
Anggi tersadar kalau Syifa sekarang sudah menjadi ibu sambungnya, kemudian dia melepaskan pelukannya.
"Syifa, maafkan aku sudah memelukmu, karena aku berpikir, ini untuk pelukan terakhir kita. Sebab, sekarang kamu adalah ibu sambungku," ucap Anggi dengan lirih.
Syifa menganggukan kepala dengan air mata yang mengalir deras, karena ia tidak sanggup mendengar kata-kata Anggi, yang menyebutnya sebagai ibu sambung pria itu.
Anggi menghapus air mata Syifa, yang terus mengalir berjatuhan dengan sangat lembut, karena dia tidak bisa melihat wanita menangis.
"Syifa, aku mohon berhentilah menangis! Jangan seperti ini, aku tidak akan sanggup melihatmu bersedih terus-menerus. Lupakan semuanya dan berjalanlah mengikuti takdir," ucap Anggi dengan lembut.
"Tapi, aku tidak bisa menerima takdir ini Anggi, aku ingin bersamamu selamanya. Jika aku tidak bisa bersama denganmu, maka aku ingin ikut bersama dengan ayah dan ibuku," sahut Syifa dengan lirih.
Anggi menggelengkan kepalanya, kemudian memegang wajah Syifa dengan lembut. Karena, ia tidak ingin melihat sang pujaan hatinya pergi selamanya.
"Jangan pernah ucapkan kata itu lagi, karena aku tidak ingin mendengarnya. Walaupun kita tidak bisa bersama, jangan pernah pergi dari kehidupan ini. Tetaplah berjalan ingat buah hatimu," ucap Anggi dengan lembut.
Syifa menggelengkan kepalanya, karena ia tidak bisa menerima bayi yang ada di dalam kandungannya, apalagi bayi itu adalah benih pria yang sangat dia benci.
"Aku tidak bisa menerima benih papamu ini, apalagi aku sama sekali tidak mencintainya. Bahkan, aku benar-benar sangat membencinya, karena sudah merenggut semua kebahagiaanku dan, kebahagiaanmu," ucap Syifa dengan sangat lirih.
Anggi menggelengkan kepalanya, kemudian dia menghapus air mata Syifa dan memeluk gadis itu tanpa sadar. Sebab, ia tidak sanggup melihat wanita yang sangat ia cintai menangis terus di hadapannya.
"Aku mohon kepadamu, tenanglah aku akan selalu ada bersamamu, percayalah walaupun sekarang kamu adalah ibu sambungku," ucap Anggi dengan lembut.
"Aku akan tetap tenang, jika kamu ada di rumah papamu dan selalu ada bersamaku di sana," ucap Syifa dengan lirih.
Anggi terdiam, karena ia tidak bisa tinggal di rumah sang papa. Sebab, ia tidak sanggup melihat kemesraan yang akan diciptakan oleh pria itu bersama dengan Syifa.
"Jika tinggal di rumah itu rasanya aku tidak bisa. Tetapi, aku akan selalu ada disampingmu jika kamu membutuhkanku," jawab Anggi dengan lembut.
Syifa pun terdiam, karena ia juga memikirkan perasaan pria itu dan menganggukan kepalanya. Sebab, ia hanya butuh Anggi selalu ada bersamanya walaupun tidak tinggal satu rumah.
__ADS_1
"Sekarang turunlah, karena mama pasti menunggu kita, aku tidak enak bila terlalu lama meninggalkan mereka," ucap Anggi dengan lembut.
Syifa menganggukan kepalanya, kemudian mereka berdua bergegas turun dan berjalan kembali masuk ke dalam rumah.
Sampainya di dalam rumah, Syifa duduk di samping Dila sedangkan Anggi duduk di samping Juwita.
"Anggi, mama sangat cemas akan keadaanmu, apakah kita ke rumah sakit saja?" tanya Dila dengan sangat khawatir akan keadaan sang anak.
"Tidak usah Ma. Sebab, ibunya Juwita sudah merawat Anggi dengan sangat baik tadi malam. Bahkan, sekarang demam Anggi sudah tidak ada lagi," ucap Anggi dengan lembut.
Juwita tersenyum, karena Anggi mengakui sang ibu sangat pandai merawatnya sampai sembuh dari demam.
"Baguslah, kalau begitu sebaiknya sekarang kita berpamitan dan kita semua sarapan di luar. Apakah kalian sudah sarapan?" tanya Dila dengan lembut.
