
Setelah semua acara selesai, Syerkhan dan Syifa berpamitan pulang karena hari sudah semakin larut. Bahkan tamu undangan sudah tidak ada lagi di sana. Sedangkan Anggi juga ikut pulang bersama sang istri.
Namun, Micella tidak ingin ikut dengan Anggi, melainkan ikut bersama Syerkhan pulang dan, pria paruh baya itu menyetujui keinginan Micella, sebab dia sangat menyayangi gadis kecil tersebut.
"Pa, titip Micella," ucap Anggi lembut.
"Iya Nak, papa akan menjaga Micella seperti anak papa sendiri," jawab Syerkhan.
Anggi tersenyum dan, dia bergegas pergi dari sana, karena sang istri sudah sangat lelah ingin beristirahat. Syerkhan juga bergegas pulang, karena dia ingin segera tidur bersama sang istri.
Namun, dia lupa bila ada Micella bersamanya, sehingga ia tidak sabar sampai di rumah dan, bermanja-manja dengan istrinya. Setelah sampai, Syerkhan membuka mata lebar-lebar saat melihat sang istri bersama gadis kecil tersebut.
'Astaga! Aku lupa, kalau Micella ikut kami,' batin Syerkhan.
Pria langsung bergegas masuk ke dalam sambil membawa Micella yang sudah tertidur pulas. Sedangkan Syifa, berjalan sendiri dengan perlahan, karena dia takut terpeleset dan bayi yang ada di dalam kandungannya kenapa-napa.
Sesampainya di dalam kamar, dia langsung melihat sang suami duduk di sofa kemudian dia pun menghampiri pria itu dan duduk di sampingnya.
"Kenapa sejak tadi Om hanya diam saja? Apakah ada masalah?" tanya Syifa dengan lembut.
Syerkhan langsung menatap wajah sang istri, kemudian menggelengkan kepalanya karena dia tidak ingin menceritakan kejadian memalukan seperti tadi.
'Aku yakin sekali ini pasti, karena faktor umurku yang sudah tua makanya aku sering lupa. Padahal baru saja terjadi. Tapi, aku sudah lupa,' batin Syerkhan.
Syifa memegang pundak sang suami, kemudian mengedipkan matanya ia mengaktifkan bahwa sang suami tidak perlu menjawab ucapannya lagi dan, pria itu pun menuruti keinginan sang istri.
'Sepertinya ada sesuatu hal yang sembunyikan oleh Om Syerkhan. Tapi, entah apa itu, aku juga tidak mengetahuinya, yang jelas aku tidak ingin memaksanya menceritakan yang tidak ingin ia ceritakan,' batin Syifa.
__ADS_1
Mereka berdua bergegas tidur, karena sama-sama merasa sangat lelah, sebab satu harian ini berada di acara pernikahan Dila yang begitu megah dan mewah.
Namun, mereka berdua tidur dengan terpisah sebab Syerkhan tidur di sofa, sedangkan Syifa tidur bersama Micella di ranjang, sebab bila mereka tidur bertiga dalam satu ranjang tidak akan muat.
'Aku merasa senang, karena Dila juga bisa bahagia setelah delapan bulan ini aku sakiti dia. Untungnya dia cepat mendapatkan pria yang mencintainya, tidak seperti diriku hanya bisa menyakiti perasaannya,' batin Syerkhan.
Penyesalan yang datang terakhir sudah tidak ada gunanya lagi untuk Syerkhan, karena sekarang mereka sudah hidup bahagia dengan pasangan masing-masing.
Syerkhan menatap wajah Micella dari jarak jauh, kemudian dia pun mengingat seseorang wanita yang sering ia temui. Namun, ia lupa siapa itu karena wajah Micella sangat familiar sekali di matanya.
"Entahlah sepertinya aku sering melihat wajahnya. Tapi, entah di mana itu karena yang jelas aku sering melihatnya," gumam Syerkhan.
Pria itu terus mencoba mengingat-ingat kembali di mana ia pernah melihat wajah Micella. Namun, ia tidak bisa dan ia pun yang bergegas tidur karena merasa sudah sangat mengantuk dan lelah.
