
Syifa heran melihat Syerkhan hanya diam saja, saat ia berbicara dan gadis itu pun langsung memegang tangan sang suami dengan lembut.
"Kenapa Om diam, apa Om tidak akan datang di acara pernikahan Anggi?" tanya Syifa sambil menatap wajah sang suami.
Syerkhan langsung menatap wajah istrinya, kemudian ia tersenyum. Sebab, gadis itu sudah tidak jaga jarak lagi dengan dia seperti sebelumnya.
"Tentu saja aku akan hadir di acara pernikahan putraku, mana mungkin aku tidak datang," jawab Syerkhan dengan lembut.
Pria itu pun memegang perut sang istri dan juga, mengelus-ngelus perut Syifa yang masih rata dengan lembut.
"Apakah anak papa hari ini rewel, membuat Mama kesulitan?" tanya Syerkhan dengan lembut.
"Tidak apa-apa, hari ini adik benar-benar sangat baik tidak rewel dan, tidak merepotkan mama sama sekali," jawab Syifa dengan suara khas anak kecil.
Membuat Syerkhan tersenyum, kemudian mengelus-ngelus rambut gadis itu dengan lembut.
"Kenapa sekarang kamu ceria, apakah ada sesuatu yang membuatmu bahagia?" tanya Syerkhan dengan lembut.
"Tidak ada, Syifa hanya merasa sudah membaik, mungkin ini bawaan bayi," jawab Syifa dengan lembut.
Padahal, gadis itu pun merasa aneh kepada dirinya sendiri. Sebab, ia merasa sangat nyaman berada di dekat Syerkhan dan, tidak membenci pria itu seperti sebelumnya.
"Oh benarkah?" tanya Syerkhan dengan lembut.
"Tentu saja benar, mana mungkin Syifa berbohong. Sebab, selama ini tidak pernah berbohong kepada Om Syerkhan," jawab Syifa dengan cepat, ia tidak ingin ketahuan oleh sang suami.
Kalau ia senang berlama-lama seperti ini ada di dekat pria itu. Sebab, dia sangat tenang jika menghirup aroma tubuh Syerkhan yang belum mandi.
"Pasti Om belum mandi, 'kan sekarang?" tanya Syifa dengan lembut.
Syerkhan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, karena sang istri tahu dia belum mandi sama sekali sejak pagi.
"Oh iya, Om kenapa pagi tadi berangkat ke kantor tidak berpamitan dengan Syifa? Bahkan, tidak membangunkan Syifa. Padahal, Syifa ingin sekali membuatkan sarapan pagi?" tanya Syifa kepada sang suami.
Lagi-lagi Syerkhan tersenyum, sebab Syifa sudah bersikap seperti sebelumnya merasa tidak memiliki jarak.
__ADS_1
"Om takut mengganggu kamu yang sedang istirahat, maka-nya om pergi tanpa berpamitan dan, maaf kalau aku tidak membuatkanmu susu pagi ini, sebab tadi ada meeting penting," jawab Syerkhan dengan lembut.
Syifa menganggukan kepalanya, kemudian dia tersenyum. Sebab, sudah mengetahui apa penyebab sang suami tidak berpamitan padanya tadi pagi.
"Kalau begitu aku mandi dulu, karena tubuhku sudah sangat lengket dan bau keringat," ucap Syerkhan sambil beranjak bangun.
Syifa merasa sedih. Sebab, ia kehilangan moments kebahagiaannya karena Syerkhan akan mandi dan, aroma tubuh pria itu sudah berubah.
'Ya, Om Syerkan mandi. Tapi, aku tidak mungkin mengatakan kepadanya kalau aku sangat suka mencium aroma tubuhnya yang belum mandi. Sebab, aku tidak ingin dia berpikir jika aku menyukainya. Padahal, ini hanya keinginan calon anaknya,' batin Syifa lirih.
Setelah Syerkhan masuk ke dalam kamar mandi, Syifa pun bergegas menyiapkan perlengkapan sang suami, tanpa dipinta. Sebab, ia ingin mengerjakan tugas itu.
"Tidak masalah, karena besok pagi aku masih bisa mencium aroma om Syerkhan yang belum mandi dan, sudah berbau keringat," ucap Syifa dengan sangat bergembira.
