
Setelah sampai di rumah Syerkhan, Dila melihat mobil mantan suaminya baru juga tiba dan, ia melihat sang anak ke luar dari dalam mobil itu juga. Membuat wanita paru baya itu terkejut, sebab tidak tahu Anggi pergi bersama papanya.
"Aku rasa tadi, Anggi ada di rumah?" gumam Dila sambil menatap sang anak dengan tajam.
"Mama, ada di sini?" tanya Anggi lembut sambil mencium tangan sang mama.
"Bicara di dalam saja! Ada Micella juga di sini," sambung Syerkhan.
Dila menganggukkan kepalanya dan, mereka semua bergegas masuk ke dalam. Kemudian Anggi menjelaskan semua pada sang mama, mengapa dia ikut papanya pergi dan, meninggalkan Juwita di rumah.
"Kalua begitu mama pulang dulu, kamu juga, 'kan?" tanya Dila sambil menatap wajah sang anak.
"Iya Ma, kita pulang sama saja! Tapi, Anggi naik motor," jawab Anggi.
Dila tidak menjawab dan, mereka berpamitan pulang. Sedangkan Syifa, sudah masuk ke dalam kamar sejak Micella datang tadi. Jadi, ia sama sekali tidak tahu Dila sudah pulang.
Selama diperjalanan, Dila terus membuntuti sang anak dari belakang, karena dia takut Anggi tidak pulang dan, Juwita sendirian. Ya, walaupun ada dia rumah itu juga. Namun, ia cemas, sebab menantunya sedang mengandung cucunya.
"Sebenarnya, mereka pergi menemui siapa? Sampai Anggi juga ikut?" gumam Dila.
Jujur, Dila sangat penasaran mengapa Anggi pergi bersama Syerkhan, sebab ia tahu kalau sang anak tidak mau ikut mantan suaminya jalan-jalan. Namun, kali ini sang anak pergi, hal itu membuatnya sangat heran.
"Sudahlah, nanti aku tanyakan langsung pada Anggi pergi ke mana dia tadi sampai meninggalkan Juwita sendirian. Aku pergi menemui Dilon, karena mengira dia ada di rumah," ucap Dila lagi.
Wanita paruh baya itu melanjutkan kembali perjalanan sampai di rumah dan, dia langsung turun ingin mengejar sang anak. Namun, ia terlambat. Anggi sudah masuk ke dalam kamar dan, Dila tidak ingin mengganggu sang anak.
"Besok saja aku temui dia," gumam Dila sambil berjalan menuju kamarnya.
. . .
Micella menceritakan semua pada Syifa, membuat gadis itu tersenyum, karena Micella sangat polos bercerita padanya. Tenteng Dila yang dicium oleh Dilon.
"Sayang, bila papa mengatakan banyak pekerjaan, Micella harus mendengarkan, karena memang benar adanya, papa banyak sekali urusan yang harus dia selesaikan," ucap Syifa lembut.
"Tapi Bunda, sejak kemarin papa terus mengucapkan hal itu pada Micella," ucap Micella.
__ADS_1
Syifa menjelaskan pada Micella tentang pekerjaan seorang pria dan, gadis kecil itu mengerti apa yang dijelaskan oleh sang bunda.
"Jadi, ada yang menangis sampai malam. Hanya karena ingin bertemu Bunda?" tanya Syerkhan yang baru saja tiba.
Sontak, membuat Micella malu dan, dia pun langsung masuk ke dalam pelukan Syifa, agar tidak melihat wajah Syerkhan secara langsung.
"Ada yang malu?" tanya Syerkhan lagi.
Namun, Micella hanya diam menahan malu, karena ucapan Syerkhan. Sedangkan Syifa, hanya bisa tersenyum melihat kelakuan mereka berdua.
"Om, sudahlah! Jangan mengganggu Micella," ucap Syifa lembut.
Syerkhan tersenyum dan, dia pun tidur di pangkuan Syifa, sehingga jaraknya dan Micella berdekatan. Jahilnya kembali meronta-ronta, ingin segera disalurkan. Pria itu pun menyentuh tangan Micella.
Sontak, membuat Micella langsung menoleh dan, dia tersenyum lebar saat melihat pria yang ada di hadapannya juga tersenyum bahagia.
