
Siang ini, Dilon dan Dila sengaja ingin makan bersama di luar, sebab mereka ingin memperkenalkan anak mereka masing-masing, karena pasangan itu berniat akan membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan.
Dila dan Anggi sudah menunggu Dilon di cafe dan, mereka memesan makanan untuk mereka semua sambil menunggu kedatangan pria itu.
"Ma, Anggi pulang saja ya, soalnya malas bertemu anaknya om Dilon," ucap Anggi lembut.
"Tidak boleh, karena kalian akan menjadi kakak dan adik. Jadi, harus saling kenal," jawab Dila.
Anggi pasrah akan ucapan sang mama, yang memintanya agar tetap di sini. Padahal ia malas sekali bertemu dengan anak Dilon, karena dia mengira pasti anak calon papa tirinya akan sangat menyebalkan.
'Semoga saja dia tidak mau menjadi adikku,' batin Anggi.
Pria itu tidak tahu umur calon adiknya, karena sang mama tidak memberitahunya dan, dia pun sama sekali tidak bertanya, sebab Anggi benar-benar tidak peduli.
Tak berselang lama, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga dan, Anggi membuka mata lebar-lebar saat melihat siapa yang datang bersama Dilon.
"Kak Anggi!" pekik Micella.
"Dede Micel!" pekik Anggi juga.
"Loh, kalian sudah saling kenal?" tanya Dilon heran.
"Iya, ternyata kalian saling mengenal," tambah Dila.
Micella duduk bersama papanya dan, mereka saling menceritakan awal mula pertemuan mereka, sontak membuat Dila tertawa, begitu juga dengan Dilon.
Sebab, mereka lucu mendengar pertemuan pertama Anggi dan juga Micella. Mereka semua pun mulai memakan makanan masing-masing dengan perlahan.
Selama makan, Anggi dan Micella saling menatap dan, keduanya tersenyum manis, membuat Dila dan Dilon bahagia.
'Semoga mereka bisa saling menerima, sebab aku tidak ingin berpisah lagi dari pria yang sangat aku cintai,' batin Dila lirih.
Rasa trauma masih ada pada dirinya, karena dia belum bisa melupakan Syerkan yang selama ini menjadi suami yang baik dan, juga ayah yang baik untuk Anggi.
"Papa, Micella mau pipis," ucap Micella lembut.
"Biar kakak saja yang antar," tawar Anggi.
Pria itu langsung bangun dari duduknya dan, mengantarkan Micella toilet dengan menggandeng tangan gadis kecil itu. Jujur, dari dulu, ia sangat ingin memiliki adik perempuan.
Namun, mamanya sudah tidak bisa melahirkan karena merasa trauma akan kelahirannya 25 tahun silam.
"Micel, kakak tunggu di sini ya," ucap Anggi lembut.
__ADS_1
"Iya kak," jawab Micella lembut dan berjalan masuk ke dalam.
Anggi menunggu Micella dan, ada beberapa ibu-ibu yang menghampirinya dengan tatapan marah.
"Ngapain kamu di sini?!" tanya ibu tersebut dengan penuh emosi.
"Menunggu adik saya, emaknya kalau adik saya ilang, ibu mau nganti?" jawab Anggi dengan pernyataan.
"Nyolot ni anak!" seru ibu tersebut.
Saat ibu itu hendak memukul Anggi, Micella sudah ke luar dari dalam kamar mandi dan, menghampiri sang kakak.
"Kak, ayuk Micella sudah selesai pipis," ucap Micella dengan lembut.
"Tuh lihat, ada adik saya," ucap Anggi ketus sambil bergegas pergi dari sana.
Micella hanya diam, karena dia tidak ingin bertanya masalah orang dewasa apa lagi, pria itu baru mau menjadi kakaknya. Sesampainya mereka di meja, mereka duduk kembali ke tempat semula.
"Wah, melihat kalian akur, rasanya papa tidak sabar ingin menikahi Mama Dila," ucap Dilon lembut.
"Lebih cepat akan lebih bagus," sahut Anggi.
Sontak membuat Dila dan Dilon tersenyum secara bersamaan, karena mendapatkan restu dari pria itu.
. . .
