Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
17 > Tetaplah di sini


__ADS_3

Sepulang kerja, Syifa berniat akan menghampiri Dila di rumah wanita itu, untuk meminta maaf atas malam kelam bersama calon mertuanya. Walaupun itu bukan kemauannya, tetap ia merasa sangat bersalah.


Saat Syifa mencari taksi, mobil Syerkhan berhenti tepat dihadapannya dan pria itu langsung turun dan menghampirinya.


"Ayo kita pulang bersama," ucap Syerkhan dengan sangat lembut.


"Maaf Om, tidak bisa karena Syifa ingin bertemu seseorang," tolak Syifa dengan lembut.


Syerkhan menaikan sebelah alisnya, kemudian memegang tangan gadis itu dengan lembut.


"Aku akan mengantarmu ke manapun, sampai kutub Utara aku siap," ucap Syerkhan dengan sangat mesra.


Syifa langsung menghempaskan tangan Syerkhan, kemudian dia diam dan berpikir sejenak.


"Baiklah, Syifa ikut Om ke rumah. Sebab, Syifa ingin bertemu tante Dila," jawab gadis itu dengan lembut.


Syerkhan tersenyum dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobil dan, supir langsung mengemudikan mobil sampai ke rumah.


Syifa langsung turun, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah Syerkhan dan pria itu masih di dalam mobil. Sebab, ia masih ingin mengantarkan Syifa pulang.


'Ya Tuhan, semoga aku bisa berbicara sama tante Dila,' batin Syifa lirih.


Gadis itu terdiam saat melihat Dila yang tengah duduk di sofa, sambil bermain ponsel. Dengan perlahan dia menghampiri Dila.


"Tante," panggil Syifa dengan lembut.


Dila langsung menatap Syifa dengan tatapan kecewa, kemudian air matanya langsung mengalir deras.


"Ikut aku ke dalam!"


Dila langsung bergegas pergi dari sana menuju kamar dan, Syifa ikut. Setelah sampai di dalam kamar, mereka berdua duduk di sofa saling berhadapan.


"Kenapa kalian tega?!" tanya Dila dengan sangat emosi.


Syifa langsung bersujud di kaki Dila, dengan tangisan yang tidak bisa di tahan lagi. Membuat Dila semakin sakit hati.


"Teganya kalian melakukan hal itu, tanpa memikirkan kami!" seru Dila dan, dia menjelaskan Syifa dengan kasar.


"Kau adalah wanita murah! Aku mengira, kau adalah bidadari. Tapi, ternyata kau hanya sebatas sampah!" teriak Dila dengan sangat sedih.


Syifa semakin terisak-isak, karena wanita yang sangat di sayang membentaknya. Bahkan, mencaci maki dirinya.

__ADS_1


"Tante, maafkan Syifa semua ini bukan kemauan Syifa. Tapi, om Syerkhan menjebak Syifa," ucap Syifa sambil terisak-isak.


Dila semakin terisak-isak, karena semua bukan kesalahan Syifa melainkan murni kesalahan sang suami.


"Maafkan Syifa Tan, jujur Syifa sangat mencintai Anggi dan Syifa berjanji akan pergi sejauh-jauhnya dari keluarga Tante," ucap Syifa lirih.


Dila menangis sejadi-jadinya, karena dia masih sangat menyayangi Syifa, walaupun gadis itu sudah tidur bersama suaminya.


"Nak, mama sangat menyayangi kamu. Tapi, bagaimana dengan Anggi, karena mama tahu semua ini adalah kesalahan papa," ucap Dila dengan lirih.


Wanita itu langsung menghampiri Syifa dan memeluk gadis itu dengan sangat lembut dan, mereka berdua saling mengisi nasib yang tidak berpihak pada mereka.


Mereka berdua adalah korban Syerkhan, yang hanya mementingkan egonya sendiri tidak memikirkan mereka.


"Maafkan Syifa Ten, karena menjadi penghancur rumah tangga Tante dan om Syerkhan. Andai saja Syifa tidak masuk ke dalam keluarga ini, pasti semuanya tidak akan terjadi," ucap Syifa dengan lirih.


