Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
19 > Papamu


__ADS_3

Hari-hari yang di lalui oleh Syifa, benar-benar sangat membuatnya cemas berlebihan sampai dia sering sakit, di sana dan pekerjaannya terhambat.


Pada hari ini, Syifa akan pulang. Sebab, dia masih saja sakit dan Syerkhan tidak tega melihat wanita yang di sayang sakit.


"Syifa, sebaiknya kita ke dokter saja," ucap Syerkhan pelan.


Sudah puluhan kali dia membujuk gadis itu. Namun, Syifa tetap tidak mau ke rumah sakit dan meminta pulang.


"Syifa mau pulang," jawab Syifa dengan lembut.


Syerkhan memijat kepala Syifa, karena gadis itu selalu pusing. Bahkan, sering kali muntah-muntah dan tidak mau makan sama sekali, membuat Syerkhan pusing.


"Baiklah hari ini kamu aku antar. Tapi, kita ke rumah sakit ya? Sesampainya di sana," ucap Syerkhan dengan lembut, sambil terus memijat kepala Syifa.


"Tidak,Om kembali ke sini saja! Setelah Syifa luamyan sehat, pasti akan ke rumah sakit kok," jawab Syifa.


Syerkhan benar-benar sangat penasaran pada gadis itu. Sebab, seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


'Sebaiknya aku ikuti maunya dan, aku tetap mengintainya, agar tahu apa yang terjadi padanya,' batin Syerkhan.


"Baik sayang, apa sekarang masih pusing?" tanya Syerkhan, karena wajah Syifa semakin pucat.


"Masih," jawab Syifa dengan lema.


Syerkhan terus memijat kepala Syifa, sambil menunggu supirnya datang. Sebab, pria itu tadi pergi menyervis mobil.


'Aku baru ingat, kalau Dila hamil Anggi dulu sama seperti Syifa saat ini? Apa, dia hamil?' batin Syerkhan sambil berpikir.


Pria itu sangat curiga pada Syifa, karena gadis itu belum datang bulan. Sebab, bila tamu bulan itu datang, pasti Syifa akan membeli jamu.


Namun, kali ini sama sekali tidak membeli jamu itu dan Syerkhan sudah memastikan bahwa Syifa hamil anaknya.


"Sayang, sanggup bangun?" tanya Syerkhan.


"Iya," jawab Syifa.


Gadis itu bangun dengan pelan dan, berjalan ke luar menuju mobil Syerkhan, kemudian mereka masuk ke dalam.


"Apa kamu di rumah saja? Sama Dila. Sebab, aku takut melihat kondisimu seperti ini?" tanya Syerkhan dengan cemas.


Syifa hanya diam, karena sekarang dia benar-benar sangat pusing dan, tidak bisa berbuat apa pun.


"Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah mu dan, meminta Dila melihat mu," tambah Syerkhan.


"Euum," sahut Syifa dengan gumam.

__ADS_1


Setelah sampai, Syerkhan membantu Syifa masuk ke dalam rumah dan membawa gadis itu ke kamar.


"Aku pergi dulu," ucap Syerkhan dengan lembut.


"Terima kasih," jawab Syifa.


Syerkhan mendekati Syifa dan mencium puncak kepala gadis itu, kemudian mengelus perut yang masih rata.


Sontak Syifa langsung tersentak bangun, karena dia masih trauma akan sentuhan Syerkhan.


"Tenang sayang, aku hanya menyapa anak kita," ucap Syerkhan sambil bergegas dari sana.


Syifa terdiam, karena pria itu mengatakan menyapa anaknya, yang membuat dia bingung.


"Tidak mungkin aku hamil," ucap Syifa dengan nada bergetar.


Gadis itu cepat-cepat melihat tanggal dan, dia sudah terlambat datang bulan sejak dia Minggu yang lalu. Namun, ia sama sekali tidak menyadari karena terlalu sibuk bekerja.


"Tidak mungkin aku hamil!" teriak Syifa.


Gadis itu langsung memesan alat tes kehamilan dari online dan, menunggu selama sepuluh menit.


Setelah menerima alat tes kehamilan, Syifa langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengunakan benda tersebut.


Setelah satu menit berlalu, hasil ke luar dan Syifa langsung melempar alat tersebut dengan tangisannya.