"Berlian om Syerkhan, jangan pernah malu pada Om, karena kamu dan Bunda, adalah berlian yang ada bersama om Syerkhan," ucap Syerkhan lembut.
Micella langsung memeluk Syerkhan dengan lembut, karena dia senang bisa memiliki orang-orang yang didekatnya, sangat menyayangi dia.
Gadis kecil itu senang melihat kebahagiaan diwajah Syerkhan dan juga Syifa, karena dia juga sangat menyayangi mereka berdua, sebagai kedua orang tuanya. Ya, walaupun Dilon sangat menyayangi dia juga.
"Sekarang tidur! Karena, besok kamu sekolah," ucap Syerkhan lembut.
Micella menganggukan kepalanya dan, dia pun bergegas tidur, karena ia tidak ingin melawan perintah dari Syerkhan tau Syifa.
Setelah gadis kecil itu tidur, Syifa dan Syerkhan beranjak dari sana menuju balkon. Kemudian, mereka berdua duduk saling berpelukan dengan sangat mesra.
"Lihatlah bintang yang ada di sana." Syerkhan menunjuk ke langit.
Terlihat banyak bintang yang bersinar terang dan, juga ada bulan yang sangat indah, membuat Syifa ingin memilikinya.
"Om, bisakah bawa bulan itu ke sini? Karena, Syifa ingin memilikinya?" tanya Syifa lembut.
Namun, sangat membuat Syerkhan terkejut dan, tidak bisa berkata-kata, sebab permintaan sang istri kali ini sangat tidak masuk akal. Ingin dia mengambil bulan?
__ADS_1
"Sayang, mintanya bisa yang lain saja tidak? Seperti, Pesawat aku bisa memberikan padamu. Bahkan, malam ini juga aku akan membelinya," ucap Syerkhan lembut.
Syifa menggelengkan kepalanya dan, dia beranjak dari sana masuk ke dalam, sebab kesal sang suami tidak mau menuruti keinginan gilanya.
"Astaga! Aku harus berbuat apa? Bulan, bisakah kau datang dan tenangkan istriku?!" tanya Syerkhan dengan emosi.
Sebab, dia sama sekali tidak bisa menuruti keinginan sang istri yang memintanya mengambil bulan, seperti dikartu Minions yang pernah ia tonton beberapa bulan lalu.
Syerkhan bergegas masuk ke dalam dan, tidur karena merasa sangat lelah setelah aktifasi yang ia lalui satu harian ini. Namun, pria itu tidur di sofa, karena ada Micella di ranjang bersama sang istri.
'Aku rasa, dia masih marah padaku. Apa aku tanyakan saja pada Anggi, mungkin dia bisa membantuku mencuri bulan,' batin Syerkhan.
Pria itu mulai tertidur dan, bermimpi indah. Namun, tidak bersama Syifa, melainkan bersama Dila. Terlihat wanita itu menggunakan baju pengantin.
"Mas, terima kasih sudah menjadi aku istrimu selama ini. Tapi, aku belum bisa menjadi yang terbaik untukmu. Sekarang, kita sudah bahagia dengan pasangan masing-masing," ucap Dila sambil berlalu pergi.
"Tunggu! Tapi, kita masih suami-istri! Kenapa kamu pergi?!" teriak Syerkhan.
Sebab, baru saja dia bercanda tawa bersama Dila. Namun, wanita itu sudah pergi dan, mengatakan mereka sudah bahagia dengan pasangan masing-masing.
Hal itu membuat Syerkhan bingung, kemudian dia melihat Syifa ada di sampingnya dan, memegang tangannya.
"Om, jangan lupa Syifa ingin bulan," ucap Syifa lembut.
Sontak, membuat Syerkhan terkejut dan langsung bangun dari mimpi indah bercampur rasa takut.
"Astaga! Aku mimpi apa tadi?" gumam Syerkhan.
Pria itu melihat sang istri masih tertidur dengan pulas, bagitu juga dengan Micella. Kemudian dia kembali tidur. Namun, tidak bisa, karena terus memikirkan permintaan Syifa yang sangat gila.
'Aaahhh! Sial, aku harus apa kalau sudah begini? Aku tidak ingin anakku nanti ileran, karena keinginannya tidak terpenuhi,' batin Syerkhan dengan gram.
BERSAMBUNG.
Tujuh bab menuju tamat.
__ADS_1