
Dila duduk di bangku cafe, sambil terus menatap ke arah jendela dan, memikirkan perkataan Syerkhan tadi saat menelponnya.
'Semua keputusanku sudah benar, mau jadi apa Syifa nanti saat mas Syerkhan mencerainkan dia, gadis yang masih kecil dan, anakku juga, aku tidak sanggup membayangkan hal itu,' batin Dila lirih.
Wanita itu pun bergegas bangun dari duduknya, saat dia hendak pergi, tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya, sehingga mereka terjatuh bersama dan, Dila berada di atas tubuh pria yang ditabraknya.
"Maafkan aku," ucap Dila.
Wanita itu bergegas bangun dan, membantu pria yang terjatuh dan, mereka saling menatap dengan senyuman masing-masing.
"Dila!"
"Dilon!"
Mereka saling berpelukan, saling melepaskan rindu masing-masing, karena sudah bertahun lamanya tidak bertemu.
Ya, Dila dan Dilon sudah bersahabat sejak mereka masih SMP dan, keduanya putus komunikasi sejak Dila menikah dengan Syerkhan. Sebab Dilon ke luar negeri.
"Aku sangat merindukanmu, sejak kita sama-sama menikah, sudah putus komunikasi," ucap Dilon lembut.
Dila melepaskan pelukannya, kemudian menatap wajah yang sangat dirindukan sejak lama, sebab ia sudah menganggap Dilo sebagai kakaknya.
"Aku sudah bercerai dengan mas Syerkhan," ungkap Dila lirih.
Dilon terkejut mendengar ucapan Dila dan, dia pun membawa wanita itu duduk kembali, kemudian bertanya-tanya masalah sang sahabat.
"Seperti itu, aku dan mas Syerkhan membesarkan Syifa, karena dia gadis yatim piatu. Aku mengira, kedekatan mereka hanya sebagai anak dan ayah. Tapi, aku salah besar, suamiku menyimpan rasa pada anakku dan, dia menghancurkan masa depan anak angkatku," ucap Dila lirih.
Dilon memegang tangan Dila dengan lembut dan, menceritakan semua apa saja yang terjadi saat mereka putus komunikasi.
"Apa!" pekik Dllia dengan sangat tidak percaya.
Sebab, Dilon mengatakan sudah bercerai dengan istrinya beberapa bulan lalu, karena sang istri memiliki pria idaman lain.
"Sabar, sekarang kamu sudah memiliki anak yang seumuran dengan anakku," ucap Dila lembut.
"Tidak, umurnya masih delapan tahun, sebab setelah menikah istriku meminum pil kontrasepsi, sehingga aku memikirkan cara agar dia hamil dan, saat anakku lahir dia langsung berubah," ungkap Dilon lirih.
Dila tidak menyangka, karena selama 20 tahun Dilon menikah, istrinya sama sekali tidak mencintainya.
"Jadi, anakmu masih SD?" tanya Dila dan, Dilon menganggukkan kepala.
Mereka berdua bercerita bersama sampai bertukaran nomor telepon dan, sama-sama pergi, sebab memiliki kesibukan masing-masing.
__ADS_1
. . .
Syifa menatap wajah sang suami dengan lirih, setelah mereka selesai melakukan olahraga panas bersama. Gadis itu sampai menitihkan air matanya.
'Kenpa saat aku mulai menyukainya, om Syerkhan malah ingin mencampakan aku?' batin Syifa lirih.l
Gadis itu bergegas memakai handuk dan, berjalan masuk ke dalam kamar mandi, kemudian membersihkan dirinya.
Sedangkan Syerkhan, sudah terbangun, karena mendengar suara percikan air sang istri mandi.
"Syifa sudah bangun. Aku heran, melihatnya berubah, apa dia sudah mulai mencintai aku?" gumam Syerkhan sambil bergegas memakai handuk.
Pria itu berjalan menuju balkon dan duduk di bangku, kemudian menatap ke arah langit cerah.
"Mungkin ini yang terbaik, aku dan Syifa terus bersama, sebab Dila tidak mau bersama denganku lagi," ucap Syerkhan lirih.
Syerkhan bahagia, karena Syifa sudah mulai mencintainya dan, ia pun tidak akan kembali dengan Dila, sebab wanita itu akan tetap pada prinsipnya.
