Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
54 < Tidak menyangka


__ADS_3

Anggi pulang ke rumah dan, dia melihat sang istri ada di ruang tamu bersama sang mama tengah berbincang-bincang, pria itu pun bergegas menghampiri mereka.


"Kok cepat sekali pulangnya?" tanya Dila dengan lembut.


Sebab, baru saja Anggi pergi, namun sudah kembali lagi. Bahkan, dengan wajah lesuh dan sedih.


"Iya, kenapa cepat sekali?" tanya Juwita juga.


"Tidak ada papa, mungkin dia pergi," jawab Anggi dengan ketus.


Membuat Dila dan Juwita saling pandang, mereka pun memberikan kode agar salah satu diantara mereka ada yang bertanya pada Anggi dan, Juwita yang memutuskan untuk bertanya.


"Suamiku, ada masalah apa? Katakan saja!" pinta Juwita dengan lembut.


"Aku ingin punya anak!" jawab Anggi cepat.


Sontak, membuat Juwita dan Dila saling pandang dan membuka mata mereka lebar-lebar, akan jawaban dari pria itu barusan.


"Anak?" tanya Juwita heran.


Sebab, Anggi tiba-tiba saja meminta anak di hadapan sang mama, membuatnya malu sekaligus senang.


"Iya, aku ingin segera memiliki anak," jawab Anggi cepat.


Dila tersenyum saat mendengar ucapan sang anak dan, dia pun langsung memegang tangan Juwita, membuat gadis itu langsung menoleh.


"Sudah sana, masuk ke dalam kamar, jangan pikirkan makan malam kita, yang terpenting adalah anak untuk suamimu," ucap Dila lembut.


Anggi sama sekali tidak malu dan, dia beranjak bangun, kemudian bergegas pergi dari sana menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


"Sudah sana, ikuti suamimu," ucap Dila lagi.


Juwita menganggukan kepala, kemudian dia bergegas pergi dari sana menuju kamarnya. Namun, saat di depan pintu kamar, ia diam sejenak.


'Tunggu? Kenapa, dia tiba-tiba ingin punya anak? Padahal sebelumnya kami membuat kesepakatan, kalau tidak ada anak dan hubungan suami-istri di antara kami,' batin Juwita bingung.


Dengan perlahan dia membuka pintu kamar dan masuk ke dalam, terlihat adanya Anggi sudah duduk manis di bibir ranjang, kemudian ia menghampiri pria itu.


"Ngi, elo ada masalah?" tanya Juwita lembut.

__ADS_1


"Enggak," jawab Anggi cepat.


Juwita tersenyum, karena dia melihat wajah sedih sang sahabat dan juga, pria itu terlihat habis mengeluarkan air mata.


"Gue udah sama elo selama ini, gak mungkin masalah sekecil apapun yang elo hadapi, gue gak tau," ucap Juwita bijak.


Anggi langsung mengelus-elus kepala gadis itu dengan lembut, sebab tahu apa saja yang ia sembunyikan darinya. Padahal dia sudah menyimpan masalahnya rapat-rapat agar tidak ada yang tahu, namun Juwita dengan muda menebaknya.


"Gue cuma pengen punya anak. Tapi, gak masalah kalau elo gak mau, karena gue bisa nikahin wanita lain," ucap Anggi.


Sontak membuat Juwita dilema, sebab dia tidak ingin melihat suaminya menikahi wanita lain, namun dia juga memikirkan tentang nasibnya, bila memiliki anak dari Anggi.


"Aku ... " Juwita tidak bisa meneruskan ucapannya.


Sebab, dia bingung harus menjawab apa dan, Anggi langsung mengambil kesimpulan, bahwa sang istri menyetujui keinginannya memiliki seorang anak.


"Gue anggap ucapan elo itu, tanda setuju," ucap Anggi.


Pria itu langsung memeluk sang istri dengan lembut dan, mulai meninggalkan jejak-jejak kepemilikan di seluruh leher sang istri.


Juwita hanya diam, sebab dia menikmati setiap sentuhan dari sang suami, karena hal itu yang sangat diimpikan olehnya sejak dulu dan, sekarang sudah terlaksana, mana mungkin dia menolak.


. . .


