Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
31 > Semakin merajuk, akan semakin besar cintaku


__ADS_3

Saat Syifa terbangun ada Syerkhan di depannya, ia pun langsung menjauh melihat sang suami tersenyum padanya.


'Oh Tuhan, kenapa aku bisa bersama Om Syerkhan?' batin Syifa sambil berpikir.


Gadis itu pun mencoba mengingat kembali apa yang terjadi, sebelumnya pingsan tadi dan ia dapat melihat semuanya.


"Sayang, jangan takut! Aku di sini menjagamu, bukan menyakitimu," ucap Syerkhan dengan lembut.


Syifa sama sekali tidak menjawab ucapan Syerkan sebab, ia sangat takut kepada pria itu yang terlihat sangat mengerikan.


"Sekarang, kemarilah sayang tidur di pangkuanku dan, aku akan mengelus rambutmu seperti biasanya!" Syerkhan menepuk pahanya agar sang istri tidur di pangkuannya.


Syifa sama sekali tidak menghampiri pria itu sebab, dia benar-benar sangat takut akan tatapan dari Syerkhan.


"Ayolah, jangan seperti ini. Kamu membuatku sangat kesal!" pinta Syerkhan dengan kesal.


Karena, Syifa hanya diam tidak menjawab setiap ucapannya sejak tadi. Bahkan menoleh pun tidak.


Syifa takut akan ancaman sang suami kemudian, ia bergegas tidur di pangkuan pria itu sambil menutup kedua matanya.


"Sebenarnya, kamu ini anak yang sangat baik dan menurut. Tapi, kenapa belakangan ini kamu tidak pernah mendengarkan ucapanku?" tanya Syerkhan dengan bingung.


"Sebenarnya tidak usah Syifa jelaskan lagi, karena satu bulan yang lalu, membuat Syifa benar-benar sangat trauma akan kejadian itu," sahut Syifa dengan cepat.


Karena, ia kesal kepada Syerkhan yang berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi kepadanya. Padahal, semua itu adalah ulah pria itu.


"Aku tidak menyakitimu? Aku hanya menanamkan benih ke dalam rahimmu. Karena, hanya itu yang bisa membuat aku menikahimu seperti sekarang," jawab Syerkhan dengan lembut.


Syifa begitu sangat kesal kepada sang suami hingga, mendengar suaranya saja sudah membuatnya sangat jijik.


"Sayang kamu mau apa? Katakan saja! Kepadaku dan, aku akan mencari apapun yang kau inginkan walaupun sampai ke Samudra," ucap Syerkhan dengan lembut.


"Tidak ada," jawab Syifa dengan ketus.


Syerkhan langsung menatap wajah Syifa kemudian, mengecup kening gadis itu dengan lembut membuat Syifa benar-benar sangat jijik dan mual.

__ADS_1


'Astaga, ingin sekali aku rasanya muntah. Namun, tidak bisa!' garam Syifa dalam hatinya.


Syerkhan tersenyum, karena melihat sang istri terlihat kesal kepadanya kemudian ia mengulangi, perbuatan yang lagi agar Syifa sangat kesal padanya.


"Maaf Om, bisa hentikan aktivitas itu? Sebab, Syifa benar-benar sangat jijik?" pinta Syifa kepada sang suami.


"Maaf, aku tidak bisa menghentikannya dan kamu apa?" jawab Syerkhan dengan pertanyaan.


Syifa diam dan, kembali memejamkan kedua matanya. Sebab, sudah benar-benar sangat mengantuk. Sejak hamil, ia sering sekali mengantuk bahkan di pagi hari dia pun tertidur.


"Tidurlah sayang, aku akan menemanimu di sini," ucap Syerkhan dengan lembut.


Syifa tidak menjawab ucapan Syerkan dan, ingin terus memunculkan kedua matanya sehingga, ia pun tertidur pulas sedangkan Syerkhan masih mengelus rambutnya sang istri.


"Aku akan di sini sayang, sampai kamu bangun nanti. Karena, aku tidak ingin kamu kabur lagi, sebab itu membuatku sangat kesal," ucap Syerkhan dengan lembut. Namun, dengan nada mengancam.


Syifa masih bisa mendengar samar-samar suara Syerkhan dan, ia pun kembali terbang, sebab pria itu sangat berisik.


"Bisakah tinggalkan Syifa, di sini Om?" tanya Syifa dengan lema.


Syifa menghela nafas panjang, karena Syerkhan sama sekali tidak mau pergi meninggalkannya sendiri.


Padahal, pria itu sangat berisik dan menganggu tidurnya sampai Syifa tidak bisa tidur lagi.


