
Dila langsung memeluk Dilon dan, mereka bergegas masuk ke dalam rumah, karena takut ada yang melihat dan jadi salah paham. Setelah di dalam, keduanya duduk di bangku sambil saling bertatapan.
"Jujur, aku senang mendapatkan bunga ini," ucap Dila lembut.
Terlihat jelas wanita itu bahagia, saat dia mengucapakan senang menerima bunga dari Dilon dan, wajahnya pun memerah, juga raut wajahnya terlihat sangat bahagia.
"Aku juga senang, kalua kamu menyukainya, sebab aku pikir kamu pasti menolak pemberian aku yang murahan ini," ucap Dilon lembut.
"Kamu bicara apa? Aku tidak matre, apa lagi hanya melihat kamu dari uang. Apa kamu sudah lupa dengan Dila sewaktu remaja dulu?" tanya Dila lembut.
"Ya, aku masih ingat," jawab Dilon.
"Saat aku dan kamu, masih bersama di bangku SMA dulu. Banyak sekali masa yang kita lalui bersama, namun semua harus usai saat aku mengejar Cinta adik tiriku," tambah Dilon.
Pria itu langsung mengingat masa lalunya, saat mengucapkan kenangan mereka bersama. Ada rasa bersalah pada wanita yang ada di hadapannya, karena dulu dia meninggalkan Dila tanpa kabar.
"Maafkan aku, karena meninggalkan kamu, tapi semuanya itu juga karena aku tahu, ternyata kamu sudah bersama Syerkhan dan, aku memutuskan tidak kembali, namun takdir mempertemukan kita," ucap Dilon lagi.
Sedangkan Dila hanya diam, karena tidak bisa mengucapkan apapun tentang masa lalunya dulu. Dia pernah sesakit yang dirasakan saat suaminya berselingkuh, sama seperti Dilon meninggalkannya demi wanita lain.
"Sudahlah, yang terpenting kita sekarang sudah bersama, tapi apa mamanya Micella tidak datang lagi? Maksudnya, aku takut dia kembali dan, membuat kita berpisah kalua sudah menikah nanti," ucap Dila lirih.
Bayang-bayang kegagalan dalam rumah tangga dan, wanita ke tiga, membuatnya takut untuk menjalin hubungan kembali, karena jujur, dia masih sangat mencintai Syerkhan, sebab mereka sudah bersama selama 26 tahun.
Tidak muda baginya, untuk melupakan Syerkhan dalam hitungan bulan, apalagi mereka memang saling mencintai.
"Aku akan mengusir trauma yang ada pada dirimu, karena aku juga merasakan hal yang sama seperti kamu, di tinggalkan orang yang kita cintai," ucap Dilon lembut.
Dila tersenyum dan langsung memeluk Dilon, karena dia senang, setelah ada badai, pelangi pun datang mewarnai kehidupannya sekarang.
"Aku sangat mencintaimu, apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Dilon sambil memberikan cincin berlian.
Dila terpukau melihat cincin berlian berwarna hijau dan, juga memiliki ciri khas sendiri, tidak pernah dia melihat cincin seperti itu seumur hidupnya. Ini kali pertamanya melihat dan, untuknya.
"Aku akan setia dan, aku ingin menjadi papa untuk Anggi, hal yang sama juga aku harapkan darimu, ingin menjadi Mama untuk Micella," tambah Dilon.
__ADS_1
Dila menitihkan air mata, karena dia sangat bahagia bisa bertemu dengan cinta pertamanya, juga pria itu ingin ia menjadi istrinya.
"Aku mau. Tapi, apa bisa kita tunda pernikahan ini? Sebab, aku belum siap," jawab Dila.
Dilon langsung memeluk wanita itu dan, dia mencium puncak kepala Dila dengan lembut, karena dia sangat bahagia bisa diterima cintanya.
"Aku akan menunggumu sampai kapanpun, aku akan sabar," jawab Dilon.
Dila tersenyum dan, pria itu langsung memasangkan cincin berlian ke jari manis Dila, terlihat sangat cocok dan manis, saat wanita itu memakainya.
