
Mereka semua memesan makanan yang diinginkan masing-masing dan, Anggi pergi sebentar, karena ada panggilan dari rekan bisnisnya yang harus di angkat. Sedangkan Syifa dan Micella langsung memakan pesanan mereka.
'Anggi bicara dengan siapa ya, kenapa sangat serius?' batin Syifa sambil berpikir.
Syifa dan Micella telah selesai makan makanan mereka, namun Anggi belum juga datang dan, masih menelpon rekan bisnisnya membuat Syifa heran.
"Coba Micella datangi kak Anggi, karena makanannya sudah dingin," ucap Syifa lembut.
"Ha?" jawab Micella.
Sebab, gadis kecil itu baru selesai makan dan, belum terlalu fokus jika diajak berbicara, membuat Syifa harus menjelaskan dengan perlahan dan, Micella paham.
"Baiklah, sekarang Micella datangi kak Anggi," ucap Micella lembut.
Syifa menganggukan kepalanya, kemudian Micella bergegas pergi dari sana menuju tempat Anggi.
"Kak Anggi, kenapa lama sekali? Kata bunda?" tanya Micella dengan polos.
Padahal, Syifa sudah berpesan jangan bawa-bawa namanya, namun gadis kecil itu masih sangat polos. Sontak, membuat Anggi langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Benarkah bunda bicara seperti itu? Lalu, apa lagi katanya?" tanya Anggi sambil melirik ke arah Syifa.
Membuat Syifa merasa tidak enak dan, berpikir bahwa Micella sudah berkata jujur, mengatakan apa saja yang ia ucapkan.
"Kata bunda, Kak Anggi lama sekali, sebab itu Micella disuruh datang. Tapi, jangan bilang-bilang kalau itu bunda yang meminta," jawab Micella dengan polos.
Sontak, Anggi langsung tertawa sambil melirik ke arah Syifa yang terlihat tengah memperhatikan mereka berdua.
"Sudahlah, mari kita ke sana, kasihan bunda sendirian," ucap Anggi lembut.
"Ayo!" jawab Micella dengan girang.
Anggi langsung menggendong Micella dan, membawa gadis itu ke tempat duduk mereka. Syifa langsung menatap wajah Anggi begitu juga dengan pria itu.
'Andai kami bersama, pasti akan seperti ini, Syifa hamil anakku dan, kami memiliki anak banyak,' batin Anggi lirih.
Anggi tidak munafik, dia masih mencintai Syifa, namun terus berusaha agar rasa itu hilang dari hatinya, sebab dia sudah memiliki istri dan, calon buah hati yang masih di dalam kandungan Juwita.
__ADS_1
. . .
Syerkhan sangat bahagia saat melihat baju-baju bayi dari dalam ponselnya dan, dia tidak sabar segera menimang sang anak, yang akan terlahir dua bulan lagi.
"Aku benar-benar tidak sabar, bisa melihat seperti apa wajah anakku nanti, karena Anggi sangat mirip dengan Dila, apakah anakku ini akan mirip Syifa?" gumam Syerkhan.
Pria itu tersenyum saat membayangkan wajah Syifa ada di anak mereka, maka akan sangat cantik seperti gadis itu. Yang membuat hatinya tidak tenang dan menjadi sangat bucin.
"Aaahhh! Aku merindukannya," ucap Syerkhan lirih.
Pria itu tiba-tiba ingat sang istri dan, dia berniat akan menelpon gadis itu, namun belum sempat dia mengambil ponselnya, Syifa masuk bersama dengan Micella menghampirinya.
"Om Syerkhan!" Micella berlari menghampiri pria itu dan, langsung memeluknya dengan lembut.
"Anak gadis om Syerkhan, ada di sini bersama Bunda," ucap Syerkhan lembut.
Pria itu mencium puncak kepala Micella dengan lembut dan, menggendongnya dengan perlahan sambil menatap ke arah Syifa yang hanya diam sejak sampai tadi.
"Micella, apakah Bunda sakit? Kenapa dia diam saja?" tanya Syerkhan pada Micella.
