Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
61 > Keluarga Kecil


__ADS_3

Dua bulan kemudian . . .


Hari-hari yang dilalui oleh Syifa, sangat membahagiakan baginya, karena dia senang, calon bayi yang ada di dalam kandungannya sudah sangat aktif dan, usia kehamilannya sudah menginjak tuju bulan.


Yang artinya hanya tinggal delapan Minggu pagi, dia sudah bertemu dengan buah hatinya yang sangat dia cintai. Begitu juga dengan Syerkhan ia tidak sabar menanti kelahiran sang anak keuda.


Sebab, dia sangat mendambakan anak, namun sang istri tidak bisa memberikannya anak dan, sekarang dia akan segera mendapat anak lagi dari istri barunya.


"Aku senang, karena Anggi akan memiliki adik perempuan, yang dari dulu aku dambakan," ucap Syerkhan girang.


Ya, Syifa sudah melakukan USG beberapa bulan lalu dan, anak yang tengah di kandungannya perempuan, hal itu sangat membahagiakan untuk keluarga kecilnya.


"Sebaiknya aku pesan atau meminta Edwin, membelikan baju anakku yang sebentar lagi akan terlahir," gumam Syerkhan.


Pria itu memilih baju bayi perempuan dari online shopping, namun dia malah melihat toko sang anak, yang terlihat sangat maju sekarang.


"Aku tidak menyangka, anakku sekarang sukses tanpa bantuan dariku, sedikitpun," ucap Syerkhan bangga.


Awalnya dia tidak menyetujui keinginan sang anak, menjual baju di online shopping, namun Anggi kekeh pada pendiriannya, yang ingin sukses tanpa bantuan siapapun. Karena, ia membangun toko memakai uang hasil kerjanya di pasar.


Walaupun dia anak konglomerat, tetap dia tidak mau memakai uang sang ayah sepeserpun dan, sekarang dia sudah membuktikan ucapannya hanya dua tahun.


"Tapi, aku masih menyesal sudah merebut kebahagiaannya," gumam Syerkhan lirih.


Pria itu kembali mengingat apa yang dia perbuat dan, ia pun berniat akan memperbaiki hubungannya dengan Dila dan Anggi, sebab selama ini mereka hanya bertegur sapa, namun tidak seakrap dulu.


. . .


Anggi terkejut saat melihat Syerkhan membeli baju bayi di tokonya dalam jumlah yang sangat banyak, bukan hanya itu saja, sang papa juga membeli baju bayi laki-laki dan, semua perlengkapannya.


"Anak papa perempuan. Tapi kenapa membeli baju laki-laki juga? Apa, itu untukku?" tanya Anggi.


Pria itu langsung meminta semua karyawan menyiapkan pesanan sang papa dan, dia juga memberikan yang terbaik, sebab dia tahu selera papanya seperti apa.


'Semoga papa bahagia dengan keluarga barunya dan, aku juga bahagia dengan kehidupanku yang sekarang, juga mama, dia akan segera menikah dengan om Dilon,' batin Anggi.


Pria itu senang, karena dia sudah bisa melupakan Syifa dan, sekarang dia sudah mencintai Juwita.


"Sayang," panggil Juwita lembut.


"Iya sayangku," jawab Anggi lembut.

__ADS_1


Pria itu langsung menghampiri sang istri yang ada di depan pintu dan, dia pun mencium perut sang istri yang sudah membesar dengan lembut.


"Kenapa ke sini? Bukankah aku sudah pesan, jangan ke sini, tetaplah di rumah," ucap Anggi lembut.


"Aku bosan di rumah," jawab Juwita lembut.


Anggi membawa sang istri duduk di sofa, kemudian dia mencium perut istrinya dan, calon anaknya bergerak-gerak, karena tahu, papanya sedang bermain-main dengannya.


"Anak papa bergerak," ucap Anggi girang.


"Wah, dia tahu papanya ini sangat merindukannya dan, tidak sabar bertemu dengannya," tambah Juwita.


"Benar sekali," sahut Anggi.


Juwita tersenyum dan, mereka pun mengajak bayi yang masih berusia tiga bulan yang belum terlahir, berbicara dengan lembut dan, bercanda tawa bersama.


. . .


