Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
23 > Wanita kuat


__ADS_3

Syerkhan terbangun dari tidurnya dan, melihat sang istri ada di sampingnya, kemudian dia mencium Dila dengan lembut.


Ya, semalam dia pulang ke rumah dan melepaskan rindu bersama sang istri, walaupun Dila tidak menginginkan kehadirannya.


"Sayang, bangunlah hari ini aku akan membawamu ke suatu tempat," ucap Syerkhan dengan lembut.


Dila membuka kedua matanya dengan perlahan, kemudian menatap sang suami dengan rasa yang tidak bisa dijelaskan. Sebab, hatinya begitu sakit jika mengingat kembali ucapan suaminya.


'Rasa sakit ini belum bisa terlupakan, mungkin aku harus tabah menerima suamiku menikahi anak angkatku,' batin Dila lirih.


"Ada apa? Kenapa, hanya diam apa kamu tidak menyukai aku membawamu ke suatu tempat?" tanya Syerkhan sambil menatap wajah sang istri.


"Tidak, bukan seperti itu, hanya aku ingin merawat Anggi. Sebab, dia tengah sakit di toko," jawab Dila.


Syerkhan mengurutkan keningnya, karena dia sama sekali tidak mengetahui jika sang anak tengah sakit. Sebab, tidak ada yang berbicara kepadanya.


"Anggi sakit apa dan, kenapa dia tidak pulang ke rumah? Kenapa dia malah memilih tinggal di toko?" tanya Syerkhan dengan sangat cemas.


"Karena kamu!" jawab Dila dengan cepat.


"Aku?" tanya Syerkhan sambil menunjuk ke dirinya.


Dila menganggukkan kepala, kemudian menjelaskan mengapa sang anak tidak mau kembali lagi ke rumah dan, dia juga mengatakan bahwa Anggi akan menikahi Juwita satu minggu kemudian.


'Apakah aku sejahat ini kepada anakku?Kenapa, aku tega merebut kebahagiaannya dan, kenapa juga aku lebih mementingkan egoku ketimbang anakku sendiri? Padahal, aku sangat menyayanginya,' batin Syerkhan lirih.


Pria itu mulai merasa bersalah karena dia sang anak menjadi jatuh sakit seperti ini apalagi, putra satu-satunya itu memilih menikah dengan wanita yang sama sekali tidak ia kenali.


"Sudahlah, tidak usah bersedih dan menyesali semua perbuatanmu. Sebab, anak kita juga sudah akan menikah dengan wanita lain. Begitu juga dengan kamu harus menikahi Syifa," ucap Dila dengan lembut.


Dila tetap bersikap tegar karena sang suami bersalah sudah menghancurkan masa depan Syifa.


"Dila, mengapa kamu sangat tegar? Biasanya seorang wanita tidak akan merelakan suaminya menikah lagi?" jawab Syerkhan dengan pertanyaan.


"Seperti ini? Karena, kamu kamulah pria yang bersalah sudah merenggut kebahagiaan Syifa dan, kamu tahu bukan? Syifa tengah hamil anakmu dan, anak kalian butuh seorang ayah," jawab Dila dengan lembut.

__ADS_1


Syerkhan tersenyum, karena dia belum mengetahui bila Syifa hamil, walaupun ia sudah memprediksi bahwa gadis itu memang akan hamil benihnya.


"Baiklah, aku akan menikahi Syifa, karena kamu sudah mengizinkan aku untuk menikahinya," jawaba Syerkhan.


Dila tersenyum, walaupun hatinya benar-benar sangat sakit saat ini. Namun, dia harus tetap tegar agar sang suami menikahi Syifa, karena gadis itu tengah mengandung.


'Aku akan selalu rela, walaupun hati ini sangat sakit. Aku juga sangat menyayangi Syifa seperti anakku sendiri,' batin Dila dengan lirih.


Syerkhan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Syifa, karena dia akan memberitahu bahwa mereka akan segera menikah. Sebab, Dila sudah merestui hubungan mereka.


Setelah Syerkhan sampai di rumah Syifa, ia mengetuk pintu rumah gadis itu, namun tidak ada jawaban sama sekali. Bahkan, terlihat rumah itu sunyi seperti tidak ada penghuninya.


"Ke mana Syifa? Kenapa, dia tidak ada di rumah?" tanya Syerkhan pada diri sendiri.