Anggi menganggukkan kepala, walaupun dia sudah sarapan, tetapi tetap ia ingin makan bersama sang mama. Sebab, tidak ingin membuat hati wanita paruh baya itu terluka.
"Juwita bersiap-siap dulu ya, mau mengambil tas karena sehabis ini kita langsung pergi ke toko. Sebab, pagi ini pesanan sangat banyak yang harus dikirim," jawab Juwita sambil bergegas pergi dari sana.
. . .
Syerkhan sudah lelah berkeliling-keliling mencari keberadaan Syifa, begitu juga dengan anak buahnya sama sekali tidak menemukan di mana keberadaan gadis itu.
Membuat Syerkhan begitu sangat kesal, karena mencari keberadaan Syifa saja mereka tidak becus.
"Tidak ada yang becus mencari keberadaan gadis itu!" seru Syerkhan dengan sangat kesal, sambil melempar semua benda-benda yang ada di hadapannya.
Semua anak buah Syerkhan bergegas pergi dari sana. Sebab, mereka berada di tempat umum dan banyak yang melihat mereka bertengkar.
Sedangkan Syerkhan, terus mencari keberadaan Syifa dengan mengemudikan motor sport miliknya, sehingga matanya melihat ke sebuah cafe terlihat di sana Syifa dan Dila begitu juga Anggi dan Juwita.
"Sialan mereka, kenapa Syifa ada di sana? Apakah mereka semua yang menyembunyikan gadis itu?!" tanya Syerkhan dengan sangat emosi.
__ADS_1
Syerkhan langsung menghentikan motor sport miliknya, di parkiran cafe kemudian bergegas masuk ke dalam dengan sangat emosi.
Brak!
Syerkhan memukul meja yang ada di hadapan Syifa, membuat garis itu tersentak kaget kemudian terjatuh pingsan.
"Astaga Syifa!" teriak Dila dengan sangat cemas.
"Syifa!" petik Anggi dan Juwita bersamaan.
"Kalian semua, menyembunyikan Syifa dariku. Dasar kalian semua penghianat!" seru Syerkhan tanpa rasa malu, karena mereka semua ditonton banyak pengunjung di sana.
Anggi tidak terima jika sang mama dibilang penghianat oleh Syerkhan, membuat ia langsung bangun dan menatap pria itu dengan tajam.
"Jangan Anda mengatakan Mama saya penghianat! Karena, istri Anda sendiri yang kabur dari rumah, bukan Mama saya atau kami semua yang membawanya kabur. Tidak ada gunanya juga untuk kami!" sahut Anggi dengan sangat emosi membuat Syerkhan menaikkan sebelah alisnya.
Karena, anak sudah sangat melawan kepadanya, sedangkan Dila langsung memegang tangan sang anak.
"Ternyata, kamu sekarang sudah melawan. Apa ini semua karena ajaran dari Mamamu?!" tanya Syerkhan dengan begitu emosi sambil menunjuk ke arah Dila.
Anggi bener-bener sangat emosi, karena Syerkhan menunjuk ke arah sang mama dan, menuduh mamanya sudah membuat dirinya menjadi seperti ini. Padahal, ia berubah karena perbuatan sang papa.
"Jaga mulut Anda, jangan sampai saya berbuat kasar kepada Anda, sebaiknya Anda pergi dari sini dan bawa istri Anda, dan jangan pernah mengganggu Mama saya lagi! Karena dia tidak akan pernah kembali ke rumah Anda!" seru Anggi dengan begitu emosi
Syerkhan kembali tersenyum simpul, kemudian dia bergegas pergi dari sana. Karena, yang ia cemaskan sekarang adalah keadaan Syifa yang pingsan karena terkejut tadi.
Setelah kepergian Syerkhan, Dila menangis tersedu-sedu, kemudian Anggi memeluk sang mama.
"Mama, jangan pikirkan pria itu lagi karena sekarang mama bukan istrinya, segera urus gugatan perceraian kalian dan Mama akan tinggal bersama Anggi juga Juwita," ucap Anggi sambil mengingat kembali kejadian tadi.
Dila diam, karena sekarang ia harus mengikuti sang anak. Sebab, hatinya begitu sangat sakit saat sang suami menuduhnya sudah menyembunyikan Syifa. Padahal, ia sama sekali tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
BERSAMBUNG.