. . .
Di meja makan . . .
Syifa hanya diam, memakan sarapannya, walaupun hari sudah siang, sebab ia belum makan pagi.
"Sayang, ada apa denganmu?" tanya Syerkhan lembut.
Syifa langsung menoleh dan, tersenyum manis pada sang suami yang tengah menatap dirinya.
"Tidak ada, hanya menikmati sarapan siang ini," jawab Syifa lembut.
Syerkhan tersenyum dan, langsung bangun, kemudian mencium puncak kepala gadis itu dengan lembut.
"Aku sangat mencintaimu," ucap Syerkhan lembut.
Pria itu kembali duduk dan, kelanjutan sarapannya dengan sangat bahagia bisa melihat wanita yang dicintai, bisa tersenyum manis.
'Kalau semua ini mimpi, aku tidak ingin bangun dan, ingin seperti ini selamanya, bisa saling mencintai,' batin Syerkhan gembira.
Syifa tengah memikirkan cara agar dia bisa terbebas dari pria itu, tanpa jejak sedikit pun, sebab sang suami memiliki banyak anak buah.
'Sepertinya aku harus mencari cara lain, agar Om Syerkhan tidak tahu aku dan anakku pergi ke mana,' batin Syifa.
Gadis itu bersikap biasa-biasa saja. Namun, di dalam pikirannya tengah mempersiapkan kepergiannya dan calon anaknya. Walaupun, itu akan sangat sulit baginya.
__ADS_1
. . .
Juwita dan Anggi baru bangun tidur, sebab semalaman mereka berdua tidak tidur, karena merebutkan tempat tidur Juwita yang kecil, tidak muat bila mereka berdua tidur.
"Juwita, elo tuh Istri gue, sekarang buat sarapan," ucap Anggi sambil beranjak bangun.
Juwita hanya diam, karena dia senang mendengar Anggi menyebutnya sebagai istri, sebab hal itu yang sangat diimpikan sejak dulu.
"Iya, elo mau makan apa? Mumpung masih lengkap, ada ayam geprek dan, ada soto Medan, ada juga kari ayam?" tanya Juwita lembut.
Anggi tersenyum, karena semua makanan yang disebutkan oleh sang istri, adalah makanan kesukaannya.
"Soto Medan aja, karena gue suka banget sama makanan Medan," jawab Anggi lembut.
Juwita langsung bergegas pergi menuju dapur dan, ia mandi terlebih dahulu. Setelah itu, dia pun menyiapkan sarapan untuk sang suami.
"Sudah siap," ucap Juwita lembut.
Anggi terdiam, karena Juwita membawa dua mangkuk mie instan, sedangkan janjinya tadi adalah makanan bukan mie.
"Elo kok bawa mie?" tanya Anggi dengan bingung.
Juwita meletakan dua mangkuk mie ke meja, kemudian dia bergegas duduk di dekat sang suami.
"Ini rasa soto Medan, yang ini ayam geprek," jawab Juwita dengan senyuman manisnya.
Anggi hanya menepuk keningnya, karena sang istri tidak berubah seperti pertama kali ia mengenalnya.
"Elo emang gak berubah," ucap Anggi lembut.
Anggi tersenyum dan, mengelus-elus kepala Juwita dengan lembut, membuat gadis itu tersipu malu, sehingga pipinya merona.
'Ya ampun, Anggi jadi manis banget sama gue, buat gue jadi meleleh aja,' batin Juwita girang.
Gadis itu pun mulai menyantap makanan yang ia buat tadi, bersama dengan Anggi. Pria itu sama sekali tidak keberatan memakan mie instan, sebab dulu ia sering memakannya bersama Juwita.
'Apa bener ya, kalau Juwita suka sama gue? Tapi, kenapa dia gak terus terang aja sama gue?' batin Anggi sambil berpikir.
Pria itu terus-menerus menatap wajah Juwita, karena dia masih tidak percaya, jika sang sahabat baiknya menyukainya. Padahal, mereka sudah seperti kakak dah adik.
"Elo ngiliatin gue?!" tanya Juwita dengan emosi.
Sontak membuat Anggi langsung tersadar dan, menggelengkan kepalanya, karena dia takut sang istri marah.
__ADS_1
BERSAMBUNG.