Sejak menikah dengan Syifa, Syerkhan selalu kerja dari rumah, dia lebih sering di rumah ketimbang di kantor, hal itu ia lakukan demi bersama istri tercintanya. Padahal Syifa lebih senang bila sang suami pekerja dari kantor.
Namun, sudah menjadi keputusan Syerkan untuk bekerja dari rumah dan, Syifa hanya bisa mengikuti keinginan suaminya.
"Om, apa tidak lapar?" tanya Syifa sambil memakan buah yang ia potong-potong tadi.
"Sebentar lagi sayang, karena ini sedikit lagi selesai," jawab Syerkhan lembut, sambil terus fokus ke layar leptopnya.
Syifa tersenyum nakal dan, langsung berjalan mendekati sang suami, pria itu menyadari kalau istrinya mendekat, sebab dia sudah tahu apa mau sang istri.
"Om, Syifa bantu ya," ucap Syifa dengan lembut.
"Bantu apa?" tanya Syerkhan lembut.
Syifa memegang pundak sang suami dengan halus dan, dia mulai memainkan jari-jarinya menyusui leher Syerkhan. Pria itu hanya dan dan, menikmati setiap sentuhan dari istrinya.
"Mau melakukannya di sini? Sambil bekerja?" tanya Syerkhan lembut sambil memegang tangan Syifa.
__ADS_1
"Boleh, apakah Om akan fukos bekerja?" jawab Syifa dengan tantangan.
"Siapa takut," jawab Syerkhan.
Syifa mulai duduk di pangkuan Syerkhan dan, pria itu melanjutkan perkerjannya sambil menahan hasrat, sebab sang istri sangat lincah bermain dengan Kris Jaka Tarub miliknya.
"Sayang, sepertinya aku kalah," ucap Syerkhan lembut.
Syifa tersenyum dan, mereka melanjutkan permainan di tempat tidur, sebab Syerkan membawanya ke ranjang agar mereka leluasa bermain, di dalam gua lele yang amat licin.
Setelah sama-sama puas bermain, Syifa dan Syerkhan berpelukan dan, mereka berdua tertidur, namun pria itu terbangun. Sebab, dia masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan hari ini juga.
"Gadis ini sangat liar," gumam Syerkhan sambil beranjak bangun dari tempat tidur.
Pria itu berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan, langsung membersihkan diri. Setelah itu, ia kembali mengerjakan tugas-tugasnya. Walaupun Syerkan adalah seorang CEO, tetap saja semua pekerjaan dia yang mengurus.
'Astaga! Aku lupa, besok harus mengerjakan tugas yang masih ada di kantor, sedangkan Edwin meeting hari ini, sudah pasti dia tidak ada di kantor,' batin Syerkan.
Pria itu sudah selesai mengerjakan tugasnya dan, dia bergegas pergi ke kantor, sebab harus mengambil beberapa berkas yang sangat penting. Karena itu, ia tidak mengutus orang mengambil berkas tersebut.
"Maafkan aku, karena pergi tidak berpamitan denganmu," ucap Syerkhan sambil terus berjalan ke luar rumah.
Pada saat Syerkan menyalakan motornya, Syifa terbangun dan langsung berlari menuju jendela, dia melihat suaminya sudah pergi.
"Ya,om Syerkhan pergi tanpa berpamitan," ucap Syifa lirih.
Entah mengapa, sejak beberapa bulan belakangan ini, Syifa menjadi sangat manja, dia ingin sekali diperhatikan Syerkhan setiap waktu. Bahkan, pria itu pergi pun harus berpamitan dengannya.
"Mungkin dia ada masalah, maka itu, pergi tanpa berpamitan," ucap Syifa lirih.
Gadis itu bergegas pergi menuju tempat tidur dan, melanjutkan mimpi yang tertunda tadi, karena terbangun saat mendengar suara motor suaminya.
Namun, saat dia mulai terpejam, ponselnya berdering ada pesan masuk dan, Syifa langsung melihat, tenyata ada pesan dari sang suami.
Syerkhan: Sayang, maaf aku pergi sebentar. Tapi, sebentar lagi aku pulang. Aku mencintaimu.
Syifa tersenyum dan, wajahnya merona karena membaca pesan dari suaminya yang sangat romantis menurutnya.
BERSAMBUNG.
Jangan lupa hampir ya ke novel aku yang ini.
__ADS_1