Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
53 > Menghamili Istrinya


__ADS_3

Dila membatu Dilon dan, dia pun mendorong tubuh Anggi dengan tidak sengaja, sebab dia panik melihat Dilon yang sudah berlumuran darah. Bahkan, mereka menjadi tontonan banyak orang yang ada di sana.


"Ma, Mama mendorong aku hanya karena dia?!" tanya Anggi dengan emosi yang meluap-luap.


"Bukan seperti itu sayang. Tapi, kamu melukai Om Dilon," jawab Dila lirih.


"Hanya karena dia, Mama mendorong aku!" Anggi bergegas pergi dari sana dengan keadaan yang emosi.


"Anggi!" teriak Dila.


Wanita paruh baya itu langsung menolong sang kekasih, sebab dia sangat khawatir akan keadaan Dilon dan, ia pun membantunya bangun duduk di bangku yang ada di sana.


"Maafkan anakku, dia salah paham dengan kita," ucap Dila lirih.


"Tidak masalah, nanti aku akan menjelaskannya," sahut Dilon lembut.


Dila langsung memeluk pria itu, karena dia sangat merasa bersalah atas apa yang dibuat sang anak kepada sang kekasih. Padahal ia tahu anaknya tidak pernah memukuli seseorang sampai seperti ini.


. . .


Anggi pulang dengan keadaan marah dan emosi yang meluap-luap, membuat dia lupa kalua di rumah ada Juwita. Pria itu melemparkan benda yang ada di hadapannya dengan sembarang, sehingga mengenai sang istri yang baru saja tiba.


"Aaahhh!" jerit Juwita.


Gadis itu terkena serpihan kaca, sehingga kakinya mengeluarkan darah segar dan, Anggi langsung menghampirinya.


"Maafkan aku, tadi aku tidak sengaja melukaimu," ucap Anggi lembut.


Pria itu langsung membersihkan luka sang istri dengan perlahan. Setelah selesai, dia membawa Juwita duduk ke ruang tamu.


"Maafkan aku," ucap Anggi lagi.


Pria itu benar-benar sangat menyesal sudah melemparkan benda yang ada dihadapannya, sehingga serpihan kaca melukai kaki sang istri.


"Santai aja Ngi, gue juga gak papa sekarang," jawab Juwita lembut.


"Terima kasih, atas pengertiannya," ucap Anggi lembut.


Juwita menganggukan kepala, kemudian mereka bergegas pergi menuju kamar dan, Anggi menggendong sang istri dengan lembut, sebab ia yang sudah melukai gadis itu.


. . .

__ADS_1


Dila merasa sangat cemas, karena sang anak sudah salah paham padanya, mengira dia tidur bersama Dilon di hotel. Padahal mereka hanya bertemu rekan bisnis.


'Tuhan, semoga Anggi bisa mengerti aku dan, dia bisa memaafkan kami, merestui hubungan kami,' batin Dila lirih.


Wanita paruh baya itu hanya diam selama perjalanan, sebab dia benar-benar sangat tidak tenang memikirkan tentang Anggi, entah mengapa, tiba-tiba dia teringat Juwita yang berbeda di rumah bersama sang anak.


"Dilon, lajukan lagi mobilmu, aku tidak tenang memikirkan Anggi dan Juwita," pinta Dila pada sang kekasih.


"Baik, jangan khawatir, sebab aku akan selalu ada bersamamu menjelaskan semua pada Anggi," jawab Dilon lembut.


Dila tersenyum, kemudian Dilon mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah.


Setelah sampai, Dila dan Dilon bergegas turun dan masuk ke dalam rumah, mereka berdua melihat rumah kosong tidak ada siapapun di sana.


"Mungkin, Anggi ada di dalam kamar," ucap Dila pelan.


"Mungkin. Tapi, lihatlah semua barang berserakan, aku yakin ini adalah perbuatan Anggi, karena dia sangat kesal padaku," ucap Dilon pelan.


"Sudahlah, kamu pulang saja, biar Anggi aku yang urus besok," ucap Dila lembut.


Dilon tidak ingin membantah Dila dan, dia pun bergegas pergi dari sana. Setelah kepergian pria itu, Dila berjalan masuk ke dalam kamarnya, beristirahat sejenak sambil memikirkan cara, agar Anggi tidak marah padanya.


