Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
66 > Tidak tertarik


__ADS_3

Keesokan paginya . . .


Pagi ini, Syerkhan sudah bersiap-siap, karena dia ingin bertemu rekan bisnisnya yang ada di cafe tempat mereka akan bertemu. Setelah sampai, pria itu langsung bergegas turun dan masuk ke dalam.


Terlihat seorang wanita memakai baju berwarna putih dan kaca mata, membuat wanita tersebut terlihat begitu cantik dan mempesona.


Namun, Syerkhan tidak tertarik pada wanita itu dan, dia pun langsung duduk disebelah sang rekan bisnisnya.


"Pagi Bu Merlin," sapa Syerkhan dengan lembut.


"Pagi juga Pak Syerkhan," jawab Merlin lembut sambil membuka kaca matanya.


Syerkhan memulai meeting mereka dan, saling berkenalan, karena wanita itu adalah istri rekan bisnisnya yang mengelola pembangunan di Banda Aceh, namun sayang sekali umur beliau tidak lama dan, meninggal dunia beberapa bulan lalu.


"Ya, begitulah Pak. Padahal saya baru menikah dengan suaminya satu tahun yang lalu dan, saya sengaja meninggalkan anak dan mantan suaminya, hanya demi dia," ucap Merlin lirih.


Namun, Syerkhan tidak ibah karena dia sama sekali tidak tertarik pada wanita yang ada di hadapannya itu.


"Sepertinya, bulan depan kita harus ke Banda Aceh, untuk melihat proyek yang sudah selesai, saya juga ingin memperkenalkan Anda pada rekan bisnis kita yang ada di sana," ucap Syerkhan lembut.


Wanita itu tersenyum dan, menganggukkan kepalanya mengerti apa yang diucapkan oleh Syerkhan tadi.


'Pria ini tampan sekali dan, aku rasa dia seumuran dengan mas Dilon,' batin Merlin.


Wanita itu terus-menerus menatap wajah Syerkhan, selama meeting mereka berlangsung sampai selesai, karena dia sangat tertarik pada rekan bisnis sang suami.


"Saya pamit undur diri, sampai berjumpa di lain waktu," ucap Syerkhan lembut.


"Terima kasih," jawab Merlin lembut.


Syerkhan bergegas pergi dari sana. Sedangkan Merlin masih duduk sambil menunggu seseorang datang. Tak berselang beberapa menit, ahkirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.


"Maaf sudah membuat Anda menunggu saya, karena ada sedikit masalah dijalan tadi," ucap Anggi lembut.


"Tidak masalah," jawab Merlin.


Anggi langsung duduk dan, memberikan beberapa poto busana yang diinginkan oleh Merlin. Ya, wanita itu memesan baju pada Anggi, karena dia sangat menyukai model-model yang ada di toko pria itu.


"Aku suka semuanya dan, aku pesan semua ini," ucap Merlin lembut.

__ADS_1


Anggi langsung tersenyum, karena dia mendapatkan pesanan yang lumayan banyak dari Merlin. Bahkan wanita itu, ingin memesan lagi setiap Minggu dengan jumlah yang sama, namun lain model.


"Terima kasih banyak, sudah mempercayakan saya Nyonya," ucap Anggi dengan sangat bahagia.


"Sama-sama, aku sudah tahu kualitas baju yang kamu jual, dari suami saya, karena dia sering membeli baju saya di toko baju kamu," jawab Merlin.


Sontak, membuat Anggi terkejut, karena seingatnya tidak mengenal Merlin, namun wanita itu mengenalnya?


"Maaf. Tapi, saya tidak mengenali Anda," ucap Anggi lembut.


Merlin tertawa, kemudian dia memperlihatkan Poto sang suami pada Anggi, membuat pria itu langsung tersenyum, karena dia baru tahu istri dari pelanggannya.


"Maaf Nyonya, saya tidak tahu kalua beliau adalah suami Anda," ucap Anggi lembut.


Ada rasa tidak enak saat dia mengucapakan hal itu, karena dia berpikir ucapan seperti itu tidak sopan.


"Tenang saja! Aku, tidak marah padamu, karena wajah kamu tidak mengenali aku, sebab suamiku tidak pernah membawa istrinya berpergian," jawab Merlin lembut.