Pria itu pun menelepon Syifa, namun, tak ada jawaban sama sekali. Bahkan, dia berpuluh-puluh kali mengirimkan pesan dan sama tidak ada jawaban.


Syerkhan nergegas pergi dari sana, karena dia ingin mencari keberadaan Syifa, sebab dia sangat mencemaskan gadis itu.


Syerkhan pun menelepon anak buahnya dan minta mencari Syifa, karena tidak mungkin dia menemukan Syifa dengan sendirinya. Sebab, itu dia meminta bantuan para anak buahnya.


. . .


"Juwita aku benar-benar sangat berterima kasih kepadamu, karena sudah merawatku dengan sangat baik seperti ini," ucap Anggi dengan sangat lembut.


Juwita tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya sambil membantu Anggi duduk


"Lo itu gimana sih, gue udah jadi sahabat lo dari dulu, ya kali gue tega ngelihat lo sakit kayak gini," jawab Juwita.


Anggi tersenyum dan, mengelus-ngelus kepala Juwita dengan sangat lembut, kemudian memeluk gadis itu seperti biasanya


Jantung Juwita seakan copot, karena pelukan dari Anggi dan, pria itu dapat jelas mendengar detak jantung Juwita yang sangat kencang.


"Elo nggak lagi sakit, 'kan? Juwita, karena jantung lo gue denger kenceng banget?" tanya Anggi sambil melepaskan pelukannya.


Juwita tersenyum, kemudian menggelengkan kepala karena tidak mungkin dia berkata jujur jantungnya berdetak, sebab mereka berpelukan.

__ADS_1


"Elo, yakin, 'kan Juwita, karena gue takut lo kenapa-napa?" tanya Anggi dengan sangat cemas.


"Iya gue, nggak apa-apa lo tenang aja," sahut Juwita.


Gadis itu bergegas pergi dari sana karena dia masih banyak pekerjaan, yang harus di selesaikan sebelum acara pernikahannya, karena saat hari pernikahan mereka akan tutup toko selama beberapa hari.


Sedangkan Anggi langsung tidur, karena obat yang dia minum membuatnya mengantuk, sampai tidak mendengar lagi.


. . .


Syifa duduk sambil meminum es teh dingin dari Ardan. Sebab, gadis itu sangat menginginkan minuman tersebut.


"Syifa, kamu kalau lelah beristirahat saja biar aku dan teman-temanku yang menyelesaikan pekerjaan ini. Sebab, kulihat wajahmu begitu pucat," ucap Ardan sambil menatap wajah Syifa.


Syifa tersenyum, karena dia tahu kelelahan karena kandungannya yang masih sangat muda, dan harus memerlukan banyak istirahat. Namun, dia harus tetap membersihkan rumah agar bisa tinggal sendiri tanpa merepotkan Ardan lagi


"Kamu ini seperti siapa saja sih, aku masih sanggup. Mungkin wajahku pucat karena aku kekurangan darah," jawab Syifa dengan dusta.


Sebab, tidak mungkin dia menceritakan kalau dirinya tengah hamil tanpa seorang suami pada sang sahabat.


Ardan merasa sakit curiga. Sebab, wajah Syifa terlihat pucatnya berbeda, karena jika orang yang kekurangan darah tidak akan sepucat Syifa.


Namun, dia tidak ingin bertanya lagi kepada Syifa karena ia pun tahu bahwa gadis itu juga perlu privasi.


"Ya sudah, jika itu maumu. Tapi, bolehkah aku meminta bantuan teman-temanku nanti malam? Agar mereka bisa cepat menyelesaikan rumah ini, karena rumah kamu ini sudah sangat lama tidak ada penghuninya," ucap Ardan.


"Terima kasih banyak Ardan, karena kamu sangat baik kepadaku, aku tidak bisa membalas semua jasamu," jawab Syifa dengan sangat haru.


Ardan tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian, mereka melanjutkan kembali pekerjaan dan Syifa membersihkan halaman rumah yang benar-benar sangat semak.


'Ya Tuhan, semoga mereka semua tidak mengetahui jika aku tidak mengandung. Tapi, cepat atau lambat, pasti mereka semua akan tahu kalau aku ini hamil,' batin Syifa dengan lirih.


Gadis itu berharap tidak ada yang mengetahui bila dirinya tengah hamil. Namun, cepat atau lambat pasti perutnya akan terlihat dan semua orang akan mengetahui dia hamil.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2