
Dila menghela nafas panjang, karena malam ini ia akan melihat sang suami menikah lagi bersama anak angkatnya.
'Semoga aku kuat, melihat mereka menikah,' batin Dila lirih.
Pada saat itu juga, Anggi bangun dan langsung duduk kemudian menatap sang mama yang terlihat meneteskan air mata.
'Ini semua karena papa, Mama jadi menangis,' batin Anggi.
Pria itu kesal pada sang papa, karena sudah membuat menangis dan juga mamanya. Anggi berniat akan membuat hal yang sama kepada Syerkhan.
'Bukan aku ingin menjadi anak jahat pada papaku. Tapi, aku tidak bisa melihat Mama menangis,' batin Anggi.
Dengan perlahan dia mendekati sang mama, kemudian memeluk wanita paruh baya itu dengan erat.
"Mama jangan sedih! Sebab, aku akan ikut bersama Mama melihat pria itu menikah," ucap Anggi dengan lembut.
Anggi menyebut papanya dengan sebutan pria itu, karena dia sangat kecewa pada orang tuanya.
"Nak, dia itu papamu," ucap Dila dengan lembut.
Sambil menatap wajah sang anak, yang terlihat jelas kalau pria itu sangat dendam pada suaminya.
"Iya. Tapi, aku tidak bisa memaafkannya lagi," jawab Anggi dengan lembut.
Dila hanya diam, karena dia tidak bisa membuat sang anak menghormati Syerkhan. Sebab, suaminya memang bersalah dan belum mengucapkan maaf pada Anggi.
"Sudah kamu istirahat, mama ingin pergi dulu bersiap-siap untuk ke acara pernikahan papa di gereja nanti malam," ucap Dila dengan lembut.
Anggi menganggukkan kepalanya, kemudian dia kembali ke sofa dan menirukan tubuhnya. Sedangkan Dila langsung bergegas pergi dari sana.
Sejak tadi, Juwita mendengarkan percakapan mereka dan dia tahu kalau Anggi masih sangat mencintai Syifa.
"Aku harus merebut hatinya, karena Syifa sudah tidak akan bisa kembali lagi bersamanya," gumam Juwita sambil berjalan pergi dari sana.
Juwita memang sangat iri pada Syifa. Namun, dia tidak mau merusak hubungan Anggi dan gadis itu. Sebab, ia percaya cinta tidak akan pergi ke manapun.
"Sekarang sudah terbukti, bahwa cintaku akan bersemi karena kesabaranku selama ini," ucap Juwita dengan sangat bergembira.
Gadis itu bukan senang di atas penderita Anggi. Namun, dia bahagia karena cintanya bisa dimiliki.
. . .
Syerkhan membawa Syifa kembali ke rumahnya, karena dia tidak ingin gadis itu kabur lagi darinya. Setelah mereka masuk ke dalam.
__ADS_1
Terlihat Dila sudah ada di ruang tamu memang tengah menunggu kedatangan mereka berdua, Syerkhan langsung menghampiri sang istri dan mencium keningnya.
"Bersiaplah nanti malam, karena kamu akan menjadi saksi pernikahan kami," ucap Syerkhan dengan lembut.
"Bahkan, Anggi juga akan hadir," jawab Dila dnegan sangat santai.
Syifa sangat terkejut, karena Anggi akan datang ke pernikahannya dan Syerkhan, sebab dia tidak akan sanggup melihat pria itu hadir.
"Bagus bila begitu, karena aku juga akan hadir di pernikahan dia dan Juwita," sahut Syerkhan.
Lagi-lagi Syifa membuka mata lebar-lebar, karena Anggi akan menikahi sahabatnya yang selalu ada di dalam hubungan mereka.
'Apa ini semua rencana Juwita? Sebab, dia sangat menyukai Anggi selama ini,' batin Syifa lirih.
Gadis itu duduk di samping Dila sambil mencium tangan wanita paruh baya itu dengan lembut.
"Syifa, kamu juga ikut hadir ya ke pernikahan mereka," ucap Dila dengan lembut.
"Baik, Tante." Syifa menjawab sambil bergegas pergi dari sana.
Karena, dia ingin beristirahat di dalam kamarnya. Sebab, tadi ia sangat lelah membereskan rumahnya.
