Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
45 > Sepertinya kita sama


__ADS_3

Setalah sampai di rumah, Syerkhan langsung bergegas masuk ke dalam dan, mencari keberadaan sang istri. Namun, gadis itu tidak tidak ada.


"Sayang!" Syerkhan mencari-cari keberadaan sang istri di seluruh rumah.


Namun, gadis itu sama sekali tidak ada. Bahkan, semua pelayan tidak tahu di mana gadis itu berada.


"Astaga! Jadi, kalian semua tidak tahu istriku pergi?!" tanya Syerkhan dengan sangat emosi.


Sebab, dia melihat CCTV terlihat Syifa pergi sambil membawa tas besar dan, sudah dipastikan kalau sang istri kabur dari rumah.


'Tunggu? Bukankah tadi aku menelpon Dila, apakah Syifa mendengarkan ucapanku?' batin Syerkhan sambil berpikir.


Syerkhan bergegas pergi dari sana, karena dia ingin mencari keberadaan sang istri ke seluruh kota. Bahkan, dia mengutus semua anak buahnya agar mencari Syifa.


"Sayang, kamu di mana? Semua yang kamu dengar itu salah paham," gumam Syerkhan sambil terus mengemudikan mobilnya.


Hati Syerkhan tidak tenang, karena sang istri belum di temukan. Padahal semua anak buahnya sudah ia kerahkan.


. . .


Syifa masih duduk diam di dalam kamar, bersama dengan Micella, sebab gadis kecil itu ingin mengenalnya jauh lebih dalam.


"Kak, sepertinya kita sama, walaupun aku memiliki mama. Tapi, dia sama sekali tidak mengharapkan diriku," ucap Micella lirih.


Syifa langsung menatap wajah sedih Micella, karena dirinya jauh lebih beruntung dari gadis kecil itu. Sebab, setelah orang tuanya meninggal, masih ada yang menyayangi dia dengan tulus.


Sedangkan Micella, kurang kasih sayang dari sang mama, sebab dia hanya mendapatkan dari papanya.


"Micella, kamu sabar ya, sekarang ada kakak bersamamu di sini," ucap Syifa lembut.


Syifa memegang tangan Micella dengan lembut, kemudian memeluk gadis kecil itu dan, mengelus-elus kepalanya.


"Terima kasih Kak, karena sudah mau ada untuk Micella," ucap Micella dengan lembut.


"Sama-sama," jawab Syifa dengan lembut.


Tanpa mereka sadari, ternyata Dilon mengintip dari sebalik pintu dan, dia pun tersenyum bahagia.


Sebab, bisa melihat sang anak tersenyum bahagia, tidak seperti biasanya, gadis itu akan selalu bersedih.


"Apakah gadis itu bisa menjadi ibu sambung Micella? Tapi, mana mungkin dia mau," gumam Dilon sambil bergegas pergi dari sana.


Pria itu bahagia bisa bertemu dengan anak dari wanita yang sangat ia cintai, walaupun cintanya tidak terbalas.

__ADS_1


"Semoga aku bisa memiliki Syifa, sebab ia memiliki wajah dan, sifat yang sama seperti Cinta," ucap Dilon lirih.


Pria itu menitihkan air mata, karena dia mengingat kembali saat cintanya di tolak, sebab Cinta hanya menganggapnya sebagai seorang kakak saja.


. . .


Dila dan Anggi menunggu kedatangan Syerkhan, sebab pria itu sudah berjanji akan datang. Namun, sampai sekarang belum datangn juga.


"Mungkin papa tidak akan datang," ucap Anggi lirih.


"Sabar, coba telpon dulu," sahut Dila lembut.


"Benar itu," tambah Juwita.


Anggi langsung menelpon sang papa dan, pria itu langsung menerima panggilan darinya.


Syerkhan: Maaf papa tidak bisa datang, sebab Syifa pergi dari rumah, entah ke mana.


Anggi: Apa! Syifa kabur?


Sontak semua yang ada di sana langsung menatap wajah Anggi dan, mendekati pria itu, sebab sangat penasaran akan kabar Syifa.


Syerkhan: Iya, papa tutup dulu telponnya, karena papa ingin mencari keberadaan Syifa.


Syerkhan langsung menutup teleponnya dan, Anggi diam, sebab ia bingung harus bersikap seperti apa. Karena, dia masih sangat mencintai Syifa dan, merasa cemas akan gadis itu.