"Apa Bunda sakit? Tapi, tadi sehat saat kita makan bersama kak Anggi!" tanya Micella lembut.
Membuat Syerkan langsung menatap sang istri, begitu juga dengan Syifa, menatap wajah suaminya yang cemberut, karena dia makan bersama Anggi.
"Om, jadi kalian makan siang bersama tanpa om?" tanya Syerkhan dengan lembut.
Namun, terlihat jelas wajahnya sangat tidak suka akan hal itu, membuat Syifa langsung menghampiri sang suami.
"Om, tadi kami bertemu di sekolah dan, Anggi meminta makan bersama dan, Micella tidak ingin menolak," jawab Syifa lembut.
"Tidak!" sahut Micella.
Sebab, dia tidak ingin disalahkan oleh Syifa, karena sebenarnya yang ingin makan bersama Anggi adalah gadis itu.
"Yang mana kebenarannya?" tanya Syerkhan serius.
Syifa menceritakan semua pada Syerkhan dan, pria itu langsung diam, karena dia sangat mempercayai istrinya, walaupun hatinya tidak tenang. Jujur, dia sangat cemburu saat Anggi dan istrinya berdekatan, apa lagi makan bersama tanpa dirinya.
__ADS_1
'Aku harus bersikap wajar, karena tidak mungkin Syifa dan Anggi main belakang,' batin Syerkhan.
"Apa lagi yang kita tunggu? Ayo, ke bioskop!" teriak Micella dengan girang.
Sebab, dia sudah tidak sabar ingin menonton film kartun yang baru tayang hari ini dan, dia menonton bersama keuda orang yang sangat di sayangnya.
"Ayo!" Syerkhan langsung menggendong Micella dan, mereka bergegas pergi menuju bioskop.
Syifa hanya tersenyum, karena dia merasa bersalah dan, tidak enak sudah makan bersama dengan Anggi tanpa Juwita dan Syerkhan, walaupun tadi ada Micella bersama mereka.
. . .
Dilon membeli buket bunga mawar merah yang indah, seperti kesukaan Dila, karena besok hari ulang tahun wanita paruh baya itu, ia ingin terlihat romantis, sebab memberikan hadiah yang indah untuk kekasih hatinya.
"Aku yakin, Dila akan suka dengan buket ini, sebab aku tahu dia tidak akan suka kalau aku membelikan tas mewah atau semacamnya," gumam Dilon.
Pria tahu seperti apa Dila, karena sejak mereka masih remaja sudah bersama, sebab itu dia tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh Dila.
'Walaupun hanya bunga yang aku berikan padanya. Tapi, ada cincin berlian yang aku akan berikan padanya, untuk pertunangan kami,' batin Dilon.
Pria itu langsung bergegas pergi dari toko bunga, karena pesanannya sudah ada dan ia pun membawa buket bunga besar masuk ke dalam mobilnya, kemudian melajukan mobil dengan perlahan menuju rumah Dila.
Sebab, ia ingin memberikan buket bunga itu sekarang, karena besok ia harus ke luar kota untuk seminggu kedepan. Bahkan dia harus menitipkan Micella kepada Syifa dan juga Syerkhan, karena anaknya sendiri yang meminta hal itu.
Setelah sampai di rumah Dila, Dilon pun bergegas turun sambil membawa buket bunga yang sebesar tubuhnya.
Dilon: Keluarlah, aku ada di depan rumahmu.
Dilon langsung menutup sambungan teleponnya dan, menunggu kehadiran sang kekasih hati. Tak berselang beberapa waktu pintu pun terbuka, terlihat wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik ke luar dengan menggunakan baju tidur.
"Aku membelikanmu ini, untuk hadiah ulang tahun besok. Maafkan aku tidak bisa memberikan besok, sebab harus pergi ke luar kota," ucap Dilon dengan lembut.
Dila tersenyum, karena dia sangat haru bisa mendapatkan hadiah seperti ini dari pria, sebab selama menikah dengan Syerkhan, pria itu jarang memberikannya hadiah malah lebih sering memberikannya uang.
"Aku benar-benar sangat menyukainya," ucap Dila lembut.
BERSAMBUNG.
__ADS_1