Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
71 > Kepo


__ADS_3

Dilon dan Dila, menyusun acara pernikahan mereka yang akan digelar pada bulan depan, karena anak-anak mereka tidak sabar meminati hari pernikahan mereka.


Dari gedung sampai segalanya, sudah mereka siapkan, sebab tidak mau merepotkan orang lain, karena itu, Dilon dan Dila menyampaikan semuanya berdua.


"Aku rasa, tidak perlu terlalu mewah, karena ini bukan pernikahan pertama buat kita," ucap Dila lembut.


"Tapi, ini pernikahan kita untuk yang pertamakali," sahut Dilon.


Dila tersenyum dan, mereka pun kembali melanjutkan pekerjaan untuk acara resepsi pernikahan mereka, yang akan digelar di hotel berbintang lima dengan sangat mewah dan megah.


"Aku ingin, pernikahan kita ini untuk selamanya, sampai maut memisahkan kita berdua," ucap Dilon lembut.


"Aku juga mengharapkan hal itu," sahut Dila lembut.


Mereka berdua saling tersenyum sambil menatap satu sama lainnya, kemudian kembali mengerjakan tugas masing-masing. Tanpa disadari oleh mereka, ternyata Anggi dan Micella mengintip dari sebalik pintu.


"Hei, apa yang kamu lihat?" tanya Anggi sambil berbisik.


"Apa?" jawab Micella dengan berbisik juga.


Anggi langsung menutup mata Micella dan, gadis kecil itu tidak terima, sehingga dia langsung menghempaskan tangan sang kakak dari wajahnya.


"Apa maksudmu menutup mataku?!" tanya Micella dengan sangat emosi.


"Astaga! Tutup mulutmu, apa kamu ingin mereka melihat kita mengintip?" tanya Anggi sambil menutup mulut Micella.


Micella langsung diam dan, Anggi pun melepaskan tangannya, kemudian mereka berdua bergegas pergi dari sana. Karena, merasa takut ketahuan oleh orang tua mereka.


Sesampainya mereka di ruang tamu, keduanya duduk sambil menghela nafas panjang, seperti orang yang baru bebas dari kejaran Polisi.


"Tutup mulutmu itu, bila kita sedang mengintip seperti tadi. Jika ketahuan, maka kita akan malu," ucap Anggi dengan lembut.


Namun, kata-kata sangat tidak enak didengar oleh Micella, sehingga gadis itu pun langsung mencekik leher sang kakak dengan kuat.


"Lepaskan!" teriak Anggi.


Micella tertawa dan, melepaskan cengkeramannya, kemudian dia berlari pergi dari sana, karena dia takut Anggi marah padanya.

__ADS_1


"Dasar bocah!" teriak Anggi.


Pria itu menghela nafas panjang, karena Micella dan Dilon datang ke rumahnya, membuat dia harus bersabar menghadapi sikap Micella yang masih kanak-kanak.


"Astaga! Aku harus sabar, karena dia dan aku akan menjadi kakak dan adik, yang artinya kami akan tinggal satu rumah setiap harinya," ingat Anggi pada dirinya sendiri.


Sebab, dia sering kali kelepasan menghadapi Micella yang selalu saja menyiksanya. Namun, dia tidak pernah bersikap kasar pada gadis itu, hanya ia sering mencubit pipi Micella dengan lembut.


Namun, Micella tetap merasa sakit dan, mengandukan sikap sang kakak pada papanya juga Dila, sehingga Anggi yang diberikan hukuman oleh mereka berdua.


"Anggi, kamu kok berkeringat?" tanya Juwita yang baru saja sampai.


Sontak, membuat Anggi langsung menoleh dan, menjelaskan semua pada sang istri. Membuat Juwita terkekeh, karena dia lucu melihat Micella dan sang suami selalu bertengkar.


Ya, walaupun pertengkaran mereka seperti kucing dan tikus yang ada di film kartun kesukaan Micella. Tetap saja, hal itu membuat Juwita lucu.


"Sudahlah, aku pun tidak masalah akan sikapnya. Tapi, kamu tahu ' kan? Kalau, mama dan papa, selalu salah menilainya," ucap Anggi lirih.


"Sudah, lagi pula, papa dan mama, hanya ingin menehur kalian, agar tidak selalu bertengkar. Jadi, jangan di ambil hati," ucap Juwita dengan lembut.


