
Setelah mereka berdebat, akhirnya semuanya memutuskan untuk menjenguk Syifa yang ada di rumah sakit dan, mereka pun bergegas pergi dari rumah menuju rumah sakit dengan mengendarai mobil masing-masing.
Sebab, setelah menjenguk Syifa, mereka akan pergi ke tempat tujuan masing-masing karena memiliki pekerjaan yang berbeda. Selama di perjalanan Juwita hanya terdiam, dia tidak sanggup melihat wajah anaknya Syifa nanti yang sangat mirip dengan sang suami.
Ya, walaupun dia sudah mengerti bahwa bayi kecil itu adalah anak Syerkhan, yang artinya adik Anggi juga. Namun, tetap saja dia masih merasa gelisah dan tidak tenang.
Setelah sampai di rumah sakit, mereka semua bergegas pergi mencari kamar inap Syifa dan menemukannya, kemudian mereka semua bergegas masuk ke dalam.
"Siang Syifa!" ucap semua secara bersamaan.
Sontak, membuat Syifa terdiam dan tersenyum, kemudian Micella menghampirinya sambil memberikan sebuah kotak yang berisi perlengkapan bayi.
"Terima kasih sayang, kenapa kamu repot-repot memberikan bunda ini? Bukankah, kehadiranmu itu jauh lebih berharga dari ini," ucap Syifa lembut.
"Benar yang Bunda katakan. Tapi, Micella tetap ingin memberikan kado pada adiknya Micella, bukankah kami kakak dan adik?" jawab Micella dengan pertanyaan.
Syifa menganggukkan kepalanya, kemudian dia menerima kado dari Micella dan, ia pun bangun dengan dibantu oleh Syerkhan, sebab ia tidak enak jika tidur sedangkan yang lain menjenguknya.
"Sebentar lagi, papa juga akan memiliki seorang cucu pria. Jadi Papa harus adil, tidak boleh mengutamakan anak apa saja! Utamakan juga anak Anggi," ucap Anggi dengan sangat manja.
Syerkhan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, karena dia senang hubungannya dan anak sudah baik-baik saja, tidak seperti sebelumnya hubungan mereka kacau-balau.
"Kamu tenang saja! Anakmu cucu pertama papa. Jadi papa pastikan anak itu akan menjadi cucu emas, jika kamu sudah memiliki cucu lagi maka keduanya menjadi cucu emas papa, sebab adikmu masih lama memiliki anak mungkin papa sudah tidak ada di dunia ini lagi, dia baru memiliki anak," sahut Syerkhan.
Sontak, membuat Anggi langsung memeluk sang papa, karena dia sedih papanya mengucap kata seperti itu dan, ia masih berharap kalau papanya itu masih ada sampai adiknya menikah dan ia memiliki keponakan.
__ADS_1
"Kenapa papa bicara seperti itu ? Papa harus ingat umur Papa juga masih muda. Jadi masih bisa melihat adik menikah dan juga masih bisa melihat cucu Papa darinya," ucap Anggi dengan lirih.
Sontak, membuat semua orang yang ada di sana tertawa karena mereka juga paham umur Syerkhan yang sudah tua dan, di pasti tidak bisa dipastikan kalau dia itu akan tetap hidup saat memiliki cucu dari anaknya bersama Syifa.
"Syifa, apa kamu sudah mulai membaik?" tanya Dila dengan lembut.
"Sudah Tante, sudah lumayan baik. Tapi, masih sedikit lemas, tidak apa-apa seperti ini," jawab Syifa lembut.
Dila tersenyum, karena dia juga pasti akan melahirkan lagi, sebab saat ini ia tengah mengandung buah hatinya bersama Dilon. Namun, dia tidak mau mengucapkan hal itu kepada siapapun sebabnya sama lu di umur yang sudah tua ia masih saja mengandung. Bahkan ia sebentar lagi akan memiliki seorang cucu.
'Mau mengungkapkan diriku ini hamil. Tapi kalau aku tidak mengungkapkannya semua pasti akan tahu, karena perutku pasti akan membesar,' batin Dila bingung.
