
Hari demi hari sudah dilewati oleh Syerkhan dan Syifa. Pada hari ini mereka berdua akan menghadiri acara pernikahan Dila dan Dilon yang diadakan hotel berbintang lima dengan sangat mangga dan mewah.
Kehamilan gadis itu pun sudah semakin besar dan, mendekati hari persalinan ia juga sudah susah berpergian jauh. Sebab, perutnya yang sudah semakin membesar membuatnya tidak bisa beraktivitas seperti sebelumnya.
"Sayang, hati-hati! Biar aku bantu kamu berjalan aku takut calon bayi kita dan kamu kenapa-napa," ucap Syerkhan dengan lembut.
Syifa tersenyum, karena sang suami sangat perhatian kepadanya juga calon bayi yang ada di dalam kandungannya, kemudian dia pun menerima uluran tangan dari sang suami dan masuk ke dalam.
Sesampainya mereka di dalam, terlihat acara pernikahan yang begitu megah dan mewah bernuansa putri kerajaan, Syifa merasa berada di dalam negeri dongeng karena ruangan itu sama seperti yang ada di dalam film dongeng.
"Pernikahan tante Dila dan om Dilon benar-benar sangat mewah. Bahkan semua terlihat seperti nyata, kita sedang berada di negeri dongeng," ucap Syifa dengan kagum.
Sedangkan Syerkhan hanya terdiam. Sebab,, cara pernikahannya saja tidak semewah pernikahan Dila. Namun, dia tidak memperlihatkan hal itu sebab malu kepada semua orang yang ada di sana, karena banyak juga rekan bisnisnya yang datang menghadiri acara pernikahan itu.
"Sayang, kamu tunggu dulu di sini, aku ingin menyapa rekan bisnisku. Aku tidak akan lama akan segera kembali," ucap Syerkhan dengan lembut.
Syifa hanya menganggukkan kepala, karena dia tidak ingin melarang sang suami pergi untuk menemui para rekan bisnis dan, dia pun memilih duduk di salah satu bangku yang ada di sana.
. . .
Dila merasa malu, karena ia sudah tidak mudah lagi dan harus berpakaian seperti anak yang baru besar. Namum, dia tidak bisa berbuat apa-apa sebab sudah menjadi keinginan calon suaminya.
"Mama itu terlihat sangat cantik kenapa harus malu?" tanya Anggi yang kesekian kalinya.
Sebab, Dila selalu mengucapkan kata malu dan ingin berganti pakaian. Namun, tidak bisa sebab pakaian itulah yang harus dikenakan agar sama seperti pakaian yang dikenakan oleh Dilon.
"Bukankah Mama sudah mengatakan kepada kalian berdua, kalau mama ini sudah tua sudah tidak pantas lagi memakai gaun ini!" jawab Dila dengan tegas.
Karena tahu ucapannya tidak didengar oleh siapa pun yang ada di sana, termaksud anak dan menantunya, mereka berdua sama-sama mendukung para MUA agar ia tidak berganti baju.
__ADS_1
"Mama itu cantik, Juwita benar-benar sangat kagum," tambah Juwita.
Namun, Dila tetap bersih keras tidak mau memakai baju itu dan datanglah Micella ke dalam ruangan pengantin dan, menghampiri wanita baru bayar yang akan menjadi ibu sambung yaitu.
"Kenapa Mama ingin berganti baju?" tanya Micella yang baru saja sampai.
Sontak, Dila langsung menoleh dan ia pun tersenyum kepada gadis kecil yang akan menjadi anak sambungnya sebentar lagi dan, mereka salaman atau satu sama lain.
"Bukankah Mama ini cantik, lalu? Mengapa ingin berganti? Bukankah papa juga sangat menginginkan Mama memakai baju ini?" tanya Micella lagi.
Sebab, ia juga menyukai baju yang dikenakan oleh Dila itu dan ia tidak setuju jika calon ibu sambungnya berganti baju.
"Bukan seperti itu Nak. Tapi, mama tidak senang memakai gaun ini. Apakah mama terlihat buruk?:" jawab Dila dengan pertanyaan.