"Anggi, apa Syifa pergi dari rumah papa?" tanya Dila lembut.


Anggi mengagukkan kepalanya, membuat Dila cemas, sebab memikirkan Syifa yang pergi entah ke mana.


"Ya ampun, ke mana gadis itu?" ucap Juwita lirih.


Mereka semua mendoakan agar Syifa cepat ditemukan, sebab merasa cemas akan keadaan Syifa yang tengah mengandung.


'Ke mana Syifa, aku sangat mencemaskan dia, kenapa dia pergi dari rumah? Apa, dia masih belum bisa menerima pernikahannya?' batin Dila sambil berpikir.


Dila langsung mengingat kalau dia dan Syerkhan tadi pagi telponan, sudah pasti kalau Syifa mendengar ucapan Syerkhan, hal itu membuat Syifa pergi.


"Kenapa Syifa pergi dari rumah? Apa masalahnya?" tanya Juwita pada sang suami.


"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Anggi lirih.


Ingin rasanya Anggi membantu mencari Syifa. Namun, tidak bisa, sebab ia baru pindah rumah, mana mungkin dia pergi begitu saja.

__ADS_1


. . .


Malam hari tiba . . .


Lelah Syerkhan mencari keberadaan Syifa. Namun, sampai sekarang gadis itu belum juga ditemukan, membuat Syerkhan sangat kesal.


"Sayang, kenapa kamu pergi dari rumah?" gumam Syerkhan lirih.


Pria itu terus menyusuri jalan, berharap sang istri ia temukan, sebab dia sudah mengelilingi kota dan, belum juga membuahkan hasil.


"Bagaimana pun, aku harus mencari keberadaan Syifa, sebab dia tengah mengandung anakku. Padahal pagi tadi baik-baik saja. Bahkan, kami berhubungan tanpa paksaan," ucap Syerkhan lirih.


Syerkhan merasa menyesal sudah meninggalkan Syifa tadi, ingin rasanya ia memutar waktu agar sang istri pergi darinya.


Namun, semua sudah terjadi, kini hanya tersisa penyesalan yang ada. Syerkhan mengentikan mobil di depan rumah megah, sebab ia merasa lelah.


. . .


"Ya ampun, itu mobil om Syerkhan," ucap Syifa cemas.


Ya, Syifa tengah duduk di dalam kamarnya sambil melihat luar dari jendela kamar dan, ia melihat adanya mobil sang suami, terparkir tepat di depan gerbang rumah Dilon.


"Semoga saja dia tidak tahu kalau aku ada di sini," doa Syifa.


Gadis itu tidak ingin sang suami mengetahui keberadaannya dan, berdoa agar mereka tidak akan bertemu lagi sampai selamanya.


Syerkhan langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah, sebab ia lelah ingin segera beristirahat dan, akan mencari keberadaan Syifa besok.


"Semoga besok aku menemukannya, bila sudah menemukannya, aku tidak membiarkan dia kabur lagi," gumam Syerkhan.


. . .


Anggi menatap wajah Juwita yang sudah tertidur pulas dan, ia sejak tadi terus memikirkan Syifa yang pergi entah kemana.


Jujur, dia merasa sangat cemas dan, ingin mencari keberadaan Syifa. Namun, keadaan sekarang sudah berbeda baginya.


'Besok aku akan pergi mencari keberadaan Syifa, tanpa diketahui oleh mama atau Juwita, sebab aku tidak ingin mereka salah paham,' batin Anggi.


Saat ia memejamkan kedua matanya, Juwita memeluknya tanpa sadar, membuat Anggi merasah canggung. Namun, tidak berani memindahkan posisi sang istri.


'Juwita, gadis yang sangat lucu, dia mencintai ku dan, memendam rasa itu sendiri tanpa memberitahu ku. Padahal aku bisa saja membalas cintanya tanpa paksaan,' batin Anggi.


Tanpa sadar, Anggi tersenyum dan menikmati pelukan Juwita tanpa berniat melepaskan pelukan mereka.

__ADS_1


"Ngi, gue cinta banget sama elo," ucap Juwita dalam tidurnya, membuat Anggi langsung tersenyum lebar mendengar ucapan sang istri.


BERSAMBUNG.


__ADS_2