. . .


Hari yang dilalui oleh Syifa dan Syerkhan sangat membahagiakan, sebab sepasang suami-istri itu, sudah saling mencintai satu sama lainnya.


Syifa dan Syerkhan sama-sama menyatakan cinta mereka, sehingga keduanya hidup dalam kebahagiaan yang luar biasa, sebab usia kehamilan gadis itu sudah memasuki sembilan Minggu.


Syifa pun tidak pernah ngidam yang aneh-aneh, hanya saja dia selalu ingin mencium aroma sang suami yang belum mandi, sampai pria itu sengaja tidak mandi agar istrinya bahagia.


Pagi ini, Syifa dan Syerkhan tengah sarapan bersama di kolam renang, sebab mereka habis melakukan olahraga di dalam kolam.


"Sayang, minum susumu sampai habis," ucap Syerkhan.


Syifa langsung menoleh dan, dia tersenyum sebab lupa menghabiskan susu dan, malah memakan roti bakar miliknya.


"Syifa lupa Om, karena terlalu lapar," jawab Syifa lembut.


Gadis itu pun langsung menghabiskan susu miliknya yang dibuatnya khusus oleh Syerkhan, sebab itu adalah keinginan Syifa sejak awal kehamilannya.


"Maafkan aku, karena lupa kamu belum makan dan, malah memakan mu saat kita tengah berenang," ucap Syerkhan lembut.

__ADS_1


Syifa tersenyum, karena dia malu pada Syerkhan, sebab tadi ia menginginkan hal itu terulang kembali tanpa rasa malu.


"Tidak apa Om, bukankah istri harus memberikan apa yang suaminya mau," jawab Syifa lembut.


Syerkhan langsung mencium pipi gadis itu dan, mengambil bekas roti yang berserakan di sudut bibir sang istri dengan lembut.


'Astaga! Kenapa, aku sangat menyukainya, apa mungkin ini karena bawaan bayi?' batin Syifa sambil berpikir.


Gadis itu merasa heran, sebab sebelum dia hamil, ia sama sekali tidak tertarik sedikitpun pada sang suami. Namun, setelah hamil jauh berbeda, Syifa sangat menyukai dan mengagumi wajah taman Syerkhan.


"Kenapa diam? Apa kamu mengagumi wajah tampanku ini?" tanya Syerkhan lembut.


Syifa langsung mengelengkan kepalanya, karena tidak mungkin dia berkata jujur pada sang suami, sebab pria itu akan senang sekali mengejeknya.


"Ayolah jujur saja," ucap Syerkhan lagi.


"Tidak!" jerit Syifa lembut.


Gadis itu langsung berenang menjauh dari Syerkhan. Namun, sang suami langsung mengejarnya. Bahkan, berhasil menangkapnya.


"Lepaskan Syifa!" teriak Syifa.


"Tidak akan," jawab Syerkhan.


Pria itu langsung melahap bibir sang istri dengan lembut dan, keduanya menikmati hal itu, tanpa sadar, tenyata Anggi melihat pemandangan yang sangat menyakiti hatinya.


'Apa yang aku lihat ini? Syifa dan Papa, mereka berdua sudah saling cinta,' batin Anggi lirih.


Pria itu langsung bergegas pergi dari sana, sebab hatinya benar-benar sangat hancur melihat pemandangan seperti tadi. Padahal niat datang, ingin memberitahu sang papa, kalau dia akan mengadakan makan malam bersama.


Namun, malah sakit di dalam hatinya semakin terluka dan, semakin parah. Pria itu duduk di bangku taman sambil menitihkan air mata.


"Aku sangat mencintai dia. Tapi, Syifa malah mencinta papaku dengan mudanya dia melupakan masa kami selama 12 tahun," ucap Anggi lirih.


Pria itu belum bisa melupakan Syifa sampai sekarang, walaupun dia berusaha sekuat tenaganya untuk mencintai Juwita.


"Aku harus membuktikan kalau aku sudah melupakan Syifa, dengan cara menghamili Juwita," ucap Anggi dengan pandangan kosong.


Pria itu akan melakukan hubungan suami-istri, agar Juwita hamil dan, dia bisa membuktikan kalau ia sudah melupakan Syifa, dengan cara menghamili sang istri.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2