. . .
"Mas, maafkan aku tidak bisa memberikan hakmu malam ini, karena datang bulanku tiba-tiba saat kita ingin melakukan hal itu," ucap Dila dengan lembut.
Dilon tersenyum, kemudian dia pun mengelus kepala sang istri dan mencium puncak kepalanya juga kedua pipi istrinya.
"Aku tidak akan marah akan hal itu, sebab kamu menjadi istriku untuk selamanya bukan untuk malam ini," jawab Dilon dengan bijak.
Dila sangat bahagia bisa memiliki suami yang pengertian seperti Dilon, sebab dulu saat ia menikah dengan Syerkhan, pria itu tidak akan memaafkannya saat hendak mengambil haknya malah dia datang bulan.
'Mas Dilon memang sangat jauh berbeda dari mas Syerkhan, sebab pria itu selalu marah saat aku datang bulan. Padahal, aku tidak meminta bulan itu datang hanya bulan itu datang dengan sendirinya tanpa diundang,' batin Dila.
Mereka berdua bergegas pergi dari sana, karena ingin segera pulang juga menjemput Micella yang ada di rumah Syerkhan. Namun, tidak jadi sebab Anggi melarang dan meminta mereka tetap tinggal di hotel untuk beberapa hari lagi.
__ADS_1
Sebab, Anggi mengira kedua orang tuanya ingin berbulan madu dan menghabiskan waktu bersama. Padahal semua itu tidak terjadi, karena Dila mendapatkan bulan di malam pertamanya.
. . .
Anggi dan Juwita tengah memeriksa kandungan dan, mereka mengetahui calon bayi yang ada di dalam kandungan Juwita sehat beberapa bulan lagi.
Hati Anggi benar-benar sangat bahagia. Sebab anaknya akan terlahir tidak jauh berbeda dari calon adiknya, yang ada di dalam kandungan Syifa dan dia sangat bahagia.
Sebab, sejak dulu ia sangat menginginkan seorang adik dan, sekarang ia akan memiliki kedua adik, yang satu adik sambungnya dan yang satu lagi adik kandungnya. Walaupun mereka beda ibu.
"Sebenarnya Tuhan itu baik, tidak mungkin Tuhan menguji kita di atas kemampuan kita,4 karena lihatlah saat aku kehilangan wanita yang aku cintai dan, sekarang wanita yang aku cintai tumbuh menjadi empat, yaitu kamu, ibuku dan kedua adikku," ucapan Anggi lembut sambil mengelus kepala Juwita.
"Aku juga tidak menyangka bisa menikah denganmu, karena sejak dulu aku sudah menyukaimu. Tapi, kamu sudah bersama dengan Syifa. Jadi, aku tidak berani mengusik hubungan kalian berdua," ucap Juwita lembut.
Karena hal itu sudah ia ketahui sejak lama dan, sekarang barulah ia mendengar kejujuran dari sang istri dan mereka dari rumah sakit, sebab pemeriksaan kandungan Juwita sudah selesai.
Saat di dalam mobil, Anggi langsung mengeluarkan sebuah dompet dan berisi beberapa foto yang membuat Juwita tersenyum, bahagia pria itu menunjukkan foto USG tadi dan, Juwita benar-benar sangat senang karena melihat calon buah hatinya sudah berkembang dengan sangat sempurna.
"Jangan lupa, setelah mama dan papa Dilon pulang kita berikan foto ini kepada mereka, karena pasti mereka sangat senang sebentar lagi akan menimang cucu," ucap Juwita lembut.
"Benar sekali, aku akan menunjukkan foto ini kepada mereka karena mereka sangat senang sebentar lagi akan memiliki cucu, yang sangat tampan seperti aku ini," celetuk Anggi.
"Dasar kepedean!" sahut Juwita.
Anggi tersenyum, kemudian dia pun mengemudikan mobilnya menuju rumah dengan kecepatan perlahan, sebab ia takut istrinya terluka dan calon bayi mereka kenapa-napa.
BERSAMBUNG.
__ADS_1