
Syifa sudah bersiap-siap, sebab hari ini akan pergi menemui Dokter, karena ia ingin menanyakan resiko untuk menggugurkan kandungannya.
"Bagaimana ya, caranya agar aku pergi tanpa sepengetahuan semua anak buah Om Syerkan?" gumam Syifa sambil terus berjalan ke luar dari kamarnya.
"Nona muda, mau ke mana?" tanya anak buah Syerkhan sambil menghampiri Syifa.
Syifa mahalan nafas panjang, sebab baru ke luar kamar dia sudah diketahui, apalagi jika ia ke luar rumah semua anak buah Syerkhan pasti menangkapnya.
"Aku ingin ke kantor suamiku, karena aku ingin membantu pekerjaannya, kalian juga tahu bukan karena pekerjaannya itu juga menjadi pekerjaanku?" jawab Syifa dengan pertanyaan.
"Oh, benar sekali. Tapi, kenapa tidak pergi bareng saja tadi?" jawab anak buah Syerkhan dengan pertanyaan, membuat Syifa bingung.
'Ini namanya mau menghapuskan diri, apa yang harus aku lakukan, agar mereka percaya padaku?' batin Syifa sambil berpikir.
"Oh, tadi aku merasa sangat pusing jadi om Syerkhan meninggalkan aku dan, sekarang aku sudah merasa lebih baikngan dan ingin menemuinya, membantu pekerjaan dia," jawab Syifa dengan lancar.
Semua anak buah Syerkhan menganggukkan kepala, karena mereka mempercayai ucapan Syifa dan membiarkan gadis itu pergi.
Menipu anak buah Syerkhan begitu mudah untuknya dan, dia pun langsung pergi dari sana, karena takut anak buah Syerkhan akan menangkapnya dan tidak mengizinkannya pergi.
Gadis itu naik taksi menuju rumah sakit yang biasa ia datangi, tak berselang lama akhirnya dia pun sampai dan, langsung masuk ke dalam untuk mengambil nomor.
'Semoga saja aku tidak mendapatkan resiko apapun dan, aku dengan mudah membuang bayi ini dalam kandunganku,' batin Syifa.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya nomor antrian Syifa dipanggil dan gadis itu pun masuk ke dalam ruangan dokter.
"Sendirian, tidak ditemani suaminya?" tanya Dokter kandungan tersebut.
"Tidak Dok, suami saya bekerja jadi saya di sini sendirian," jawab Syifa.
Dokter langsung memeriksa kandungan Syifa, dan terlihat usia kandungan gadis itu baru memasuki empat Minggu.
__ADS_1
"Semuanya bagus, kandungan Anda juga sehat dan, kamu juga sehat," ucap Dokter tersebut.
"Dok, jika saya ingin menggugurkan kandungan ini, apakah bisa?" tanya Syifa dengan pelan agar tidak ada yang mendengarkan ucapannya.
Dokter tersebut sangat terkejut, karena Syifa melontarkan pertanyaan itu dan, dia pun langsung menatap wajah Syifa.
"Kenapa kamu ingin melenyapkan bayi yang belum terlahir? Bahkan, ia pun tidak tahu apa salahnya sampai kamu ingin membuangnya?" tanya Dokter tersebut pada Syifa.
Syifa menceritakan semua yang terjadi kepadanya dan, Dokter itu pun merasa iba. Sebab, ia tahu posisi wanita yang sedang mengandung akan lebih mudah stress dan, depresi jika terlalu banyak beban pikiran, apalagi seperti yang dialami Syifa untungnya gadis itu tidak stress.
"Saya ingin memberikan kamu tantangan, jika kamu berhasil melewatinya maka saya akan membantu kamu, sebab seratus orang yang sudah datang ke saya untuk meminta melenyapkan bayi mereka, semuanya gagal dalam tantangan itu dan, memilih melahirkan janin yang mereka kandung," ucap Dokter tersebut.
"Apa tantangan Dok? Saya pasti akan bisa walaupun mereka tidak bisa saya pasti mampu," jawab Syifa dengan pertanyaan.
Dokter tersebut tidak menjawab dan, ia mengambil sebuah kota kecil kemudian memberikan itu kepada Syifa, gadis itu pun langsung membuka kotak tersebut.