Semua orang sama sekali tidak tahu dia hamil. Bahkan Dilon saja tidak mengetahui kehamilannya, sebab ia memang benar-benar sangat malu mengungkapkan hal itu.
Saat tengah berbincang, tiba-tiba Dila merasa mual dia pun lari masuk ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya sontak saja membuat semua orang yang ada di sana terkejut termaksud Dilon.
"Apa kamu sakit sayang?" tanya Dilon dengan lembut.
"Eh, istrimu sendiri sakit kamu tidak mengetahuinya?" sambung Syerkhan.
Dilon menganggukan kepalanya, karena selama ini Dila tidak pernah melihat atau mengeluh sakit perut, atau masuk angin, karena wanita itu tidak pernah mengeluhkan apa pun dan dia pun tidak pernah melihat sang istri lemah.
"Apa Mama sakit? Mumpung kita di rumah sakit sekarang, kita periksa keadaan Mama saja ya?" bujuk Anggi dengan lembut.
"Mama tidak apa-apa, mungkin ini asam lambung mama kambu, karena sejak kemarin mama belum makan apa pun hanya minum susu," tolak Dila dengan halus.
__ADS_1
Anggi pun menuruti keinginan sama mama, sebab ia tidak mau disebut sebagai anak durhaka yang melawan orang tua, walaupun itu demi mamanya juga. Tetap saja dia tidak mau melawan dan membantah ucapan Dila.
"Muntah-muntah karena asam lambung, biasanya Tante tidak pernah seperti itu, sejak dulu jika asam lambung tante kumat Tante hanya merasa pusing, tidak sampai muntah," ucap Syifa lembut. Namun, merasa sangat heran.
Dilon hanya terdiam, karena sang istri tidak mau diperiksa dan, dia juga tidak melihat kalau istrinya itu lemas, atau lemah di rumah dan ia pun menyimpulkan bahwa istrinya hanya masuk angin karena belum makan sejak kemarin.
Setelah mereka berbincang-bincang, Dila dan Dilon berpamitan pulang duluan, sebab wanita itu, tiba-tiba saja merasakan sangat pusing yang luar biasa. Namun, ia hanya mengatakan pusing biasa saja kepada mereka semua agar tidak mencemaskan keadaannya.
"Anggi, sebaiknya kamu awasi mama, karena terlihat mama itu sangat lemah tadi. Apakah mama selama ini baik-baik saja?" tanya Syifa sambil menatap wajah anak sambungnya itu.
"Aku tidak tahu, karena aku jarang di rumah. Apakah kamu tahu Juwita, bukan kamu selalu di rumah bersama mama?" jawab Anggi sambil melihat wajah sang istri.
Juwita mengelengkan kepalanya, karena tidak pernah melihat kondisi mertuanya memburuk dan ia selalu melihat wanita itu selalu sehat juga selama berada di rumah.
"Ya sudah, kamu awasi saja keadaan mamamu, karena terlihat dia itu memiliki banyak beban pikiran dan asam lambungnya kambu," sahut Syerkhan.
Anggi menganggukan kepalanya, kemudian dia pun berpamitan pulang bersama sang istri, karena Juwita juga harus banyak istirahat, sebab hari persalinannya juga sudah semakin dekat.
Setelah mereka pulang. Syerkhan menceritakan kisah-kisah mereka saat dulu menjadi seorang anak dan ayah, yang sekarang sudah menjadi suami-istri. Bahkan sudah memiliki anak.
"Jodoh itu tidak ke mana, walaupun sudah memiliki jodoh mungkin jodoh yang kedua akan datang juga," ucap Syerkhan dengan lembut.
Sontak, membuat Syifa sangat kesal sebabnya selalu mengatakan jodoh dan jodoh lagi, karena ia takut kehilangan pria itu Namun, yang ia herankan setelah melahirkan anaknya rasa cinta yang sebelumnya sangat besar kepada sang suami kini hilang.
Namun, masih ada rasa nyaman bersama pria itu dan, dia tidak akan berpaling ke lain hati atau berpikir mencintai pria lain.
__ADS_1
BERSAMBUNG.