"Aku akan sabar menunggu kamu, walaupun banyaknya rintangan," ucap Dilon lembut.
"Terima kasih," sahut Dila.
Mereka berdua senang bisa bersama seperti ini, apa lagi keduanya saling mencintai dan, menerima kekurangan masing-masing.
. . .
Keesokan paginya . . .
Syerkhan tersenyum, saat melihat Syifa dan Micella tidur berpelukan, dia pun menanyakan kalua anaknya nanti sudah terlahir dan tumbuh dewasa seperti Anggi.
Entah mengapa, hal itu masuk ke dalam pikirannya. Padahal selama ini dia tidak pernah berpikir seperti itu saat bersama Dila dulu.
Namun, saat bersama Syifa, dia berpikir hal itu dan, takut kehilangan wanita yang sangat dia cintai. Padahal semua manusia tidak tahu kapan akan pergi dari dunia. Bisa jadi yang lebih muda pergi duluan dan sebaliknya.
"Papa," gumam Syifa dengan mata terpejam.
Sontak, jiwa jahil Syerkhan meronta-ronta dan ingin segera disalurkan, pria itu pun mendekati sang istri, kemudian membisikan sesuatu di telinganya.
"Dasar mesum," ucap Syifa.
Syerkhan terkejut, karena dia pikir sang istri masih tidur, namun nyatanya tidak, istrinya sudah bangun dan mendengar ucapannya tadi.
"Maaf, aku pikir kamu masih tidur," ucap Syerkhan lembut.
__ADS_1
Syifa membuka kedua matanya dan, dia tersenyum pada sang suami, karena tadi ia memang sengaja memangil pria itu.
"Lupakan, sekarang bersiaplah, Syifa akan membangunkan Micella, takut dia telat," ucap Syifa lembut.
"Aku bersiap? Tapi, hari ini Sabtu," jawab Syerkhan.
Syifa langsung menepuk keningnya, karena dia lupa sang suami tidak akan ke kantor pagi ini sampai besok.
"Lupa. Ya sudah sana, bersiap antar Micella sekolah," ucap Syifa lembut.
"Siap Tuan putriku!" Syerkhan langsung bergegas pergi dari sana.
Pria itu langsung masuk ke dalam kamar mandi dan, mulai membersihkan dirinya. Setelah selesai, dia melihat sang istri sudah bersiap-siap bersama Micella. Padahal dia duluan yang mandi, namun mengapa mereka yang siap lebih awal?
"Loh, kalian berdua sudah siap?" tanya Syerkhan dengan heran.
"Sudah, di kamar tamu, karena Syifa takut Micella akan terlambat kalau kita bergantian ke kamar mandi," jawab Syifa.
Syerkhan langsung tersenyum, sedangkan Micella masih diam, karena dia belum semangat, karena masih mengantuk.
"Bunda, masih ngantuk," ucap Micella dengan manja.
Syifa tidak menjawab ucapan gadis itu dan, dia langsung menyisir rambut Micella dengan lembut dan, mengikat rambutnya dengan sangat cantik.
"Sudah siap dan, sekarang waktunya kita berangkat," ucap Syifa lembut.
Mereka semua bergegas turun dari kamar dan, menuju meja makan, kemudian memakan sarapan yang sudah disiapkan oleh pembantu.
"Bunda, nanti jangan pulang terus, karena hanya apsen lalu Micella pulang," ucap Micella di sela-sela makannya.
"Baik Tuan putri," jawab Syerkhan lembut.
Micella tersenyum dan, dia kembali melanjutkan sarapan dengan hati yang bahagia, karena dia bisa merasakan makan bersama papa dan mamanya. Sebab, dari kecil dia tidak pernah merasakan hal itu.
'Andai saja mama ada di sini bersamaku. Tapi, semua itu hanya impian yang tidak tercapai, karena mama tidak ingin aku hadir di dunia ini,' batin Micella lirih.
__ADS_1
Gadis kecil itu kuat, karena sejak bayi dia tidak pernah di asuh oleh mamanya, karena wanita itu tidak suka akan kehadirannya ke dunia ini.
BERSAMBUNG.