"Bukankah ini janin? Namun, ini terlihat seperti palsu?" tanya Syifa sambil terus menatap ke arah janin kecil mainan yang ia pegang.
Syifa bergidik ngeri, karena ia membayangkan bayi sungguhan yang ia putuskan kepalanya karena, janin itu terlihat seperti asli walaupun itu hanya mainan.
"Tapi Dok, kenapa ini terlihat sekali asli? Apakah, tidak ada yang lain?" tanya Syifa sambil menatap ke arah Dokter itu.
"Tidak ada! Namanya juga tantangan, kamu harus bisa menyelesaikannya dalam waktu dua hari, jika kamu berhasil maka saya akan melakukan apa yang kamu inginkan, jika kamu tidak berhasil maka kamu harus mempertahankan janin itu sampai dia terlahir ke dunia ini," jawab Dokter tersebut.
Syifa meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melakukan itu, sebab tantangan itu benar-benar sangat mudah hanya tinggal menarik kepala boneka itu dan ia berhasil.
Setelah selesai, ia pun bergegas pulang karena takut jika Syerkhan, mengetahuinya pergi karena ia tahu anak buah suaminya pasti akan mengadu.
Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke dalam kamarnya karena merasa aman Syerkan belum pulang.
"Aku yakin, aku mampu melakukan ini, bukanlah hal yang sangat sulit. Bahkan, anak kecil pun sanggup melakukannya apalagi aku aku," gumam Syifa dengan sangat percaya diri.
__ADS_1
Gadis itu mulai membuka kotak dari Dokter tadi dan, mengambil janin mainan kemudian ia pun hendak menarik kepala janin mainan itu, namun dia menghentikan langkahnya.
"Apa yang aku lakukan, kenapa aku tidak sanggup melakukan ini? Janin ini hanya mainan bukan sungguhan?" tanya Syifa pada diri sendiri.
Gadis itu menangis tersedu-sedu, entah mengapa ia merasa sangat sedih dan langsung mengelus perutnya.
Kemudian, gadis itu membayangkan kalau janin yang ada di kandungannya, yang akan ditarik dan dihancurkan satu persatu membuat dia benar-benar tidak sanggup membayangkan hal itu.
"Tidak! Aku, tidak sanggup melakukan ini semua!" teriak Syifa dengan sangat histeris.
Gadis itu pun melemparkan janin mainan itu ke sembarang arah, kemudian dia naik ke atas tempat tidur dan menutup wajahnya menggunakan bantal.
Syifa menangis karena ia tidak bisa terbebas dari pernikahan, yang benar-benar sangat menyiksa jiwa dan batinnya.
"Maafkan mama Nak, tapi mama tidak sanggup terus bersama papamu apakah mama salah?" ucap Syifa dengan lirih.
Gadis itu merasa perutnya keram dan, ia pun langsung bergegas bangun kemudian mengelus-ngelus perutnya dengan lembut.
"Aku akan tetap mempertahankan mu, tetapi aku tidak yakin jika aku akan selalu waras selama pernikahan kami, sebab tadi malam saja aku hampir dipaksa melakukan itu lagi," ucap Syifa dengan lirih.
Ya, Syerkan tadi malam meminta Syifa untuk melayaninya, namun gadis itu pandai sekali beralasan mengatakan bahwa perutnya sakit dan ia butuh istirahat, Syerkhan pun menuruti karena gadis itu tengah mengandung anaknya.
. . .
Syerkhan tersenyum simpul, saat melihat CCTV rumah, Syifa sudah kembali karena ia tadi mendapatkan laporan, dari anak buahnya bahwa Syifa pergi untuk menemuinya, namun gadis itu sama sekali tidak datang.
"Sebenarnya ke mana dia pergi, kenapa hanya sebentar ia sudah kembali lagi? Apakah dia menemui Anggi, atau ia pergi ke tempat lain?" Syerkhan menerka-nerka Syifa pergi ke mana.
Karena, dia penasaran gadis itu pergi hanya dua jam, walaupun waktu itu lama, tetap saja ia menganggap singkat karena sang istri sudah kembali.
BERSAMBUNG
__ADS_1