"Siapa bilang mama itu jelek mengenakan baju itu? Malah, Mama itu saya sangat cantik seperti seseorang ratu kerajaan," jawab Micella lembut.
Dila tersenyum dan, ia pun tidak jadi berganti baju sebab Micella yang tidak menyetujui keinginannya dan, ia pun menuruti permintaan calon anak sambung itu.
Mereka semua ke luar sambil membawa Dila dengan perlahan. Sesampainya mereka di acara pernikahan terlihat Dilon sudah rapi tengah menunggu kedatangan mempelai wanitanya.
Semua mata para tamu undangan tertuju kepada Dila yang terlihat begitu cantik menggunakan, gaun pengantin yang dipilihkan oleh Dilon.
Bahkan, Syifa pun tersenyum melihat Dila yang begitu cantik dan anggun di matanya. Gadis itu pun langsung menghampiri wanita paruh baya tersebut.
"Tante, selamat atas hari pernikahannya. Semoga bahagia sampai akhir hayat dan tidak ada lagi kesedihan di dalam kehidupan Tante," ucap Syifa lirih.
Dila langsung memeluk gadis itu dan mereka pun saling menitihkan air mata, sebab kedua wanita itu juga menjadi korban keegoisan Syerkhan.
"Mama senang kamu datang, mama berharap kamu bisa bahagia bersama suamimu dan kita semua bahagia bersama pasangan masing-masing, tidak ada sakit lagi di hati kita," ucap Dila lirih.
__ADS_1
"Mama jangan menangis, lihatlah make up Mama bisa luntur," ucap Anggi agar mencairkan suasana.
Sontak, membuat Dila langsung tertawa dan begitu juga dengan Syifa, kemudian Dilon datang dan menjemput wanita paruh baya itu menuju tempat mereka menikah.
Setelah sampai, mereka langsung duduk di hadapan pendeta dan semua para tamu undangan juga duduk di bangku masing-masing. Mereka mengucap sumpah dan janji bersama.
Kini Dilon dan Dila, sudah resmi menjadi sepasang suami-istri dan pria itu pun menyematkan cincin berlian berbalut emas ke jari manis Dila.
"Aku benar-benar sangat mencintaimu," ucap Dilon dengan lembut.
Bahkan, pria itu sampai menitikan air mata karena ia sangat senang bisa menikah dengan wanita yang ia cintai. Sedangkan Dila, merasa sangat terharu bisa menikah dengan Cinta pertamanya dulu.
"Dila dan Dilon, selamat untuk pernikahan kalian aku ucapkan sekali lagi selamat untuk kalian berdua, semoga kalian bahagia dan cepat mendapatkan momongan," ucap Syerkhan lembut.
Dila tersenyum, kemudian mereka pun bergegas duduk di meja makan dan makan bersama-sama dengan sangat bahagia. Namun, Micella dan Anggi tidak ada di sana membuat semuanya heran.
"Di mana anakku itu?" tanya Syerkhan kepada Dilon.
"Wku juga tidak tahu," jawab Dilon.
Karena, memang dia tidak tahu dimana keberadaan Putri dan anak sambungnya, membuat Dila cemas dan mengkhawatirkan keadaan Micella.
"Ke mana mereka berdua perginya, kenapa tidak ada yang tahu. Juwita, kamu tidak tahu ke mana suamimu itu pergi?" tanya Dila dengan cemas.
"Tidak tahu Ma, karena sejak kita datang ke sini mereka sudah tidak ada, entah kapan mereka pergi," jawab Juwita.
Saat mereka tengah membicarakan kedua anak itu. Tiba-tiba yang dibicarakan datang dengan membawa buket bunga mawar berwarna merah warna kesukaan Dila.
"Happy wedding Mama dan Papa," ucap Anggi dan Micella bersamaan.
__ADS_1
Dila menitikan air mata, karena ia sangat bahagia kedua anak yang sangat akur dan memberikan merestui pernikahannya dan pria yang dia cintai,
BERSAMBUNG.