Gadis itu merasa sangat bersalah, karena Dila sangat baik padanya, sampai tidur dengan suaminya pun wanita tidak terus menyalahkannya dan, membela yang benar.


"Jangan bicara seperti itu! Kamu, adalah putri ku akan selalu menjadi anakku," ucap Dila dengan air mata yang mengalir deras, tidak ada hentinya.


Syifa semakin kuat memeluk Dila, karena wanita itu benar-benar sangat baik padanya, sampai maafkan kesalahan terbesarnya.


Dila menggelengkan kepala, karena dia tidak setuju Syifa pergi dari kehidupannya dan, juga berpikir sang suami harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya.


"No! Stay here/ Tidak! Tetaplah di sini," pinta Dila degan lirih.


"Tapi, Syifa akan tetap pergi," jawab Syifa dengan lirih.


"No! do not go," pinta Dila dengan sangat sedih.


Walaupun Syifa dan suaminya sudah melakukan hubungan terlarang, dia tetap menyayangi gadis itu, karena Syifa hanya menjadi korban dan tidak berhak di hakimi.


Syifa terdiam, kemudian menganggukkan kepalanya karena menolak akan percuma baginya. Sebab, dia akan tetap pergi sejauh-jauhnya.


"Syifa pamit dulu, Tante." Syifa mencium Dila dengan lembut dan memeluk wanita itu.


"Stay here,/Tetaplah di sini," ucap Dila dengan lembut, dan Syifa menganggukkan kepala.


Syifa menghapus air matanya, kemudian bergegas pergi dari sana, karena Syerkhan sudah menunggunya.


'Hati Tante Dila sangat baik, sampai dia dengan muda memaafkan aku,' batin Syifa lirih.

__ADS_1


Gadis itu masuk ke dalam mobil dan, duduk di samping Syerkhan kemudian pria itu menghapus air mata yang masih berjatuhan.


"You're good?" tanya Syerkhan dengan lembut.


"Ya," jawab Syifa.


Gadis itu langsung membuang pandangannya, karena dia tidak tahan menatap wajah Syerkhan.


'Setelah semua proyek selesai, aku akan langsung pergi jauh dari keluarga Om Syerkhan,' batin Syifa.


Selama di perjalanan, Syifa dan Syerkhan sama-sama diam tidak bersuara sedikitpun. Sebab, hati gadis itu sedang kacau dan, pria itu juga mengerti.


'Sepertinya aku harus membujuk Dila, agar aku dan Syifa segera menikah,' batin Syerkhan.


Setelah sampai, Syifa langsung turun dan Syerkhan bergegas pulang. Sebab, lusa mereka akan pergi ke luar kota untuk melihat proyek yang dijalankan oleh Syifa.


. . .


Entah mengapa, hati dan perasaan Anggi seakan tidak tenang sejak tadi pagi dan, memutuskan tidak pulang ke rumah.


Karena, dia tahu orang tuanya pasti bertengkar kalau hatinya tiba-tiba cemas seperti biasanya.


"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa, aku jadi seperti ini?" tanya Anggi dengan bingung.


Karena, banyak sekali yang tengah di pikirkan pria itu, dari Syifa yang mulai berubah dengannya dan, papa juga mamanya tengah bertengkar.


"Aaahhh!" pekik Anggi sambil memegang dada yang terasa sangat nyeri.


"Ya Tuhan, tolong hilangkan rasa sakit ini," ucap Anggi dengan pelan.


Wajah pria itu mulai memucat dan dia langsung secepatnya minum obat, kemudian menidurkan tubuhnya di sofa.


"Kasihan sekali dia, semua keluarga tidak tahu bila dia tengah sakit," ucap Juwita dengan lirih.


Gadis itu bergegas pergi dari sana, karena dia harus pulang dan meninggalkan Anggi sendiri. Sebab, pria itu tidak mau di temani olehnya.


"Aku sangat kesal pada Syifa, karena dia sama sekali tidak mengetahui pacarnya sakit. Apa saja pekerjaannya!" geram Juwita, karena dia sangat mencintai Anggi dari dulu.


Sampai dia rela tidak bekerja di perusahaan yang menjanjikan gaji besar, hanya untuk bersama dengan Anggi setiap waktu.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2