
Ada rasa kecewa dalam hati Syifa, karena dia mengharapkan permainan panas, namun dia tidak mau mengungkapkan hal itu, sebab merasa malu.
"Kenapa perginya dengan wanita? Padahal Om pria?" tanya Syifa lembut.
Syerkhan tersenyum dan, mengecup kening Syifa dengan lembut secara bertubi-tubi, agar gadis itu marah padanya. Namun, sang istri tidak marah, malah semakin menyukai hal tersebut.
"Ayo lakukan lagi, kenapa berhenti?" tanya Syifa dengan sangat menantang Syerkhan.
Agar mereka melakukan permainan panas di dalam gue lele yang lumayan dingin dan, nikmat. Namun, Syerkhan sama sekali tidak terpancing olehnya kali ini, entah mengapa Syifa pin tidak tahu.
"Kamu di sini saja ya, aku ingin keluar sebentar membeli perlengkapan untuk Micella, karena besok dia sudah sekolah dan, kamu tahu?" ucap Syerkhan dan, Syifa mengelengkan kepalanya.
"Dilon, sama sekali tidak memperhatikan apa saja kebutuhan anaknya sekolah. Micella tidak memiliki pensil warna. Padahal papanya konglomerat," tambah Syerkhan.
Syifa tersenyum, karena sang suami sangat memperhatikan Micella. Padahal gadis kecil itu sudah memiliki semuanya. Namun, tidak di bawa selalu olehnya.
"Dia punya semuanya, karena Syifa yang menyimpan tas sekolahnya di kamar," sahut Syifa lembut.
"Lalu, tas yang di kamar kita?" tanya Syerkhan sambil menunjuk tas Micella.
Syifa tersenyum dan, menjelaskan semua pada Syerkhan, kalua itu adalah tas milik Micella yang sudah tidak digunakan lagi, sebab sudah membeli tas baru.
"Aku sudah salah paham," ucap Syerkhan.
Pria itu terkekeh, karena dia mengira Dilon tidak pandai mengurus anak, sampai tidak memperhatikan keperluan Micella sekolah.
Satu Minggu kemudian . . .
Pada lagi ini, Dilon sudah pulang dan mengambil Micella dari rumah Syerkhan dan, pria itu juga pergi keluar kota. Syifa terpaksa tinggal di rumah bersama dengan pembantu, karena dia tidak mungkin merepotkan orang lain.
Lagi pula, Syerkhan pergi hanya satu malam besok sudah kembali, karena itu Syifa tidak mau merepotkan orang untuk menjaganya.
"Rumah ini sunyi saat tidak ada siapapun, hanya aku dan para pembantu di sini," gumam Syifa lirih.
Syifa menyibukkan dirinya dengan menyiram tanaman yang dia tanam, agar tidak merasa sunyi, walaupun di sana banyak para pembantu.
. . .
Syerkhan baru saja sampai di Banda Aceh dan, dia bersama dengan Merlin langsung menuju ke proyek pembangunan yang sudah selesai, untuk melihat bagaimana perkembangannya.
"Pak Syerkhan, apa bisa besok malam kita makan bersama anak Bapak?" tanya Merlin lembut.
__ADS_1
Syerkhan menghentikan langkahnya dan, dia langsung menatap wajah Merlin, karena wanita itu ingin makan malam bersama anaknya.
"Bisa, setelah kita pulang, bisa makan malam bersama anak saya. Tapi istrinya sedang mengandung, jadi saya tidak bisa memastikan dia mau atau tidak," jawab Syerkhan.
Merlin tersenyum, karena mendengar Syerkhan sudah memiliki menantu dan, akan segera memiliki cucu. Sedangkan dia, anaknya baru berusia delapan tahun dan, tidak tinggal bersamanya.
"Wah, sebentar lagi Bapak memiliki cucu," ucap Merlin dengan nada rayuan.
Namun, Syerkhan sama sekali tidak tergoda akan rayuannya dan, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju perumahan yang sudah selesai.
"Wah, indah sekali rumahnya," ucap Merlin kagum.
Namun, Merlin sengaja menabrak batu dan, dia pun terjatuh, karena Syerkhan langsung menghindar saat wanita itu hampir terjatuh.
"Aaahhh!" teriak Merlin.
