Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
33 > Kasihan


__ADS_3

Pembantu membawakan segelas air putih untuk Syifa, namun saat ia ingin membuka pintu tidak bisa. Sebab, Syerkhan sudah menguncinya.


"Nona, buka pintunya, saya datang untuk mengantarkan air minum," ujar pembantu tersebut.


"Pintu terkunci, apa tidak ada kuncinya di luar?" jawab Syifa dari dalam.


Pembantu itu heran, karena kunci sama sekali tidak ada di luar dan, ia pun berkas pergi dari sana, sebab ingin mencari sang tuan.


Setelah sampai di ruangan kerja Syerkhan, dia langsung mengetuk-ngetuk pintu itu dan terbuka.


"Tuan, Nona Syifa ingin minum, tetapi saya tidak bisa membuka pintu, karena dia mengatakan pintu terkunci," ujar sang pembantu.


"Oh ya, aku lupa tadi yang menguncinya. Berikan kepadaku airnya, biar aku saja yang mengantarkan air ini," jawab Syerkhan dengan lembut.


Pembantu tersebut memberikan air itu kepada Syerkhan dan, bergegas pergi dari sana.


"Ternyata, dia sudah bangun," gumam Syerkhan sambil terus berjalan menuju kamar sang istri.


Setelah sampai, ia pun langsung membuka pintu kamar dan terlihat Syifa memasang wajah kesel kepadanya.


"Ini sayang air minumnya, kamu minumlah dulu," ucap Syerkhan dengan lembut.


Syifa langsung mengambil air dari sang suami dan, langsung meminum air tersebut kemudian menata tajam pria itu.


"Kenapa mengunci pintunya? Syifa tidak akan kabur lagi?!" tanya Syifa dengan sangat kesal.


Syerkhan tersenyum, karena dia senang melihat sang istri marah dan, mengingatkan Syifa akan perkataannya tadi pagi, kalau sang istri kesal ia akan semakin cinta, membuat gadis itu benar-benar sangat kesal.


"Bila tidak ada apa-apa lagi. Aku ingin kembali ke ruangan kerja, sebab masih banyak pekerjaan yang menumpuk," ucap Syerkhan dengan lembut.


Syifa menganggukan kepalanya, karena ia tidak ingin mengganggu pekerjaan Syerkhan dan pria itu pun langsung bergegas pergi dari sana tanpa mengunci pintu kamar.


"Sepertinya, aku harus cepat pergi ke dokter karena aku ingin mencari tahu apa penyebab om Syerkhan seperti ini, apakah dia salah minum obat, ataukah ia terkena virus lain?" gumam Syifa sambil menatap kepergian sang suami.

__ADS_1


Gadis itu mengambil ponselnya, kemudian menghubungi psikolog dan, menanyakan apa saja ciri-ciri gangguan orang yang stres.


Psikolog sudah menjawab pesannya dan, tidak terlihat ciri-ciri Syerkhan yang dijelaskan oleh psikolog, membuat Syifa sangat kesal.


"Entah kenapa, setelah hamil ini aku benar-benar membenci om Syerkhan. Apa karena dia sudah merenggut kebahagiaanku atau, ini juga bawaan bayi yang aku kandung?" tanya Syifa.


Gadis itu pun membanting ponselnya karena kesal kemudian, kembali menidurkan tubuh, sebab ia masih merasa sangat pusing, mungkin karena memang bawaan hamil.


. . .


Syerkhan tersenyum, saat membaca pesan dari Dila, karena sang istri mengatakan akan menggugatnya.


"Aku tidak akan menceraikannya. Tapi, apa boleh buat bila dia sudah memberikanku gugatan, karena aku juga kesal kepadanya sudah membunyikan Syifa dariku," ucap Syerkhan sambil tersenyum simpul.


Pria itu langsung mengutus semua pengacaranya, untuk mengurus perceraian dia dan Dila, sebab ia sama sekali tidak mau turut serta dalam perceraian itu.


..


Anggi dan Juwita mempersiapkan acara pernikahan mereka, karena beberapa tinggal hari lagi. Walaupun, semua sudah di siapkan oleh Anggi dengan matang, namun mereka juga harus memastikan semua berjalan dengan lancar.


"Aku yakin, karena kamu adalah sahabat terbaikku dan kamu tenang saja! Aku, tidak akan menyentuhmu selama pernikahan kita berlangsung," jawab Anggi dengan lembut.