Entah mengapa gadis itu senang sekali jika mencium aroma tubuh sang suami yang belum mandi. Padahal, sebelum hamil hal itu sama dibencinya dan, sekarang menjadi hal favorit untuknya.
. . .
Dua hari kemudian . . .
Syifa terlihat cantik dengan balutan dress yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Bahkan, perut buncitnya juga sudah mulai tertonjol.
"Om bisa minta tolong tidak? Syifa tidak bisa menaikkan resleting ini," ucap Syifa dengan lembut.
Syerkhan langsung menoleh dan, Syifa pun menunjukkan resleting yang tidak bisa ia jangkau.
"Baiklah om akan menaikkannya," jawab Syerkhan sambil berjalan menghampiri Syifa.
Kemudian, pria itu pun menaikkan resleting gadis itu dan, mereka pun bergegas pergi. Sebab, sudah terlambat di acara pernikahan Anggi.
. . .
Dila tersenyum saat melihat Juwita yang terlihat sangat cantik, mengenakan gaun pengantin berwarna putih juga menggunakan mahkota, yang memperlihat dirinya bak seorang ratu kerajaan.
"Kamu benar-benar sangat cantik sayang, Anggi sangat beruntung bisa memilikimu," ucap Dila dengan lembut.
__ADS_1
Juwita tersipu malu dan pipinya pun merona, karena pujian dari Dila. Kemudian, Juwita pun menghampiri calon mertuanya.
"Tante juga terlihat sangat cantik hari ini, menggunakan dress yang kami pilihkan. Bahkan, tidak terlihat usia 40 tahun," ucap Juwita dengan lembut.
Dila tersenyum, karena Juwita hanya menggodanya saja. Sebab, ia sudah tidak seperti umur 40 tidak terlihat masih muda.
"Sudahlah, ayo kita turun sudah pasti Anggi menunggumu di bawah dan, kita akan menyambut para tamu undangan sambil menunggu kedatangan Syifa," ucap Dila dengan lembut.
Juwita tersenyum, kemudian dia pun mengikuti sang mertua turun ke bawah. Sebab, para tamu undangan sudah berhadiran.
Sampainya mereka di tangga, terlihat Anggi sudah menunggu kedatangan Juwita, tampak pria itu menggunakan jas berwarna hitam terlihat sangat tampan.
"Lihatlah sayang, suamimu itu sangat tampan bukan? Sama seperti mamanya ini, terlihat sangat cantik?" bisik Dila di telinga Juwita.
Gadis itu hanya menganggukkan kepala. Sebab, ia benar-benar sangat malu terus menerus dipuji sang mertua.
"Benar sekali Tante, kalian berdua terlihat cantik dan tampan. Bahkan, om Syerkhan juga tampan, sebab itu ketampanan Anggi sangat sempurna," ucap Juwita tanpa sadar sudah memuji Anggi.
Dila tersenyum, kemudian dia pun membisikan sesuatu di telinga gadis itu. Sontak, membuat Juwita langsung tersipu malu. Entah apa yang dibisikan oleh Dila kepada calon menantunya yang pasti hal itu membuat Juwita benar-benar sangat bahagia.
Mereka berdua pun turun perlahan dan, disambut oleh Anggi, kemudian pria itu membawa Juwita duduk di kursi mereka.
"Elo, kelihatan ganteng banget tahu," bisik Juwita di telinga Anggi.
Anggi tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya. Karena, dia sudah tahu kalau ia tampan membuat Juwita benar-benar sangat kesal.
"Dasar lo kepedean, gue cuman bohong aja tadi. Tapi, elu emang bener-bener kepedean!" ucap Juwita dengan kesal.
Anggi tersenyum sambil mengganggukan kepalanya, sebab ia tidak ingin berdebat karena hari ini, adalah hari pernikahannya yang ia tunggu-tunggu. Namun, tidak bersama dengan wanita yang ia harapkan.
'Seharusnya hari ini, adalah hari yang paling bahagia untukku. Tapi, semua harus musnah karena keegoan papa, dia lebih memilih kebahagiaan yang ketimbang kebahagiaanku dan mama,' batin Anggi lirih.
Hatinya semakin sakit saat melihat kedatangan Syifa bersama sang papa, terlihat mereka begitu sangat mesra. Bahkan, tidak memperdulikan adanya Dila yang juga ada di sana.
BERSAMBUNG.
__ADS_1