Wanita itu kesakitan, karena dia terjatuh di atas batu-batu yang lumayan tajam. Bahkan bajunya sampai robek akibat terkena batu.
"Ibu tidak apa?" tanya Syerkhan dengan lembut.
"Baik. Tapi bisa bantu saya?" jawab Merlin lembut sambil menahan rasa sakit.
'Ternyata tidak muda membuatnya luluh padaku. Padahal aku ini sangat cantik loh, awet muda juga,' batin Merlin.
Syerkhan melanjutkan kembali perjalanan mereka, menuju perumahan yang sudah seratus persen selesai, hanya tinggal mengisi parang rumah tangga.
"Saya rasa sudah cukup, karena semua sudah kita lihat Bu, sebaiknya kita langsung ke perusahaan. Setelah itu kita pulang," ucap Syerkhan.
"Baik Pak, kita pasti segera pulang kok. Apakah Bapak sudah tidak sabar bertemu dengan anak Bapak?" jawab Merlin dengan pertanyaan.
Syerkhan hanya menganggukkan kepalanya, karena dia tidak mau banyak bicara pada Merlin, yang sangat gatal di matanya.
'Ck, dasar wanita gatal!' gram Syerkhan dalam hatinya.
. . .
Dila tersenyum saat melihat cincin yang diberikan oleh Dilon, di hadapan Juwita dan Anggi juga Micella, karena pria itu serius ingin mempersunting Dila.
"Terima!" teriak Anggi dan Micella bersamaan.
Hal itu membuat Dila menitihkan air mata, karena sangat terharu saat anaknya dan, calon anak sambungnya ingin melihatnya menerima lamaran pria yang sangat dicintainya.
__ADS_1
"Darling will you marry me?" tanya Dilon sambil bersimpuh di depan Dila.
"Yes!" teriak Micella dan Anggi dengan keras.
Sebab, mereka berdua tidak sabar ingin melihat pernikahan kedua orang tuanya, yang sangat di hadapkan.
"Yes," jawab Dila lembut.
"Hore!" teriak Micella.
Gadis kecil itu langsung menghampiri Dila dan, memeluk wanita itu dengan erat, karena dia tidak sabar ingin segera memiliki ibu sambung.
Anggi tersenyum bahagia, karena bisa melihat sang mama tersenyum bahagia seperti sebelum papanya berkhianat.
'Aku bahagia saat melihat Mama bahagia, karena dia adalah separuh nafasku selama ini, bila dia tersakiti, maka aku juga merasakan hal yang sama,' batin Anggi lirih.
Dilon memasangkan cincin ke jari manis Dila, membuat semua anak-anaknya bersorak girang, karena sangat bahagia mereka akan menikah.
"Aku mencintaimu, wahai pemilik hatiku," ucap Dilon sambil mengecup tangan Dila.
"Malu dilihat anak-anak," bisik Dila.
Jujur, dia sangat malu akan perlakuan Dilon dihadapan anak-anak mereka, namun, Anggi dan Juwita juga Micella tidak terganggu sedikit pun, karena mereka bahagia melihat pasangan itu akan menikah.
"Micella senang, karena Mama sebentar lagi akan menjadi istri Papa," ucap Micella dengan polos.
"Kami semua juga senang!" sorak Juwita dan Anggi.
Bahkan, mereka berdua menepuk tangan mereka agar suasana menjadi ramai, memperlihatkan kebahagiaan mereka semua.
Tanpa mereka sadari, ternyata Syifa sejak tadi melihat kebahagiaan mereka semua dari balik jendela, dia tidak berani masuk, karena takut menghamburkan moments keluarga Dila.
"Aku bahagia bisa melihat mereka semua bahagia, karena aku adalah orang yang membuat mereka semua bersedih," gumam Syifa sambil bergegas pergi dari sana.
Gadis itu berjalan sambil menitihkan air mata, karena dia merasa sangat bersalah sudah menjadi perusak rumah tangga calon mertua yang sekarang menjadi suaminya.
"Aku memang korban. Tapi, aku juga bersalah dan, seharusnya aku disebut sebagai plakor," gumam Syifa.
Gadis itu ingin mengunjungi Dila, namun dia malah melihat kebahagiaan dari wanita itu dan, dia melihat pergi, karena tidak mau merusak moments mereka.
BERSAMBUNG.
__ADS_1