
Ingin rasanya Syifa, pergi sejauh mungkin, karena malu pada sang suami sudah keceplosan tadi. Namun, hal itu tidak bisa terjadi.
"Tidak masalah. Kemarilah aku akan memelukmu selalu," ucap Syerkha dengan lembut.
Syifa semakin malu akan ucapan sang suami, sehingga dia hendak bergegas pergi dari sana. Namun, Syerkhan. menahan tangannya.
"Mau ke mana?" tanya Syerkhan sambil menatap wajah sang istri.
"Pergi," jawab Syifa dengan cepat.
Syerkhan tersenyum dan, langsung memeluk sang istri dengan lembut, kemudian ia pun menidurkan tubuh dengan perlahan. Sebab, dia takut Syifa terluka.
"Kenapa harus malu, jika mengingatkan hal itu? Aku takut, anakku akan ileran, kalau keinginanmu tidak terpenuhi," ucap Syerkhan lembut.
"Benarkah?" tanya Syifa dengan polos.
Sebab, dia sama sekali tidak mengetahui apapun tentang wanita hamil, karena itu ia bertanya pada sang suami.
"Benar, karena waktu Dila hamil, ibu mertuaku berkata seperti itu," jawab Syerkhan dengan lembut.
Syifa langsung diam saat Syerkhan berucap seperti itu, karena rasa bersalahnya kian besar pada Dila.
'Aku ini wanita jahat, menikah dengan pria yang menjadi suami, dari ibu yang sudah membesarkan aku selama 12 tahun ini,' batin Syifa lirih.
Gadis itu langsung masuk ke dalam pelukan Syerkhan, karena ia ingin menangis dan sang suami tidak mengetahui.
'Kenapa dia menangis? Apa, karena ucapku tadi?' batin Syerkhan sambil berpikir.
Pria itu mengelus-elus punggung sang istri, agar Syifa tenang dan, berhenti menangis. Entah mengapa Syerkhan tidak sanggup melihat istrinya menangis.
'Sanggupkah aku, bila melepaskan Syifa dan, kembali lagi bersama Dila?' batin Syerkhan sambil berpikir.
. . .
Juwita tersenyum, karena melihat Anggi yang tengah makan dan, pria itu langsung menyadarinya.
"Kenapa, elo ketawa ngeliat gue?" tanya Anggi dengan ketus.
"Tidak ada, aku hanya lucu saja melihatmu seperti anak kecil, makan berserakan," jawab Juwita dengan cepat.
Anggi langsung tersenyum, karena dia memang seperti anak kecil kalau makan pasti berserakan.
"Lupakan saja, sekarang makan dan, kita akan pergi dari hotel menuju rumahmu, sebab besok kita akan pindah ke rumah baru," ucap Anggi lembut.
Juwita menganggukan kepala, kemudian dia pun melanjutkan kembali makan malamnya dengan perlahan.
. . .
__ADS_1
Keesokan harinya . . .
Syifa terbangun, karena merasakan gerakan Syerkhan bangunan dan, melihat pria itu berjalan dengan terburu-buru menuju balkon.
"Kenapa om Syerkhan terlihat sangat terburu-buru?" gumam Syifa.
Gadis itu beranjak bangun dan, berjalan menuju balkon, kemudian dia berdiri di sebalik jendela, agar Syerkhan tidak melihatnya.
Syerkhan: Aku mohon padamu, jangan ajukan gugatan perceraian itu lagi.
Deg!
Hati Syifa seakan berhenti berdetak, karena ucapan Syerkhan barusan dan, ia memastikan sang suami tengah menelpon Dila.
Syerkhan: Aku mohon padamu, aku ingin membangun keluarga seperti dulu lagi.
Syifa langsung menitihkan air mata, karena mendengar ucapan Syerkhan barusan dan, ia kembali melihat wajah sang suami.
Syerkhan: Aku akan menceraikan Syifa, setelah dia melahirkan anakku dan, aku ingin kembali padamu.
Deg!
Syifa semakin terisak-isak saat mendengar ucapan Syerkhan, kemudian bergegas pergi dari sana dan, masuk ke dalam kamar mandi.
"Hiks ... hiks, om Syerkhan akan mencarikan aku, setelah bayi ini lahir," ucap Syifa dalam isak tangisnya.