Juwita mengangukkan kepalanya, karena dia tidak bisa berbuat apa-apa, pernikahan mereka hanya sandiwara. Jadi, ia tidak bisa mendapatkan hak sebagai seorang istri yang seutuhnya dari Anggi.


"Aku ingin pria itu dan Syifa tidak menganggap aku bersedih, karena pernikahan mereka, sebab itu aku ingin kita terlihat bahagia saat hari pernikahan kita nanti dan seterusnya," ucap Anggi sambil melirik ke arah luar toko.


"Tidak usah memperlihatkan seperti itu, karena aku yakin mereka pasti tahu kita itu sangat bahagia akan pernikahan kita beberapa hari lagi," sahut Juwita.


Anggi menganggukkan kepalanya, kemudian mereka memberikan undangan, kepada salah satu karyawan di toko Anggi, untuk membagikan semua undangan itu kepada para tamu undangan.


Setelah itu, mereka berdua pun beristirahat, karena dia makan siang sudah tiba. Anggi bersama-sama sang mama makan siang di toko, sebab Dila yang menginginkan hal itu.


"Nggih, mama bisa pulang tidak ke rumah papa? Karena, ingin mengambil baju, lagi pula di toko ini tidak ada baju mama," ucap Dila dengan lembut.

__ADS_1


"Mama tidak bisa pergi ke sana lagi, biarkan saja para pembantu yang mengantar baju Mama, aku tidak akan membiarkan Mama bertemu dengan pria itu!" sahut Anggi.


Dila tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena sekarang ia harus menuruti perkataan anaknya.


'Anggi begitu kesal kepada papanya, apa aku bisa menyatukan mereka kembali?' batin Dila dengan lirih.


Juwita hanya diam, karena ia tidak mau ikut campur dalam urusan keluarga Anggi yang bersifat pribadi.


'Aku diam dan menyimak, karena kalau aku ikut campur Anggi tidak akan suka itu. Padahal aku ingin membantu Tante Dila,' batin Juwita.


Setelah semua selesai maka, mereka pun bergegas pergi karena ingin mengerjakan tugas masing-masing, sedangkan Dila memilih beristirahat karena kepalanya sangat pusing memikirkan semua yang terjadi.


. . .


Keesokan paginya, Syifa terbangun di pagi hari karena ia masa begitu sangat mual dan muntah-muntah. Syerkhan langsung membantu gadis itu karena mereka semalam tidur berdua.


Walaupun tidak ada yang terjadi di antara mereka, sebab Syifa selalu menjaga jarak dan pandai mencari alasan agar Syerkhan tidak menyentuhnya.


"Kita ke Dokter saja, bagaimana?" tanya Syerkhan kepada sang istri.


"Tidak usah Om, Syifa baik-baik saja! Ini memang bawaan hamil," tolak Syifa dengan lembut.


Syerkhan menganggukkan kepalanya kemudian, membantu Syifa berjalan kembali masuk ke dalam kamar dan, mendudukkan garis itu di sofa.


"Maaf, aku hari ini tidak bisa di rumah karena pekerjaan kantor sangat menumpuk, mungkin malam baru kembali, apakah kamu tidak apa di sini sendirian?" tanya Syerkhan kepada Syifa.


Syifa menganggukan kepalanya, karena ia tahu Syerkhan juga mengerjakan tugasnya, sebab belum ada yang menggantikan posisinya sebagai asisten sang suami.


"Maaf Om, Syifa belum bisa bekerja. Apakah sudah mendapatkan penggantinya?" tanya Syifa dengan lembut.


"Sudah jangan dipikirkan hal itu! Aku tidak ingin mendengarkan lagi, karena kamu tidak akan bekerja, kamu sudah menjadi Nyonya di rumah ini," jawab Syerkhan dengan lembut.


Syifa menganggukan kepalanya, kemudian ia bergegas pergi, sebab dia itu sudah terlambat masuk ke kantor, karena membantu gadis itu muntah-muntah sejak tadi.

__ADS_1


"Aku juga kasihan kepada om Syerkhan, sebenarnya karena dia mengerjakan tugasku, tugas itu sangat sulit jika dikerjakan sendirian, sebab aku juga dibantu oleh sekretarisku, sedangkan om Syerkhan, mengajaknya semua sendirian," gumam Syifa.


BERSAMBUNG


__ADS_2