Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
74 > Kenapa?


__ADS_3

Keesokan harinya . . .


Syerkhan pergi ke kantor bersama dengan Micella, sebab dia ingin menemui Anggi dan bertanya cara mengambil bulan dari langit. Demi memenuhi keinginan Syifa.


Sesampainya di sekolah Micella, Syerkhan mengantarkan gadis kecil itu ke dalam kelas, barulah dia pergi menuju toko baju Anggi. Setelah tiba, ia pun bergegas masuk ke dalam.


"Pagi," sapa Syerkhan pada anak buah Anggi.


"Juga Pak," jawab anak-anak buah Anggi.


Syerkhan kembali berjalan masuk ke dalam ruangan kerja Anggi dan, semua karyawan tidak melarang, karena mereka tahu pria itu adalah papa dari bos mereka.


"Papa!" pekik Anggi.


Sebab, dia sangat terkejut melihat sang papa tiba-tiba datang tanpa memberikan kabar, juga tidak mengetuk pintunya, sehingga dia terkejut.


"Seperti melihat hantu saja! Ini papamu!" seru Syerkhan.


Anggi tersenyum dan, langsung menghampiri sang papa, kemudian mempersilahkan pria itu duduk, tak lupa dia mencium tangan pria yang sudah membesarkannya sampai sekarang.


"Bukan seperti itu, Papa salah paham. Anggi terkejut karena Papa tidak mengetuk pintu," ucap Anggi.


Syerkhan tersenyum karena dia mempercayai ucapan sang anak dan, juga dia menginginkan sesuatu dari Anggi. Sebab itu, dia bersikap baik kali ini.


"Papa tumben datang," ucap Anggi lembut.


"Iya, sebenarnya ... "


Syerkhan menceritakan semua pada Anggi, membuat pria itu sangat terkejut dan, memikirkan cara agar keinginan Syifa bisa terpenuhi.


"Tolonglah, bantu papamu ini. Apa kamu ingin adikmu ileran?" tanya Syifa dengan lirih.


"Tidak! Anggi akan membantu Papa. Tapi, bisakah Anggi pikirkan dulu caranya," jawab Anggi.


Syerkhan tersenyum dan, dia langsung memeluk sang anak, karena selalu ada untuknya dan, bersedih membantunya untuk memujudkan keinginan gila Syifa.


"Papa tenang saja! Anggi akan membantu Papa, karena hal itu sangat muda. Papa tunggu besok, pasti Anggi akan membawakan bulan yang diinginkan oleh Syifa," ucap Anggi lembut.

__ADS_1


Syerkhan tersenyum, karena dia benar-benar sangat terharu sang anak bisa membantunya memujudkan keinginan Syifa, yang sangat tidak masuk akal.


"Kamu adalah anak yang paling terbaik," ucap Syerkhan lembut.


Anggi tersenyum, kemudian Syerkhan berpamitan pergi. Sebab dia masih memiliki banyak pekerjaan di kantornya. Lagi pula, dia sudah mendapatkan jalan ke luar atas masalah yang ia hadapi.


. . .


Juwita dan Dila, tengah melihat undangan yang baru diantarkan oleh Dilon, karena pernikahan mereka tidak lama lagi akan dilaksanakan.


"Juwita sangat menyukai undangan ini," ucap Juwita dengan lembut.


"Benar, tante juga suka, karena ini adalah pilihan Anggi," jawab Dila lembut.


Dilon hanya bisa tersenyum, karena dia juga menyukai undangan yang dipilih oleh Anggi. Pria itu juga bahagia, sebab calon anak sambungnya merestui hubungan dia dan juga Dila.


"Kalau semua sudah selesai, aku permisi dulu, karena masih banyak pekerjaan di kantor," ucap Dilon lembut.


"Baiklah. Aku saja yang menjemput Micella nanti," jawab Dila lembut.


Dilon menganguk tanda setuju dan, dia pun bergegas pergi dari sana, karena masih banyak sekali pekerjaan yang harus di selesaikan.


"Semoga saja, aku dan Micella bisa menjadi anak dan ibu yang seutuhnya. Tidak ada jarak diantara kami," gumam Dila sambil bersiap-siap.


