Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
28 > Lumrah


__ADS_3

Syifa terbangun, kemudian dia memegang kepala yang terasa sangat sakit, dan ia duduk di bibir ranjang sambil mengingat apa yang terjadi sebelum pingsan.


Gadis itu mengingat semua yang terjadi, kemudian meneteskan air mata karena masih sangat sedih akan takdir, yang tidak berpihak kepadanya.


"Tuhan, kenapa tidak bawa aku bersama ayah dan ibu, mengapa aku di sini sendiri tidak ada yang menemani?" tanya Syifa dengan sangat lirih.


Syifa kembali menangis tersedu-sedu, kemudian ia mendengar panggilan dari sang suami. Dengan berat hati, ia pun berjalan menghampiri pintu.


"Tuan Syerkhan, maafkan saya karena tidak bisa membuka pintu kamar ini, sebaiknya Anda jangan menunggu saya!" teriak Syifa dari dalam.


Syerkhan sangat kesal akan ucapan Syifa, karena ia ingin mengambil haknya sebagai seorang suami malam ini.


"Kurang ajar sekali anak bau kencur itu, dia pikir aku ini siapa? berani mengatur-ngetur!" geram Syerkhan sambil berjalan menghampiri pintu kamar Syifa.


Dengan tenaga kuat ia pun mengetuk-ngetuk pintu itu, dan mendengar tangisan dari dalam kemudian ia menghentikan langkahnya.


'Apa sebaiknya aku ikuti kemauan dia, dengan perlahan aku bisa mengambil hatinya. Karena, jika aku selalu memaksanya dia tidak akan luluh padaku. Bahkan, Syifa sangat membenciku,' batin Syerkhan sambil berpikir.


Pria itu memutuskan agar tidak mengganggu Syifa, kemudian dia berlalu pergi dari sana dan Syifa pun mulai berhenti menangis.


"Baguslah, om Syerkhan sudah pergi karena aku sangat takut, jika ia menyentuh lagi seperti malam itu. Walaupun tidak ingat jelas Tapi, aku masih ingat rasa sakitnya," ucap Syifa dengan lega.


Gadis itu berjalan menuju lemari pakaian, kemudian mengambil bajunya yang masih tertinggal di sana lalu ia menggunakan baju.


"Sebaiknya aku kabur dari sini, sebelum om Syerkhan menemui aku, lagi pula aku ingin menemui Anggi di tokonya. Karena, ingin memeluk dia," ucap Syifa dengan pelan agar tidak ada yang mendengarkan ucapannya.


Gadis itu pun berjalan menuju jendela kamar, kemudian membuka sakit tirai dan melihat para penjaga yang sudah tidak ramai lagi. Karena, hari sudah semakin marut.


Dengan perlahan, Syifa membuka jendela kamar dengan begitu pelan agar tidak ada yang mendengarkannya.

__ADS_1


Setelah ke luar, dia langsung berjalan dengan cepat agar bisa sembunyi di sebalik pohon. Sebab, ada salah satu penjaga yang datang.


'Ya Tuhan, selamatkan aku dari penjaga itu. Semoga dia tidak melihatku dan aku bisa segera pergi dari sini,' doa Syifa dalam hatinya.


Para penjaga itu berkeliling, kemudian bergegas pergi dari sana. Sebab, tidak ada hal yang mencurigakan di mata mereka.


Syifa pun bernafas lega, kemudian dia terus berjalan sampai di depan gerbang tidak melihat adanya satpam, dan ia pun berlari dengan sekuat tenaganya.


"Akhirnya aku bisa terbebas, dari rumah om Syerkhan dan aku akan menghampiri Anggi di tokonya," gumam Syifa sambil terus berlari.


Gadis itu menyetop taksi kemudian ia naik ke dalam mobil taksi dan, meminta sopir itu mengemudikan mobil menuju toko Anggi.


Setelah sampai di toko Anggi, Syifa tidak melihat lampu menyala di toko itu dan mengambil kesimpulan bahwa Anggi tidak ada di dalam.


'Sepertinya Anggi tidak ada di dalam, dan aku harus ke mana lagi mencarinya? Apa dia ada di rumah Juwita?' batin Syifa sambil berpikir.