"Aku tidak mungkin hamil," ucap Syifa dalam tangisannya.


Sebab, ia tidak bisa menerima kehamilan yang tidak pernah dia harapkan. Gadis itu bergegas ke luar dari kamar mandi dan duduk di sofa.


"Bagaimana ini? Jangan sampai ada yang tahu kalau aku hamil, karena aku akan pergi dari sini sejauh mungkin," ucap Syifa dengan lirih.


Gadis itu bersiap-siap, karena dia ingin segera menemui Anggi dan memutuskan hubungan mereka.


Setelah sampai di toko online Anggi, dia langsung masuk ke dalam dan melihat sang pacar tengah duduk bersama Juwita.


"Maaf, aku mengganggu kalian," ucap Syifa pelan.


"Tidak! Masuk ke dalam," ucap Juwita yang bergegas pergi dari sana.


"Syifa, kamu sudah kembali?" tanya Anggi dengan sangat bahagia.


Sebab, selama gadis itu di luar kota, mereka tidak pernah berkomunikasi sekalipun dan sekarang Syifa datang menghampirinya.


"Iya, ada masalah yang penting ingin aku bicarakan," jawab Syifa pelan.

__ADS_1


Anggi langsung menutup pintu ruangannya, dan mereka duduk di sofa. Pria itu langsung diam saat melihat mata Syifa yang terlihat habis menangis.


"Kamu menangis?" tanya Anggi dengan cemas.


Syifa langsung menangis tersedu-sedu, kemudian memeluk Anggi dengan sangat erat. Pria itu langsung mengelus rambut Syifa dengan lembut.


"Sayang, katakan ada apa?" tanya Anggi dengan lembut.


Syifa semakin terisak-isak, saat Anggi menyebutnya dengan kata sayang, karena dia sudah tidur dengan pria lain, walaupun itu bukanlah kemauannya.


"Sayang, ayolah katakan, jangan seperti ini!" pinta Anggi, karena dia tidak bisa melihat wanita menangis.


Syifa mencoba untuk menenangkan dirinya, dan melepaskan pelukannya untuk yang terakhir kali. Sebab, setelah ini pasti mereka tidak akan bisa bersama.


"Aku ... aku ... " Syifa tidak bisa meneruskan ucapannya, karena dia sangat takut.


"Iya, ada apa?" tanya Anggi sambil menghapus air mata Syifa yang masih berjatuhan.


"Aku ... hamil," ungkap Syifa.


Anggi langsung terdiam dan, menatap wajah Syifa dengan dalam. Sebab, mencium gadis itu saja dia tidak pernah dan, sekarang Syifa hamil?


"Hamil?" tanya Anggi dengan nada bergetar.


"Maafkan aku Anggi, aku benar-benar minta maaf. Sebab, semua terjadi bukan karena kemauanku, aku di jebak," jawab Syifa dengan tangisannya.


Anggi langsung lemas, karena sang kekasih yang selama ini di jaga telah kehilangan kehormatan dengan pria lain.


"Aku akan tetap menikahimu, karena acara pernikahan kita sudah selesai 90 persen," ucap Anggi dengan lembut.


"Tidak! Kita tidak bisa menikah," jawab Syifa.


Gadis itu semakin terisak-isak, saat Anggi mengatakan acara pernikahan mereka sudah selesai hanya tinggal dijalankan.


"Kenapa? Bukankah, kamu bilang kamu di jebak, aku siap menikahimu dan menjadi ayah untuk anakmu," ucap Anggi dengan lembut.


Syifa bangun kemudian terjatuh, karena dia merasa sangat pusing dan Anggi membantu gadis itu bangun.


"Katakan, siapa pria bajingan itu?" tanya Anggi.


Syifa semakin terisak-isak, karena dia tidak sanggup mengatakan pada Anggi kalau sang papa yang telah merenggut kesuciannya.


"Katakan!" bentak Anggi untuk yang pertama kali. Sebab, dia sangat marah dan ingin tahu siapa pria bajingan itu.


"Papamu," jawab Syifa dengan cepat.

__ADS_1


Jantung Anggi seakan berhenti berdetak, karena pria yang sangat di sayang selama hidupnya, tega meniduri wanita yang sangat ia cintai.


BERSAMBUNG.


__ADS_2