
Hati Syifa benar-benar sangat hancur, karena Syerkhan pria yang dianggap sebagai ayah, mencintainya. Bukan karena itu saja. Juga, sebab dia adalah calon menantu pria itu.
Syifa menangis di dalam kamarnya, dan dia langsung mengemasi barang-barang. Sebab, besok pagi-pagi sekali, dia akan pulang ke rumahnya.
'Aku tidak menyangka, kalau om Syerkhan mencintai ku. Sebab, aku sangat menyayangi dia sebagai ayahku,' batin Syifa lirih.
Rasa tidak nyaman langsung menghampirinya, dan gadis itu membayangkan semua yang telah dia lewati bersama Syerkhan.
"Aku tahu, kenapa selama ini dia baik padaku. Sebab, dia ingin dekat denganku tanpa rasa curiga dari orang sekitar kami," tebak Syifa.
Gadis itu semakin terisak-isak, saat mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu, saat Syerkhan hampir saja melecehkannya.
Gadis itu pikir, Syerkhan hanya bersikap seperti itu karena mabuk. Namun, sekarang dia tahu calon mertuanya menyukainya dan ingin memiliki dia.
"Sepertinya aku harus ke luar dari perusahaan om Syerkhan, dan juga memberitahu Anggi kalau papanya menyukaiku. Kami harus menikah secepatnya," ucap Syifa dengan cemas.
Sebab, dia takut Syerkhan akan macam-macam dan merenggut mahkota berharga miliknya, kalau dia tidak segera menikah dengan sang pacar.
Keesokan harinya . . .
Syifa sudah bersiap-siap, untuk berbicara dengan Anggi. Namun, pria itu sama sekali tidak terlihat sejak tadi.
"Di mana dia?" gumam Syifa sambil terus berjalan menuju ruang tamu.
Syifa terkejut saat ada tangan yang melingkar di pinggangnya, dan dia langsung berbalik badan. Tanya Syerkhan adalah pelakunya.
"Om!" pekik Syifa.
Gadis itu langsung menjauh dari Syerkhan, karena dia masih takut pada calon mertuanya, dari semalam.
"Anggi sudah pergi," ucap Syerkhan.
Syifa mengerutkan keningnya, karena Syerkhan tahu apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Ikutlah, aku ingin bicara sebentar dan ini sangat penting!" Syerkhan bergegas pergi dari sana.
Dengan hati yang berdebar-debar, Syifa mengikuti langkah pria itu masuk ke dalam ruangan kerja. Kemudian, dia duduk di samping Syerkhan.
"Katakan Om," ucap Syifa dengan lembut.
Syerkhan tersenyum, karena senang bisa berdua dengan Syifa seperti saat ini. Walaupun dia tahu sang istri masih ada di rumah.
"Jangan berpikir akan memberitahu Anggi masalah kita, karena aku tidak akan memberikan hal itu terjadi. Satu lagi, jangan berpikir akan ke luar dari perusahaan, karena kamu bisa seperti saat ini berkat aku dan perusahaan itu," ucap Syerkhan.
__ADS_1
Seperti di hantam benda tajam saat Syifa mendengar ucapan Syerkhan, karena selama 12 tahun mengenal pria itu. Tidak pernah mengungkit masalah ini.
"Apa hutang Budi itu bisa di bayar, Om?" tanya Syifa sambil meneteskan air mata.
"Tidak!" jawab Syerkhan dengan ketus.
Syifa menangis, karena dia tidak menyangka pria yang sangat di sayang tega melakukan hal ini padanya. Hanya karena cinta.
"Jangan menangis sayang, karena kamu masih bisa membayar semuanya saat kita di luar kota, dan jalankan meeting kita dengan lancar," ucap Syerkhan.
Syifa tersenyum, karena masih ada cara agar dia bisa terbebas dari pria itu dan, membayar hutang Budi pada Syerkan.
"Terima kasih banyak Om, Syifa akan melunasi hutang setelah sampai di sana," ucap Syifa dengan lembut.
Gadis itu menghapus air matanya, kemudian bergegas pergi dari sana. Sebab, dia akan terlambat bekerja kalau terlalu lama berangkat.