Gadis itu pun meminta sopir taksi mengemudikan mobil menuju rumah Juwita. Sebab, ia sangat yakin kalau sang mantan ada di rumah sahabatnya.


Syifa pun meneteskan air mata dengan sangat deras, kemudian membayar taksi itu dan bergegas turun dari mobil.


'Benar adanya Anggi di sini, apakah aku masuk ke dalam dan menemui pria itu. Tapi, aku tidak yakin dia ingin berbicara denganku atau mendengarkan ucapanku?' batin Syifa lirih.


Gadis itu berjalan dengan langkah bergetar dan air mata, yang mengalir dengan deras menuju jendela rumah Juwita.


Syifa mengintip ke dalam dan melihat Juwita tengah menatap wajah Anggi, dengan sangat dalam membuat hatinya benar-benar sangat sakit.


"Sebaiknya, aku pergi saja dari sini karena aku tidak sanggup melihat pemandangan ini. Cepat atau lambat, mereka juga akan menikah." Syifa bergegas pergi dari sana. Sebab, ia takut Juwita mengetahui keberadaannya.


Juwita melihat sekilas seseorang pergi dari balik jendela, kemudian dia pun cepat-cepat berlari menuju pintu dan membuka pintu.

__ADS_1


"Eh, itu bukannya seperti Syifa? Tapi, tidak mungkin dia berkeliaran malam-malam seperti ini, apalagi dia sudah menikah dengan om Syerkhan, yang otomatis malam ini adalah malam pertama untuk mereka," gumam Juwita sambil kembali menutu.p pintu rumahnya.


Kemudian, gadis itu berjalan menghampiri Anggi duduk di samping pria itu dan sang sahabat langsung terbangun.


"Gue di mana, kenapa kepala gue pusing banget?" ucap Anggi dengan lema.


"Ada di rumah gue," sahut Juwita.


Anggi langsung terbangun, kemudian duduk sambil menatap wajah sang sahabat yang ada di sampingnya.


"Gue pulang aja deh, karena gue nggak enak sama nyokap lu, kalau gue ada di sini," ucap Anggi dengan sangat tidak enak, ia takut merepotkan orang tua Juwita.


Juwita melarang Anggi pulang, karena ia takut pria itu kenapa-kenapa di jalan, apalagi malam sudah sangat larut yang artinya tidak ada orang lagi berlalu lalang.


"Istirahat aja di sini, besok pagi kita pergi bareng-bareng ke toko. Jangan khawatir, ibu gue baik kok dia juga tadi khawatir banget sama lo," ucap Juwita dengan lembut dan Anggi langsung menganggukan kepala.


Karena, ia takut jika ia pergi maka ibunya Juwita akan sangat marah padanya. Sebab, sudah sangat lama mengenal orang tua Juwita dari pertama kenal gadis itu.


"Apa ibu lo mau ngurusin pernikahan kita? Apalagi, pernikahan kita itu cuman sandiwara?" tanya Anggi dengan lembut.


Juwita menganggukan kepalanya, kemudian menceritakan bahwa sang ibu merestui pernikahan mereka. Sebab, ia mengatakan mereka saling mencintai. Namun, Anggi tidak tahu sama sekali hal itu.


Sebab, takut pria itu kesal kepadanya karena ia sudah berkata bohong tentang perasaan mereka kepada sang ibu.


"Elo emang sahabat terbaik gue, apalagi elo baik banget sama gue dari dulu sampai sekarang," ucap Anggi dengan sangat bahagia, dan langsung memeluk Juwita.


Juwita pun tersenyum, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Anggi karena ia menikmati pelukan sang sahabat.


'Aku berharap setelah kami menikah nanti Anggi akan sangat mencintaiku, dan dia bisa melupakan Syifa, yang sekarang sudah menikah dengan papanya,' batin Juwita dengan penuh harapan.

__ADS_1


Anggi tidak merasa heran, saat Juwita melingkarkan tangannya di pinggangnya. Karena, ia menganggap hal itu lumrah. Sebab, mereka sering berpelukan dari dulu sampai sekarang.


BERSAMBUNG.


__ADS_2