"Bukan aku tidak suka, bila keluarga Anggi kembali utuh. Tapi, bagaimana dengan nasibku juga anak ini, apakah setelah aku bercerai om Syerkhan, dia akan mengambil anak ini dariku?" gumam Syifa.
Gadis itu pun mulai menyusun rencana, agar dia dan anaknya bisa hidup bahagia walaupun mereka hanya tinggal berdua.
"Ya, aku akan segera pergi dari sini, sebab aku tidak ingin anakku di ambil oleh om Syerkhan dan, bagaimana dengan nasibku, hidup sendirian," ucap Syifa lirih.
Syifa menghapus air matanya, karena ia tidak ingin sampai sang suami tahu kalau ia habis menangis.
. . .
Syerkhan: Dila, aku mohon padamu.
Dila: Maaf, semua yang aku ucapkan tidak mungkin aku batalkan.
Dila memutuskan sambungan teleponnya, membuat Syerkhan kesal, sebab sudah puluhan kali dia meminta agar mereka kembali rujuk.
"Aku akan berusaha, karena tidak enak hidup terus-terusan dalam rasa bersalah," gumam Syerkhan sambil berjalan masuk ke dalam.
Matanya membulat sempurna, saat melihat Syifa yang masih menggunakan handuk ada di hadapannya.
"Sayang, sudah bangun?" tanya Syerkhan dengan lembut.
__ADS_1
Syifa langsung menoleh, kemudian menghampiri pria itu dan, memeluk sang suami dengan lembut.
"Om dari mana saja?" tanya Syifa dengan nada manja.
Sebab, ia sengaja agar pria itu tidak tahu rencana yang ia buat demi menyelamatkan sang anak.
"Habis menelpon. Ini ada apa? Kenapa tiba-tiba manja seperti ini?" tanya Syerkhan sambil mengelus-elus rambut Syifa yang masih basah.
Tiba-tiba saja, handuk yang yang menutupi tubuh polos Syifa terjatuh dan, Syerkhan langsung membulatkan matanya.
"Sayang, handukmu jatuh," ucap Syerkhan dengan lembut.
Syifa hanya diam dan, masih berada di dalam pelukan sang suami dengan santai, membuat pria itu heran.
"Kamu cepat pakai, om akan tutup mata," ucap Syerkhan sambil mengangkat tangannya.
Namun, sayangnya Syifa langsung menarik tangannya, sehingga ia dapat jelas melihat tubuh polos gadis itu.
"Syifa, lepaskan tanganku!" seru Syerkhan.
Syifa tersenyum, karena ia lucu melihat sang suami terlihat sangat takut saat melihat tubuh polosnya.
"Kenapa harus marah? Bukankah, sepenuhnya istri adalah milik suaminya?" tanya Syifa dengan lembut.
Sontak membuat Syerkhan terkejut mendengar ucapan sang istri, sebab biasanya Syifa sangat menjaga jarak dengannya.
"Ini maksudnya apa? Kamu, ingin melayani om seperti seorang istri yang seutuhnya?" tanya Syerkhan dengan lembut.
Sebab, ia tengah menahan nafsu yang menggebu-gebu saat melihat tubuh polos sang istri.
'Sepertinya tidak masalah, karena ini untuk yang terakhir kali, sebab aku akan pergi sejauh mungkin dari kehidupannya,' batin Syifa lirih.
Syifa menganggukan kepalanya tanpa rasa ragu, membuat Syerkhan tersenyum bahagia, sebab wanita yang sangat dicintai, mau melayaninya tanpa paksaan.
"Aku tidak akan membuatmu ke luar dari kamar ini, selama satu harian," ucap Syerkhan dengan bersemangat.
Syifa tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian Syerkhan langsung membawa tubuh gadis itu naik ke tempat tidur.
"Aku sangat mencintaimu," ucap Syerkhan dengan lembut.
Syifa seakan terbang ke langit, karena mendengarkan ucapan Syerkhan. Namun, langsung jatuh, karena mengingat kembali ucapan sang suami tadi pagi dengan Dila.
"Aku bener-bener sangat mencintaimu," ucap Syerkhan lagi.
Pria itu langsung melepaskan bajunya dan, melemparkan ke sembarang arah, kemudian mulai menyatukan Kris Jaka Tarub miliknya dan gua lele Syifa.
Gadis itu terus memeluk sang suami, karena ini kali pertamanya melakukan hubungan itu dengan Syerkhan, tanpa paksaan sedikit pun.
__ADS_1
BERSAMBUNG.