," ucap Dilon lembut sambil mengecup kening kedua wanita yang ada di sampingnya.


"Papa, bila sudah menikah dengan Mama, jangan pernah lupakan Micella, ya?" pinta Micella dengan lembut.


"Papa akan mencintai kalian berdua dan, kita akan selalu bersama selamanya," ucap Dilon lagi.


Dila tersenyum sampai menitihkan air mata, karena ucapan Dilon sangat menyentuh hatinya dan, dia pun langsung mengusap air matanya, agar tidak ada yang tahu kalau dia tengah menangis.


'Aku menangis bukan karena sedih. Tapi, ini air mata kebahagiaan, yang aku rasakan setelah badai kesediaan datang,' batin Dila lirih.


Dilon tersenyum manis pada Dila dan, wanita itu langsung bersiap-siap membawa Micella bertemu dengan Syifa, karena gadis kecil itu sudah sangat merindukan sang bunda.


"Papa, kami pergi dulu ya," ucap Micella dengan sangat girang.


"Hati-hati, maaf tidak bisa mengantarkan kalian," jawab Dilon lembut.

__ADS_1


Micella menganggukkan kepalanya dan, dia pun bergegas pergi dari rumah bersama Dila menuju kediaman Syerkhan.


BERSAMBUNG.


__ADS_2