Gadis itu menidurkan tubuhnya dengan perlahan ke atas ranjang, kemudian berpikir dia akan menjadi istri Syerkhan nanti malam.
"Kenapa aku jadi takut ya, apa karena aku tidak mencintai om Syerkhan?" tanya Syifa dengan lirih.
Hatinya sangat sakit saat mengingat kembali, Anggi akan menikah dengan Juwita. Membuatnya bisa merasakan perasaan pria itu.
"Seperti ini rasanya," ucap Syifa dengan lirih.
Dengan perlahan gadis itu menutup kedua matanya. Namun, sama sekali tidak bisa tidur. Entah mengapa, hatinya benar-benar sangat gelisah dan tidak tenang.
"Tuhan, semoga aku bisa menjalani semua," ucap Syifa dengan lirih.
. . .
Anggi meneteskan air mata, sambil bersiap-siap pergi ke acara pernikahan sang papa dan mantan kekasihnya yang sangat dicintai sampai detik ini.
"Kenapa ini semua terjadi padaku? Wanita yang aku cinta, akan menikah dengan papaku, yang artinya akan menjadi ibuku," ucap Anggi dengan lirih.
Pada saat itu juga, Juwita masuk dan duduk di samping pria itu dengan lembut sambil memegang tangannya.
"Kamu jangan sedih! Sebab, tidak mungkin Tuhan memberikan ujian seperti ini padamu, bila tidak memberikanmu hadiah setelah ujian berakhir," ucap Juwita dengan lembut.
__ADS_1
Anggi tersenyum dan, langsung memeluk gadis itu dengan lembut, karena dia senang bisa memiliki sahabat seperti Juwita yang sangat bijak.
"Terima kasih, kamu sudah menjadi sahabat terbaikku," ucap Anggi dengan sangat lembut.
Juwita menganggukkan kepalanya, kemudian mereka bergegas pergi menuju gereja. Sebab, Syerkhan dan Syifa akan menikah di sana.
Selama diperjalanan, Anggi hanya diam karena hatinya begitu kacau saat ini. Pria itu berpikir bisakah dia melihat wanita yang dicintai menikah dengan pria lain?
. . .
Syifa berdiri di samping Syerkhan dan, mereka berdua saling mengucapkan janji, walaupun gadis itu tidak menginginkan pernikahan ini. Tetap, dia mengucapkan janji bersama Syerkhan.
Pada saat itu juga, Anggi dan Juwita baru tiba membuat Anggi meneteskan air matanya, kemudian sang sahabat langsung memeluknya.
"Hei, jangan menangis! Karena, kau terlihat jelek," ucap Juwita.
Anggi langsung diam dan menghapus air matanya, kemudian mereka berjalan masuk dan menghampiri pasangan pengantin baru itu.
"Syifa, selamat. Maaf, maksudnya ibu selamat atas pernikahan kalian," ucap Anggi dengan lembut.
Syifa hanya diam, jujur air mata yang sejak tadi ditahan seakan mau tumpah. Namun, dia masih menahan.
"Anggi, setelah ini pulang, karena papa ingin bicara," ucap Syerkhan dengan lembut dan Anggi menganggukkan kepalanya.
Anggi melihat sang mama sangat sedih dan, langsung menghampirinya. Kemudian, dia memeluk wanita itu dengan erat.
"Mama harus sabar, karena pasti Mama akan mendapatkan kebahagiaan juga," ucap Anggi dengan lembut.
Dila menganggukkan kepala, sambil menghapus air matanya, kemudian mereka semua pergi dari sana menuju rumah Syerkhan.
Syifa hanya diam, karena saat ini dia benar-benar hancur dan seakan mati detik ini juga.
'Bagaimana kedepannya? Apakah, aku sanggup menjadi istri kedua calon mertuaku?' batin Syifa sambil berpikir.
Syerkhan merangkul Syifa dengan sangat mesra, karena dia sangat bahagia bisa menjadi suami gadis itu.
"Sayang, siapkan dirimu nanti malam. Sebab, adalah malam pertama untuk kita, walaupun bukan untuk yang pertama kalinya," bisik Syerkhan di telinga Syifa dengan lembut.
Gadis itu langsung menjauh, karena dia tidak bisa menerima pernikahannya dengan Syerkhan. Namun, semua sudah terjadi.
'Apakah ini takdirku?' batin Syifa lirih.
BERSAMBUNG.
__ADS_1