Syifa tersenyum sambil mengelus-elus perut yang sudah membesar dan, bayi yang ada di dalam kandungannya sudah bisa bergerak. Bahkan, mendang pun sudah sangat bisa.


"Anak mama aktif sekali, membuat mama tidak sabar ingin bertemu," ucap Syifa lembut.


"Aku diantar supir sajalah, kalua om Syerkhan yang mengantar, kasihan dia masih di kantor," gumam Syifa.


Gadis itu berjalan ke luar kamarnya dan, bergegas pergi menuju sekolah Micella dengan diantarkan oleh supir. Sesampainya di sekolah, Syifa membuka mata lebar-lebar, saat melihat Anggi ada di sana.


"Kenapa dia ada di sini?" gumam Syifa sambil turun dari mobil.


Gadis itu langsung bergegas menghampiri Anggi dan, mereka berdua saling bertegur sapa, tanpa rasa canggung seperti biasanya, sebab keduanya sudah tidak saling mencintai lagi.


"Bagaimana jika kita makan siang bertiga?" usul Anggi.


Sebab, pria itu ingin membawa sang adik makan bersamanya. Ya, Anggi dan Micella sudah sangat dekat dalam beberapa bulan terakhir.


"Baiklah, karena habis ini kami ingin ke kantor papa dan, berjalan-jalan, sebab papa sudah berjanji pada Micella," jawab Syifa lembut.


"Baiklah, aku hanya ingin makan siang denganya, karena sudah beberapa hari ini tidak bertemu," sahut Anggi.


Syifa menganggukan kepalanya, kemudian dia bingung mau duduk di mana sambil menunggu Micella, sehingga Anggi membawanya masuk ke dalam mobil.


"Kamu di sini saja, biar aku yang menunggu Micella," ucap Anggi lembut.

__ADS_1


Syifa menganggukan kepalanya, kemudian dia menelpon supir agar mengikuti mereka terus, sebab dia dan Micella hanya makan siang bersama Anggi, setelah itu akan ke kantor.


Syifa menatap Anggi dari dalam mobil dan, ingatan beberapa tahun yang mereka lalui, langsung teringat jelas olehnya.


"Aku tidak boleh mengingat hal itu, aku harus melupakan semuanya," ucap Syifa.


Gadis itu mengingatkan dirinya sendiri, agar tidak terpancing oleh masalah lalu yang indah pernah dia lalui bersama Anggi, sebab mereka tidak akan bisa bersama sampai kapanpun.


'Aku harus bisa melupakan Anggi, karena sekarang kami sudah bahagia dengan pasangan masing-masing,' batin Syifa lirih.


Tak sadar air matanya jatuh membasahi pipinya, Syifa langsung menghapus air matanya agar Micella tidak melihatnya menangis.


"Bunda!" teriak Micella.


Gadis itu berlari masuk ke dalam mobil dan, memeluk Syifa dengan lembut juga mencium perutnya dengan halus.


"Dede, sebentar lagi kita akan bersama," ucap Micella lembut.


"Benar itu Tante," jawab Syifa dengan suara khas anak kecil.


Membuat Micella tertawa dan, mereka pun saling bercerita bersama, sedangkan Anggi langsung mengemudikan mobilnya menuju restoran favorit Micella.


Tak berselang lama, akhirnya mereka tiba di restoran berbintang lima yang sangat disukai oleh Micella sejak dulu.


"Kak Anggi, mau di gendong sampai dalam," ucap gadis kecil yang masih menggunakan seragam sekolah SD.


"Baiklah," jawab Anggi lembut.


Sebab, dia tidak ingin membuat sang adik kecewa dan marah padanya, bila dia tidak mau mengikuti keinginan gadis kecil itu.


"Terus, bunda bagaimana?" tanya Syifa lembut.


Micella hanya tersenyum saat Anggi mulai menggendongnya dan, mereka bertiga masuk ke dalam seperti keluarga kecil yang sangat bahagia.


"Selamat datang kembali Pak Anggi," sapa karyawan di sana.


"Terima kasih," jawab Anggi lembut.


Mereka bertiga masuk ke dalam dan duduk di bangku yang telah dipesan oleh Anggi tadi, sebelum mereka sampai, sebab pria itu mengenal pemilik restoran tersebut.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2