Setelah selesai bersiap-siap, dia langsung bergegas pergi menuju sekolah Micella dengan mengendarai mobil miliknya dengan kecepatan sedang, agar selamat sampai tempat tujuan.


. . .


Anggi pergi pergi dari toko, karena dia harus menepati janjinya pada sang papa, memenuhi keinginan Syifa, mendapatkan bulan. Pria itu memiliki ide agar bisa membantu papanya dengan cara dia.


"Aku yakin, pasti gadis itu sangat menyukai ini, sebab wanita hamil itu memang suka meminta yang aneh-aneh," ucap Anggi lembut.


Setelah selesai, Anggi langsung kembali ke toko sambil membawa tas yang berisikan sesuatu untuk Syifa. Pria itu terus ditatap oleh karyawannya, karena membawa benda yang dia beli tadi.


"Aku yakin, mereka semua terkejut aku membeli ini untuk apa," gumam Anggi sambil berjalan masuk ke dalam ruangannya.


Anggi langsung membungkus benda tersebut mengunakan kertas berwarna-warni, agar terlihat cantik, kemudian menambahkan beberapa pita di kertas itu dan, menyimpan kado tersebut di atas meja berkas.

__ADS_1


"Selesai, hanya tinggal menunggu besok. Pasti papa akan senang, karena keinginan calon adikku sudah aku penuhi," ucap Anggi lembut.


Pria itu tersenyum dan, melanjutkan kembali pekerjaan yang sangat menumpuk di meja kerjanya. Walaupun dia sibuk, Anggi tetap menyempatkan diri untuk membantu sang papa yang sedang kesusahan.


. . .


Syerkhan tersenyum, saat melihat pesan masuk dari Anggi dan, Poto yang dikirimkan oleh sang anak. Sebab, masalahnya sudah terselesaikan.


"Aku senang, karena Anggi dengan muda bisa menyelesaikan misi itu. Tapi, kenapa bulanya sangat kecil?" gumam Syerkhan sambil berpikir.


Pria itu heran, karena melihat bulan yang diperlihatkan Anggi sangat kecil, sebab yang ia tahu, bulan berukuran besar. Lalu, bulan apa yang ada pada Anggi?


Hal itu terus dipikirkan oleh Syerkhan. Sebab, dia takut gagal memenuhi keinginan Syifa yang sangat tidak masuk akal itu. Namun, ia harus berpikir positif agar tidak terlalu setres memikirkan keinginan sang istri.


Setelah selesai di kantor, Syerkhan bergegas pulang ke rumah, sebab dia tidak sabar menunggu kedatangan Anggi yang membawa bulan untuk Syifa. Padahal sang anak berjanji besok, namun ia sudah tidak sabar menunggu hari esok dan, meminta anaknya untuk datang malam ini juga.


"Di mana anak itu, kenapa sampai sekarang belum datang juga?" gumam Syerkhan.


Pria itu tidak masuk ke dalam, karena dia menunggu kedatangan Anggi, barulah mereka berdua masuk ke dalam bersamaan. Tak berselang lama, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.


"Apa itu?" tanya Syerkhan.


"Bulan," jawab Anggi.


Anggi langsung memberikan kado yang dia buat tadi pada sang papa, kemudian dia masuk ke dalam dan, meninggalkan papanya diluar bersama kado yang dia berikan tadi.


"Apa ini? Aku yakin, bahwa ini bukan bulan," ucap Syerkhan lemas.


Pria itu berjalan masuk ke dalam dan, melihat istri dan anaknya tengah mengobrol bersama dengan sangat bergembira. Hatinya sangat panas, dia pun bergegas menghampiri mereka.


"Sayang, ini bulan yang kamu inginkan," ucap Syerkhan.


Sontak Syifa langsung tersenyum dan, mengambil kado dari tangan Syerkhan. Kemudian membuka. Senyuman yang tadi mengambang di wajahnya, kini pudar karena melihat isi dalamnya.


"Ada apa?" tanya Anggi dengan sangat berani.


Sedangkan Syerkhan hanya diam dan menutup mata, sebab dia sangat takut sang istri marah, karena bukan bulan sungguhan yang dibawakan oleh Anggi, melainkan boneka bulan. Namun, terlihat seperti nyata bisa bersinar terang.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2