Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
55 > Seperti anak-anak


__ADS_3

Syerkhan tersenyum saat mengingat kenangan manisnya bersama Syifa, saat mereka masih menjadi ayah dan anak angkat, membuat Edwin juga tersenyum.


"Tuan, saya pamit undur diri, sebab masih banyak pekerjaan yang lain harus dikerjakan," ucap Edwin lembut.


Syerkhan tersadar dari lamunannya, kemudian mengibaskan tangan yang artinya, Edwin boleh pergi dari hadapannya. Setelah sang sekertaris, ia pun menelpon Syifa.


Sebab, tiba-tiba dia rindu pada sang istri dan calon anak yang masih di dalam kandungan Syifa, namun gadis itu tidak menjawab teleponnya.


"Sudahlah, nanti setelah aku siap bekerja, aku akan membelikan hadiah untuknya," gumam Syerkhan sambil menyimpan kembali ponselnya.


Pria itu kembali mengerjakan tugas sampai selesai. Setelah itu, Syerkhan bergegas pulang, namun ia berhenti di salah satu mall ingin membeli hadiah untuk Syifa.


"Aku mau beli apa ya?" gumam Syerkhan bingung.


Pria itu terus menyusuri mall dan, matanya melirik ke arah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, terlihat mereka sangat bahagia.


"Apa mereka memang ada hubungan, sebelum kami bercerai?" tanya Syerkhan pada diri sendiri.


Ya, sepasang kekasih yang dilihatnya adalah Dila dan Dilon yang tengah memilih buah-buahan tepat dihadapannya, dia pun tidak tinggal diam, langsung menghampiri mereka.


"Dasar pengkhianatan!" seru Syerkan.


Sontak, membuat Dila dan Dilon langsung menoleh, juga semua orang yang berada di sana menatap Syerkan dengan lekat.


"Apa maksudmu?!" tanya Dilon dengan kesal.


Sebab, Syerkan datang dan langsung menyebut mereka dengan kata penghianat. Padahal keduanya menjalin hubungan sama-sama single.


"Kau dan dia, kalian adalah pengkhianatan!" teriak Syerkan kesal.


Membuat Dila tertawa juga Dilon, sebab mereka merasa lucu akan ucapan Syerkan, yang mengatai dirinya sendiri.


"Coba kamu pulang dan berkaca, siapa yang pengkhianatan!" seru Dila kesal.


Sebab, dia tidak tahan akan sikap Syerkan yang menuduhnya sebagai pengkhianatan. Padahal pria itulah yang mengkhianati dirinya dan anak mereka, hanya demi egonya.


"Apa maksudmu?!" tanya Syerkan kesal.

__ADS_1


Sebab, dia tidak terima bila disebut sebagai pengkhianatan, walaupun semuanya kenyataan.


"Mas, sebaiknya kita bicara di rumah, kalau di sini kamu yang akan diperlakukan pada dirimu sendiri," ucap Dila tegas.


Wanita paruh baya itu bergegas pergi dari sana bersama Dilon, sebab mereka tidak ingin melayani Syerkhan yang ingin menang sendiri.


"Dasar tidak tahu malu!" geram Syerkan sambil berjalan pergi dari sana.


Pria itu benar-benar sangat kesal pada mantan istrinya, karena terlihat bahagia bersama kekasih barunya.


"Aku beli coklat saja, sudah pasti Syifa akan sangat suka pada coklat dan buah-buahan," gumam Syerkhan.


Pria itu langsung mengambil buah-buahan dan juga coklat dengan jumlah banyak, sebab dia ingin Syifa bahagia dan semakin mencintainya.


Setelah selesai membayar, Syerkan bergegas pulang, pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera cepat sampai.


"Astaga! Aku lupa, tadi aku ingin membeli susu Syifa. Tapi, malah membeli coklat dan buah," gumam Syerkhan.


Namun, dia tidak memutar balik kendaraannya, karena ingin segera sampai di rumah dan, bertemu dengan istri tercintanya.


Setelah sampai, dia langsung turun dan membawa barang-barang yang dibeli tadi, kemudian masuk ke dalam rumah, pria itu meletakan semua barang belanjaannya di sofa, sebab melihat adanya Dila dan Dilon bersama Syifa.


"Om, semua sudah dijelaskan oleh Tante Dila dan, Om sangat keterlaluan," ucap Syifa kesal.