Setelah sampai di ruang tamu, ternyata Dila sudah menunggunya di sana. Mau tidak mau Syifa harus menghampiri wanita itu.
"Pagi sayang, kamu dari mana saja? Sejak tadi, mama tunggu di sini, karena mau berangkat bersama," ucap Dila dengan lembut.
Syifa hanya diam, karena dia berpikir sudah membuat rumah tangga wanita ini hancur, sampai Dila mengejutkannya.
"Iya Tante," jawab Syifa dengan lembut.
Syifa bergegas pergi bersama Dila, karena dia takut pria itu akan membawanya dan ia sama sekali tidak ada alasan apapun untuk menolak.
. . .
Anggi masih di dalam kamar, karena pintu kamarnya terkunci dari luar, entah siapa pelakunya. Yang pasti dia sudah meminta bantuan sang papa.
Syerkhan datang karena dia tahu Syifa sudah pergi dari rumah, dan langsung membuka pintu Anggi.
"Terima kasih Pa, entah siapa yang mengunci Anggi di sini," ucap Anggi dengan kesal.
Sebab, dia sudah terlambat membuka toko online miliknya, dan Syerkhan hanya tersenyum pada sang anak.
"Kamu sekarang pergi saja! Sebab, hari sudah semakin siang," sahut Syerkhan dengan lembut.
Anggi tersenyum dan bergegas pergi dari sana, karena dia benar-benar sudah terlambat ke toko.
Setelah kepergian Anggi, Syerkhan menelpon seseorang dan tersenyum bahagia karena rencanya akan berjalan dengan lancar.
"Aku akan mendapatkan apa yang aku mau," ucap Syerkhan dengan bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Pria itu selalu mendapatkan apa yang dia mau, tanpa memikirkan kedepannya. Sebab, ia adalah CEO egois yang terkenal sejak masih lajang.
. . .
Syifa terdiam, sambil terus mengerjakan tugas yang belum selesai. Padahal, hatinya sekarang tidak karuan.
"Aku tidak bisa fokus, karena masalah semalam dan tadi pagi, semuanya sangat membantuku setres," ucap Syifa dengan lirih.
Gadis itu seperti bermimpi buruk. Sebab, selama dia mengenal Syerkhan, tidak pernah mengungkit apapun yang sudah diberikan padanya.
Namun, semuanya sudah berakhir saat pagi tadi mendengar Syerkhan mengungkit semua yang sudah diberikan padanya.
"Semoga Minggu depan, saat kami ke luar kota, aku bisa melunasi hutang budi pada om Syerkhan," ucap Syifa dengan penuh harapan.
Berharap kalau masalahnya cepat selesai, dah ia bisa menikah dengan Anggi. Sebab, dia tidak sabar untuk memiliki pria itu seutuhnya.
. . .
Juwita tersenyum saat melihat Anggi baru sampai, karena sejak tadi dia terus menunggu pria itu.
"Maaf ya Juwita, aku telat karena ada masalah sedikit tadi," ucap Anggi dengan pelan.
"Tidak masalah, kamu santai saja!" jawab Juwita dengan sangat lembut.
Anggi tersenyum dan langsung masuk ke dalam. Sebab, pesanan hari ini lumayan banyak dan harus selesai malam ini juga.
Sedangkan Juwita, langsung membuat sarapan untuk Anggi, karena dia tahu sang sahabat sama sekali tidak sarapan.
"Juwita, jangan repot-repot. Sebaiknya kamu bantu aku," ucap Anggi dengan lembut.
Juwita tersenyum, karena dia hanya membuatkan kopi. Sebab, ia sudah membawa bekal dari rumah.
"Makan dulu, itu aku buatkan khusus untuk kamu," ucap Juwita dengan lembut.
Anggi berhenti dan memakan makanan dari Juwita dengan sangat cepat, membuat Anggi harus menghabiskan makanan itu.
Setelah selesai makan, Anggi tersenyum karena Juwita ada di sampingnya dengan sangat gembira.
"Kalau semuanya sudah selesai, aku pergi dulu," ucap Juwita dengan lembut.
Anggi mengangguk, dan Juwita bergegas pergi dari sana menuju ruangan kerjanya yang penuh dengan barang pesanan orang lewat online.
BERSAMBUNG.
__ADS_1