Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
38 > Malu


__ADS_3

Setelah selesai memakai gaun pengantin, kini Anggi dan Juwita sudah berganti baju. Sebab, mereka harus membuka toko, karena orderan begitu banyak.


Namun, sebelum mereka pulang Dila meminta agar diantarkan ke rumah Syerkhan, untuk memberikan baju Syifa dan juga untuk suaminya.


Anggi menyetujui permintaan sang mama, sebab ia tidak mau membuat mamanya bersedih, karena ia menolak keinginan wanita paruh baya itu.


'Sebenarnya aku hanya berpura-pura memaafkan papa. Padahal di dalam hati ini tidak ada kata maaf, untuk pria yang sudah merenggut kebahagiaanku,' batin Anggi.


Setelah sampai di rumah Syerkhan, Anggi tidak masuk ke dalam, sebab hanya menunggu di di luar gerbang dan, hanya Dila yang masuk ke dalam. Bahkan, Juwita pun tidak ingin masuk. Sebab, mereka terburu-buru ingin kembali ke toko.


"Sebaiknya elo jujur, sama gue. Karena gue tahu elo gak bakalan, maafin seseorang dengan muda," ucap Juwita, sambil menatap wajah sang sahabat.


Anggi tersenyum, sebab Juwita sangat mengetahui sifatnya tidak muda memaafkan seseorang, dan ia pun langsung memberikan jempol untuk gadis yang ada di sampingnya.


"Ternyata elo paham banget akan sikap gue. Tapi ingat ya, jangan sampai mama gue tahu yang sebenarnya. Elo ngerti, 'kan?" jawab Anggi dengan pertanyaan.


"Gue ngerti Bos," jawab Juwita dengan lembut.


Mereka berdua bertepuk tangan, sebab satu pemikiran dan, mereka berdua langsung berbekas pergi dari sana. Sebab, Dila agak sedikit lama di dalam, karena itu mereka meninggalkan wanita paruh baya tersebut.


. . .


Syifa menangis terus di dalam pelukan Dila, karena ia sangat merasa bersalah, wanita yang anggap sebagai seorang mama akan bercerai, hanya karena dirinya. Walaupun tidak sepenuhnya dia bersalah.


"Sudahlah jangan menangis lagi, mama tidak tega melihatmu seperti ini, karena seutuhnya bukan kesalahanmu. Sebab, om Syerkhan yang bersalah," ucap Dila sambil mengelus-ngelus rambut Syifa.


Syifa semakin terisak-isak, karena wanita yang ada dia hadapan yang benar-benar sangat baik. Sebab, ia akan menghancurkan rumah tangga wanita itu dan, Dila sama sekali tidak marah kepadanya.


"Tante maafkan Syifa, karena semua ini ada kesalahan Syifa," ucap Syifa dengan lembut.


Dila mengelus rambut Syifa, kemudian mencium gadis itu dengan kasih sayang yang seutuhnya untuk anak, yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.

__ADS_1


"Sayang, kamu adalah permata untuk tante mana mungkin tante marah kepadamu. Sebab, tante tahu siapa yang benar, siapa yang salah," jawab Dila dengan lembut.


Syifa mencium wajah Dilan seperti sebelumnya dan, membuat wanita paru baya itu tersenyum, sebab anak yang sudah dibesarkan itu tidak berubah sama sekali.


"Ini baju untukmu dan untuk suamimu, datang ke acara pernikahan Anggi beberapa hari lagi dan, mama tidak ingin kamu tidak hadir di acara itu," ucap Dila dengan lembut.


Syifa menganggukan kepalanya sambil menerima baju dari Dila, sambil menatap wajah wanita itu dengan intens.


"Pasti Syifa akan datang Tante, mana mungkin Syifa tidak datang di acara pernikahan Anggi dan Juwita, sebab mereka berdua adalah sahabat terbaik Syifa," ucap Syifa dengan lembut.


Dila pun tersenyum, kemudian mereka kembali bercerita dan wanita paruh baya itu berpamitaan pulang, sebab ia tidak enak terlalu lama di dalam rumah suami yang akan menjadi mantan suaminya


Syifa pun tidak melarang kepergian Dila, sebab ia paham betul akan perasaan wanita itu dan, ia pun mencoba mengerti posisinya saat ini yang menjadi seorang madu.