Sebab, dia malu akan apa yang didengar dari mulut Dila dan, tidak bisa memaafkan kelakuan Syerkhan, yang seperti anak-anak.


"Sayang, semua tidak seperti yang kamu dengar, kamu salah paham," ucap Syerkhan lembut.


"Ck, bersikap manis pada istrimu dan, seolah-olah tidak terjadi apapun di antara kita," ucap Dilon kesal.


Sebab, mereka dipermalukan oleh Syerkhan didepan umum, namun pria itu membantah kenyataan yang sebenarnya.


"Tutup mulutmu Dilon! Aku sudah menganggap mu sebagai kakakku. Tapi, kau malah mengkhianati aku!" seru Syerkan kesal.


"Kakak katamu. Tapi, kau malah menuduhku dan Dila sebagai pengkhianatan. Padahal kami bertemu setelah kalian bercerai, lalu siapa yang pantas disebut pengkhianatan?" jawab Dilon dengan pertanyaan.


"Kau!" seru Syerkan tidak terima akan sindiran Dilon.

__ADS_1


"Cukup!" teriak Syifa.


Sebab, dia tidak sanggup melihat perdebatan diantara orang-orang yang disayangi, apa lagi dengan wanita yang selama ini menjadi ibunya.


"Cukup semuanya! Syifa mohon, jangan bertengkar dan saling menyalahkan, karena kita keluarga dan, jangan ungkit masalah lalu, sebab kita akan hidup di masa depan, bukan masalah lalu," ucap Syifa lirih.


Gadis itu menitihkan air mata, karena sedih dan, mengingat malam kelam bersama Syerkhan, juga mengingat kembali pernikahan yang diimpikan gagal.


"Sayang tap-" terputus, karena Syifa langsung menyerang ucapannya.


"Cukup Om! Syifa tidak ingin mendengar keributan apapun lagi, yang Syifa ingin dengarkan kita hidup damai dan rukun, bukan selalu bertengkar dan saling menyalahkan," potong Syifa.


"Maafkan kami Syifa, mama kemari bukan ingin melihatmu bersedih. Tapi, ingin menyesuaikan salah paham yang terjadi tadi," ucap Dila lirih.


Syifa menangis tersedu-sedu dan, Dila langsung memeluk gadis itu dengan lembut, kemudian mengelus kepala Syifa.


"Jika masih ada dendam diantara kalian semua, silahkan pergi dari sini dan selesaikan, sebab Syifa tidak ingin mendengar keributan lagi," pinta Syifa lirih.


"Hei Cinta, aku tidak ingin ribut dengan suamimu, apa lagi denganmu, sebab aku adalah keluargamu satu-satunya," sahut Dilon lirih.


Sedangkan Syerkhan, hanya diam tak bersuara seperti sebelumnya, sebab dia bingung harus berkata apa, sehingga pria itu langsung bergegas pergi tanpa mengatakan apapun.


"Sayang, kamu sabar menghadapi sifat mas Syerkhan, karena dia memang seperti itu dari dulu," ucap Dila lembut.


"Baik Tante, sebaiknya Syifa masuk ke kamar dulu ingin berbicara dengan om Syerkhan," ucap Syifa lembut.


Dila menganggukkan kepalanya, kemudian mereka bergegas pergi dari sana. Setelah itu, Syifa berjalan masuk ke dalam kamar sambil membawa buah dan coklat yang dibawa tadi oleh sang suami.


"Om Syerkan," panggil Syifa lembut.


Syerkhan langsung menoleh, kemudian dia memeluk Syifa dengan lembut dan, menangis sejadi-jadinya, sebab dia merasa bersalah akan apa yang terjadi tadi.


"Maafkan aku yang tidak dewasa, maafkan aku karena selalu membuatmu menangis seperti tadi," ucap Syerkhan lirih.


"Syifa maafkan. Tapi, jangan mengulangi lagi seperti tadi, karena itu hanya akan merusak tali persaudaraan kita," jawab Syifa lembut.


Syerkan menganggukkan kepalanya, kemudian bangun dan, mencium wajah sang istri dengan lembut secara bertubi-tubi dan, Syifa hanya diam menerima setiap sentuhan suaminya.

__ADS_1


'Setahuku dulu, Om Syerkan tidak pernah bersikap manja pada tante Dila. Tapi, saat bersamaku dia sangat manja seperti anak-anak. Padahal usianya sudah tua,' batin Syifa.


BERSAMBUNG.


__ADS_2