"Sayang, aku minta jangan pernah berubah sampai anak kita banyak, ya." Syerkhan berjalan menghampiri sang istri.


Kemudian, pria itu memeluk Syifa yang masih mengeringkan rambut yang masih basah. Gadis cantik tersebut diam dan, dia menoleh.


"Apakah Syifa harus bersikap manis, sampai selamanya?" tanya Syifa dengan polos.


Syerkhan geram dengan sang istri, sehingga dia menggigit telinga Syifa, sampai gadis itu berteriak histeris.


"Aaahhh! Sakit!" teriak Syifa sambil memegang telinganya.


"Sayang, maafkan aku, tadi aku geram padamu," ucap Syerkhan lembut.


Pria itu langsung memeluk Syifa dan, mengelus-elus telinga yang ia gigit tadi dan, sang istri pun diam.


"Sakit Om, jangan seperti itu lagi!" gram Syifa dengan manja.

__ADS_1


"Baiklah, maafkan aku sayang," ucap Syerkhan lembut dan manis.


Syifa menganggukkan kepalanya, kemudian dia bangun dan menatap wajah sang suami dengan dalam. Setelah itu, ia mengecup pipi Syerkhan dengan lembut.


"Aku mencintaimu," ucap Syifa lembut.


Sontak, membuat Syerkhan terasa terbang ke angkasa lepas. Pria itu pun memeluk sang istri dengan erat dan, tidak ingin melepaskannya, sebab semua yang ia rasakan seperti mimpi.


"Aku tidak menyangka, kalau kita akan saling mencintai dan menyayangi, seperti saat ini, sebab kamu mencintai Anggi dengan sangat dalam," ucap Syerkhan lembut.


Sontak, membuat Syifa terdiam saat mendengar nama Anggi, karena satu bulan ini, dia sama sekali tidak mengingat pria itu, entah kenapa, dia juga tidak tahu.


Mungkinkah dia sudah melupakan kekasih yang sudah bersamanya, selama 12 tahun terakhir ini?


"Om, Syifa mau tidur dulu, kepala Syifa sakit," ucap Syifa dusta.


Padahal, gadis itu teringat kenangannya bersama Anggi selama 12 tahun ini. Bahkan, mereka sampai tidur berdua, namun tidak terjadi apapun, sebab pria itu sangat menghargai wanita.


"Baiklah, aku juga akan ke kantor sebentar, karena Edwin membutuhkan aku," ucap Syerkhan lembut.


Pria itu mengecup kening sang istri, kemudian bergegas pergi dari sana. Setelah kepergian suaminya, Syifa duduk di bibir ranjang.


"Apakah, aku sudah melupakan Anggi?" gumam Syifa dengan pandangan kosong.


Gadis itu mulai memikirkan mantan kekasihnya, yang sekarang sudah menjadi anak tirinya dan, dia pun berniat akan melupakan pria itu, sebab sudah menikah dengan sahabat baiknya.


"Aku harus melupakan Anggi, karena kami sudah tidak bisa bersama lagi, bagaimanapun caranya tetap kami tidak akan bisa bersama, karena aku sudah menikah dengan papanya," ucap Syifa lirih.


. . .


Syerkhan sudah sampai di kantor dan, ia pun langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya sambil memeriksa berkas, yang diberikan oleh Edwin barusan.


"Tuan, aku benar-benar tidak menyangka bahwa Tuan sudah menikah dengan Syifa. Padahal kalian dulu memang cocok menjadi sepasang kekasih, namun malah anak Anda yang bertunangan dengannya, tetapi sekarang Anda yang menikah dengan gadis itu," ucap Edwin dengan lembut.


Syerkhan tersenyum simpul, sebab ia pun tidak menyangka akan menikah dengan calon menantunya. Padahal dia pun sudah menganggap Syifa sebagai anak kandungnya.


Namun, perasaan berkata lain ia mencintai gadis itu dan, melakukan cara licik untuk mendapatkan Syifa.


"Entahlah, aku juga tidak menyangka hal itu, sebab aku menyayangi dia sebagai anak kandungku, sama seperti aku menyayangi Anggi. Tapi, rasa hatiku tidak bisa terbendung lagi dan mendapatkan dia," jawab Syerkhan lembut.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2