Tiba-tiba Syifa terdiam, saat mencium aroma tubuh Syerkhan yang begitu menenangkan. Padahal, biasanya dia tidak pernah menyukai aroma tubuh pria itu, namun kali ini berbeda.


'Ada apa dengan diriku, kenapa aku seperti ini? Apakah, ini karena bawaan dari janin yang aku kandung?' batin Syifa sambil berpikir.


Syerkhan terus memijat kepala Syifa membuat gadis itu tenang, walaupun mulutnya berkata sangat jijik pada kepadanya. Namun, tubuhnya menginginkan hal ini.


'Aku tahu sebenarnya, dia itu sangat menginginkan hal ini. Tapi, dia males saja mengatakannya sebabnya terlalu gengsi,' batin Syerkhan.


Syerkhan menghentikan langkahnya membuat, Syifa heran kemudian gadis itu pun bangun dan menatap wajah sang suami.


"Kamu menginginkan hal ini, bukan?" tanya Syerkhan sambil tersenyum simpul.

__ADS_1


Syifa menggelengkan kepalanya, kemudian dia tidur kembali di pangkuan pria itu membuat Syerkhan tersenyum. Sebab, tingkah seperti inilah yang ia suka dari diri Syifa.


"Kamu tahu tidak semakin kamu sering merajuk, maka aku akan semakin mencintaimu. Semakin besar pula kamu merajuk maka semakin besar pula cintaku kepadamu," ucap Syerkhan dengan lembut.


Syifa terdiam, karena Syerkan benar-benar sangat tidak waras, dirinya merajuk saja pria itu sangat mencintainya, apalagi ia juga mencintai sang suami maka seperti apa rasa cintanya nanti?


'Aku merasa Om Syerkan ini sudah depresi? Apa, sebaiknya aku bahwa dia ke dokter saja? Agar, tidak terlalu mencintaiku. Karena, aku masih berharap bisa bersama dengan Anggi,' batin Syifa lirih.


Gadis itu pun berpikir besok ia akan menemui psikolog, untuk menanyakan apa yang terjadi kepada diri Syerkhan, mengapa pria itu sangat mencintainya. Padahal, sebelumnya mereka saling menyayangi sebagai seorang anak dan ayah.


"Tidurlah sayang, aku tidak ingin bayi kita mengantuk. Apakah kau ingin makan dan aku akan memaksakan untukmu?" tanya Syerkhan dengan lembut.


"Tidak! Terima kasih Om, Syifa tidak ingin makan walaupun sejak tadi pagi belum memakan apapun," tolak Syifa dengan lembut.


Syerkhan langsung memindahkan kepala Syifa ke tempat tidur, kemudian dia pun bergegas bangun tanpa mengatakan apa pun dan berlalu pergi dari sana, membuat Syifa sangat heran.


"Apa tadi aku salah bicara? Kenapa, om Syerkhan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun?" gumam Syifa sambil menatap kepergian sang suami.


Syerkhan pergi bukan karena kesal kepada Syifa, namun ia pergi untuk mencari makanan apa yang diinginkan oleh Syifa, ia pun berjalan menuju dapur dan menghampiri pembantu.


"Mbok, bila seorang wanita hamil tidak ingin makan apa pun, apa yang harus aku berikan kepadanya?" tanya Syerkhan kepada sang pembantu.


"Biasanya, ibu hamil itu suka makan buah-buahan dan susu khusus ibu hamil, kalau tidak ingin memakan nasi karena itu bisa saja terjadi, sebab bawaan janin," jawab si mbok.


"Terima kasih Mbok, kalau begitu saya pergi dulu," ucap Syerkhan sambil bergegas pergi.


Syerkhan bergegas pergi dari rumahnya menuju Swalayan terdekat, sebab ia ingin membeli buah-buahan dan juga susu khusus ibu hamil untuk Syifa.


Setelah sampai di Swalayan, ia langsung turun dan mencari susu ibu hamil. Syerkhan begitu bingung karena banyak sekali bermacam merek susu di sana membuatnya susah untuk memilih salah satu.


"Astaga, aku harus memilih yang mana? Aku sangat bingung, apakah yang ini? Lalu, apakah yang itu? Apakah yang lebih bagus, yang ini? Aaahhh! Semua membuat aku benar-benar sangat pusing," ucap Syerkhan dengan bingung.


Syerkhan terdiam, kemudian mengingat kembali saat Dila hamil Anggi, dan ia pun mengambil yang disukai sang istri dulu, sebab ia berpikir adiknya Anggi akan suka susu itu juga.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2