Setelah kepergian Dila, Syifa pun bergegas masuk ke dalam kamar sambil membawa baju dari istri pertama suaminya.


"Apakah aku akan sanggup menggunakan baju ini, aku berharap aku yang ada di pelaminan itu bukannya Juwita dan, aku tidak berharap menjadi tamu undangan," ucap Syifa dengan lirih.


"Apakah aku salah masih mengharapkan bisa menikah dengan Anggi? Walaupun itu sangat mustahil. Sebab, pernikahannya hanya beberapa hari lagi," ucap Syifa dengan lirih.


Gadis itu pun langsung melepaskan gaun yang ia kenakan, kemudian menidurkan tubuh di atas panjang sambil terus memikirkan acara pernikahan, Anggi dan Juwita yang akan digelar dua hari ke depan.


. . .


Syerkhan terdiam sambil memeriksa berkas-berkas pentingnya. Padahal, itu sangat penting untuknya. Namun, ia sama sekali tidak fokus mengerjakan tugasnya, karena terus memikirkan tentang sang anak.


"Anggi akan menikah dua hari lagi, apakah aku bisa membuatnya menikah dengan Syifa? Tapi, semua itu tidak akan mungkin terjadi, sebab gadis yang dicintainya tengah mengandung anakku," ucap Syerkhan lirih.


Pria itu sudah sadar akan keegoannya yang sangat diutamakan, tanpa memikirkan anak dan istrinya


"Padahal, dulu kami sangat bahagia sewaktu aku menyayangi Syifa sebagai anakku, bukan sebagai istriku dan, sekarang aku kehilangan Dila dan juga Anggi," ucap Syerkhan lirih.

__ADS_1


Pria itu benar-benar sangat menyesal. Namun, penyelesaiannya tidak ada gunanya lagi. Sebab, semua sudah terjadi dan sekarang ia yang menerima hasil apa yang ia lakukan.


"Aku memang benar-benar bodoh, meninggalkan anak ku dan istriku hanya demi wanita yang aku cinta. Namun, dia tidak mencintaiku dan, aku sangat bodoh sebab Dila sangat mencintaiku dan, aku juga mencintainya, sekarang aku menyesal. Tapi, semua tidak ada gunanya lagi," ucap Syerkhan dengan penuh penyesalan.


Pria itu meneteskan air mata tanpa sadar dan ia langsung menghapusnya, kemudian menatap wajah sang anak dari dalam ponselnya.


. . .


Malam hari tiba . . .


Syifa sejak tadi sudah menunggu kepulangan Syerkhan, sebab ia ingin memberikan baju yang diberikan oleh Dila tadi. Namun, sang suami tak kunjung pulang.


"Kenapa Om Syerkhan tidak pulang, apa dia masih sibuk di kantor?" tanya Syifa pada diri sendiri.


Kemudian, gadis itu langsung menelpon sang suami. Namun, tak ada jawaban membuat ia benar-benar sangat kesal, sebab ia ingin mencium aroma tubuh Syerkhan yang belum mandi.


"Sebaiknya aku datang saja ke kantor om Syerkhan, siapa tahu dia lembur, karena aku benar-benar tidak tenang jika seperti ini," ucap Syifa dengan pelan.


Gadis itu pun sudah bersiap-siap dan menggunakan tas samping miliknya, kemudian ia membuka pintu dan sangat terkejutnya saat, melihat sang suami ada di sebalik pintu.


"Sejak kapan Om ada di sebalik pintu?" tanya Syifa sambil menatap wajah sang suami.


Kemudian dia mencium kening Syifa seperti biasanya, kemudian dia menarik tanggan gadis itu masuk ke dalam kamar.


"Maafkan om ya sayang, tadi ada kemacetan di jalan, ada kecelakaan jadi om pulang terlambat, karena jalan bener-bener tertutup," ucap Syerkhan dengan lembut.


Syifa tersenyum dan, menganggukkan kepalanya, kemudian dia memberikan baju yang diberikan oleh Dila tadi.


"Baju dari tante Dila tadi datang ke sini dan memberikan baju itu untuk kita, agar memakainya di acara pernikahan Anggi dia hari lagi," ucap Syifa dengan lembut.


Syerkhan diam, karena ia tidak bisa menghadiri acara pernikahan sang anak, ia merasa sangat malu sudah merebut wanita yang dicintai anaknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2