"Terima kasih Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Anggi lembut.


Merlin menganggukan kepalanya, kemudian Anggi bergegas pergi dari sana, karena dia harus menemani sang istri di koto. Ya, beberapa hari ini, toko baju mereka sangat ramai pesanan. Bahkan satu hari mencapai ribuan pict baju terjual.


Merlin sangat familiar sekali dengan wajah Anggi, namun dia lupa pernah melihat pria itu di mana.


. . .


Syerkhan duduk di dalam mobil, yang ia parkiran ditepi jalan, karena dia menuggu seseorang lewat. Pria itu memegang ponselnya sambil terus menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB.


"Aku yakin, pasti dia lewat sini. Tapi, sejak tadi tidak ada," gumam Syerkhan.


Pria itu menunggu Anggi lewat jalanan yang berdekatan dengan rumah sang anak, namun pria itu sama sekali tidak lewat.


"Aku terlambat, apa dia sudah pergi?" gumam Syerkhan lagi.


Ya, pria itu merasa cemburu pada sang anak yang sudah dekat dengan Syifa, beberapa hari ini dan, dia berniat membuntuti ke mana saja anaknya pergi dan, bertemu dengan siapa.


"Sudahlah, sebaiknya aku lihat Syifa, apa dia di rumah, atau tidak." Syerkhan langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Karena dia sangat cemas akan sang istri, yang berada di rumah sendiri, walaupun lebih tepatnya Syerkhan takut istrinya pergi dengan Anggi. Setelah sampai, dia langsung turun dan, bergegas masuk ke dalam.

__ADS_1


"Sayang!" teriak Syerkhan.


Pria itu terus berteriak-teriak dan, masuk ke dalam kamarnya, terlihat Syifa baru selesai mandi, dia pun menghampiri sang istri dengan terburu-buru.


"Sayang, aku pikir kamu pergi," ucap Syerkhan lembut.


Namun, ada kecemasan dalam dirinya. Entah mengapa hal itu sudah ia rasakan sejak beberapa bulan terakhir ini, saat hubungan Syifa dan, Anggi mulai membaik.


"Ada masalah?" tanya Syifa lembut.


Gadis itu merasa tidak nyaman akan kecemasan Syerkhan yang terlalu berlebihan. Bahkan sampai menyadap ponselnya.


"Ada," jawab Syerkhan cepat.


"Apa?" tanya Syifa sambil menatap wajah Syerkhan.


Pria itu membawa sang istri duduk di bibir ranjang, kemudian mulai menghela nafas panjang, karena dia harus mengungkapkan yang sebenarnya.


"Aku cemburu padamu dan, juga Anggi," ungkap Syerkhan.


Sontak, membuat Syifa terkejut akan ucapan sang suami. Padahal niatnya tidak ada merindukan Anggi sedikit pun, karena dia memang sudah belajar melupakan pria itu sepenuhnya.


"Kenapa bicara seperti itu?" tanya Syifa lagi.


"Karena aku cemburu. Sudah aku katakan tadi, kalau aku cemburu!" jawab Syerkhan tegas.


Syifa menggelengkan kepalanya, karena dia tidak menyangka suaminya bisa berpikiran seperti itu. Ya, walaupun memang dia dan, Anggi pernah memiliki hubungan selama 12 tahun.


"Lalu, apa yang harus Syifa lakukan? Bukankah Om tahu, kalau kesucian Syifa hanya Om yang merasakan. Apakah hal itu, Om meragukannya?" jawab Syifa dengan pertanyaan.


Syerkhan terdiam, karena dia mengingat kalau Syifa masih perawan saat dia bermalam dengan gadis itu dan, pikirannya yang sekarang, benar-benar tidak bisa dimaafkan oleh Syifa.


"Sayang, maafkan aku. Apakah aku salah? Cemburu padamu dan, Anggi?" tanya Syerkhan lembut.


"Tidak! Tapi, cara Om yang salah, kalau kami masih saling mencintai, kenapa harus diam-diam. Kenapa tidak dari awal saja kami menikah? Karena, memang Anggi mau menikahi Syifa waktu itu," jawab Syifa lembut.


Namun, Syerkhan tertampar akan ucapan gadis itu, sehingga dia hanya diam dan, menatap wajah Syifa dengan lirih.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2