Anggi tersenyum, karena sang istri sangat pengertian padanya. Selalu membuatnya bahagia dan, mengerti akan posisinya sebagai seorang kakak.


Syerkhan dan Syifa baru saja pulang dari rumah sakit, karena Syifa mengeluh keram dibagian perutnya. Hal itu, membuat Syerkhan sangat mencemaskan sang istri. Namun, Dokter mengatakan, bahwa wanita hamil memang akan sering mengalami keram.


"Syukurnya, anak kita baik-baik saja! Jadi, aku bisa tenang dan, bernafas lega," ucap Syerkhan lembut.


Pria itu mengecup kening sang istri dan, dia pun mencium perut Syifa dengan lembut sambil mengelus-elus perut sang istri.


"Iya Om, ternyata tadi hanya keram biasa," sahut Syifa lembut.


Syerkhan tersenyum dan, dia langsung bangun. Kemudian memeluk Syifa dengan sangat lembut dan masrah. Entah mengapa, ia sangat mencintai gadis itu, apa lagi sekarang mereka sudah saling mencintai.


Hal itu, membuat Syerkhan seperti terbang ke awan dan dapat mengambil awan dengan jumla banyak.


"Dirimu dan dia, adalah anugrah terindah yang pernah aku dapatkan," ucap Syerkhan lembut sambil memegang perut Syifa.


Syifa tersenyum dan, dia pun mencium tangan Syerkhan dengan lembut sambil mengucapkan sesuatu. Namun, sang suami sama sekali tidak mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Apa yang kamu ucapkan tadi?" tanya Syerkhan lembut.


Sebab, dia sangat penasaran apa yang diucapkan oleh Syifa. Namun, gadis itu sama sekali tidak menjawabnya, sehingga ia kesal dan, mencubit hidung mancung istirnya.


"Jangan belajar kenakalan dariku, karena hanya aku yang boleh nakal. Kamu, tidak boleh!" pinta Syerkhan.


"Oh seperti itu. Jadi, Syifa tidak boleh nakal seperti Om?" jawab Syifa dengan pertanyaan.


"Tidak!" jawab Syerkhan.


Syifa tersenyum nakal dan, dia pun langsung bangun. Kemudian bergegas pergi dari sana, karena ia ingin mengambil air minum. Sedangkan Syerkhan masih berada di tempatnya.


Ponselnya pun berdering, tenyata Merlin menelponnya dan, dia pun menjawab panggilan dari wanita itu dengan rasa malas yang mendalam.


Syerkhan: Ada apa?


Merlin: Siang Pak Syerkhan, saya ingin mengundang Bapak sekeluarga makan malam di rumah saya.


Syerkhan: Baik. Tapi, saya tidak berjanji semua akan datang, karena istri dan menantu saya sedang mengandung.


Merlin: Baik Pak, hal itu sudah saya pahami.


Syerkhan langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak, karena dia tidak ingin berbasa-basi dengan Merlin. Apa lagi wanita itu sangat gatal, kalau mereka bukan rekan bisnis. Pasti ia tidak mau ada komunikasi lagi.


"Sebaiknya aku kabari Anggi, karena takutnya dia tidak bisa, sebab mengurus acara pernikahan Dila dan Dilon," gumam Syerkhan.


Pria itu langsung mengirimkan pesan kepada Anggi dan, sang anak bisa datang. Namun, tidak membawa sang istri, karena Juwita tidak enak badan. Syerkhan pun memaklumi hal itu.


"Om, ada apa?" tanya Syifa yang baru saja tiba.


Dia melihat sang suami memegang ponsel dan, jiwa keponya meronta-ronta ingin segera disalurkan dan, langsung bertanya pada suaminya.


"Nanti malam bersiaplah, kita akan makan malam bersama rekan bisnisku bersama Anggi juga," jawab Syerkhan lembut.


Syifa tersenyum, karena dia bisa melihat wanita yang diceritakan oleh Syerkhan secara langsung. Sebab, suaminya selalu menceritakan kisah di proyek bersama Merlin. Hal itu membuatnya sangat cemburu dan, ingin mengetahui seperti apa Merlin.


'Ahkirnya, aku bisa juga melihat bu Merlin seperti apa,' batin Syifa girang.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2