
Syerkan langsung bergegas pergi dari kamar Syifa, karena dia benar-benar sangat menyesali perbuatannya itu. Padahal, kehidupannya sangat sempurna saat dia tidak mementingkan egonya.
'Apa yang sudah aku lakukan? Hanya karena mencintai wanita yang sama, aku tega merenggut kebahagiaan anakku dan istriku,' batin Syerkhan sambil terus berpikir.
Pria itu benar-benar sangat menyesal sudah menikahi Syifa, karena ia rela menceraikan sang istri dan bermusuhan dengan anaknya.
Seketika pria itu langsung mengingat kembali kenangan mereka berempat, sebelum rasa cintanya itu muncul untuk Syifa, keluarga kecilnya benar-benar sangat bahagia. Namun, sekarang sudah musnah, sebab ia harus bercerai dengan Dila dan dimusuhi oleh Anggi.
Syerkhan duduk terdiam di pinggir kolam sambil menatap langit malam, menyesal pun sudah tidak ada gunanya lagi. Karena, sekarang semuanya sudah terjadi Syifa tengah mengandung anaknya dan, juga perceraiannya dengan Dila sudah berjalan begitu juga dengan sang anak, yang sudah membenci dirinya.
"Kenapa aku lebih mementingkan egoku? Kenapa aku merenggut kebahagiaan anakku yang sangat aku sayang," ucap Syerkhan dengan penuh penyesalan.
Tanpa sadar air mata pria itu lolos begitu saja tanpa seizin darinya, kemudian dia langsung menghapus air mata yang jatuh itu. Sebab, ia tidak ingin ada yang tahu kalau saat ini tengah menangis.
Syerkhan mengingat kembali rumah yang awalnya ramai dan dipenuhi canda tawa, kini rumah itu sudah berubah menjadi senyap. Sebab, dua orang yang sangat penting sudah pergi dari rumah dan tidak akan kembali lagi.
"Tuhan, aku tidak bisa menyesali perbuatanku yang sekarang, tetapi apakah salah aku berharap keluarga kecilku bisa kembali lagi?" ucap Syerkhan dengan lirih.
Pria itu berniat akan mencabut gugatan perceraiannya bersama Dila dan, ia ingin wanita itu menjadi istrinya kembali. Namun, ia juga tidak bisa melepaskan Syifa yang tengah mengandung buah hatinya.
"Apa yang aku harus lakukan sekarang? Aku tidak akan mungkin bisa menceraikan Syifa. Sebab, dia tengah mengandung anakku dan, juga dia tidak akan bisa menikah dengan Anggi, karena sudah menikah denganku," ucap Syerkhan lirih.
Pria itu benar-benar sangat hancur malam ini, karena baru menyadari kesalahannya dan, meratapi keegoan yang sangat diutamakan olehnya, tanpa memikirkan anak dan istrinya.
. . .
__ADS_1
Syifa hanya bisa meneteskan air matanya sambil menatap ke arah Syerkhan, yang tengah duduk di kolam, sebab kamar yang berdekatan dengan kolam.
"Salahkah aku masih berharap bisa bersama dengan Anggi dan, salah ke aku kalau aku masih menginginkan pernikahanku terjadi bersama pria yang sangat aku cintai," ucap Syifa dengan lirih.
Gadis itu menangis tersedu-sedu sambil berjalan menuju tempat tidur, kemudian dengan perlahan ia menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.
"Apakah aku salah, jika tidak mencintai suamiku? Karena, memang aku tidak pernah berniat mencintai dia, sebab aku sudah menganggap dia sebagai ayah kandungku sendiri, mana mungkin aku mencintainya," ucap Syifa dengan lirih.
Gadis itu memejamkan kedua matanya, karena ia merasa sangat pusing dan mual, entah mengapa sejak tadi pagi ia terus-menerus mual dan, anehnya lagi ia sangat ingin berada di dalam pelukan Syerkhan dan, menghirup aroma tubuh pria itu. Namun, semua tidak akan terjadi karena dia dan sang suami menjaga jarak.
"Anak mama mintanya yang lain saja ya, jangan minta mama untuk mencium aroma tubuh papa," ucap Syifa dengan lembut sambil mengelus-ngelus perutnya.
. . .
Entah mengapa malam ini Anggi merasa sangat gelisah, sebab hatinya benar-benar janggal, seperti ada sesuatu yang akan terjadi kepadanya. Namun, entah apa itu.
Pria itu kembali masuk ke dalam kamar dan, melihat sang mama dan juga Juwita sudah tertidur dengan pulas, kemudian dia bergegas pergi dari sana menuju meja kerjanya.
Anggi memikirkan nasib gadis itu yang akan menjadi janda bila ia menceraikannya, kemudian sudah mengetahui sang sahabat sangat mencintainya.
'Aku akan menikahinya, karena dia sangat mencintaiku dan, aku tidak akan menceraikannya aku akan belajar untuk mencintainya juga,' batin Anggi dengan lirih.
Anggi sangat tidak percaya bahwa sahabat yang selama ini baik kepadanya sangat mencintai dia. Padahal, pria itu sudah menganggap Juwita sebagai adiknya walaupun mereka seumuran.
"Aku akan mencoba mencintainya, seperti aku mencintai Syifa," ucap Anggi lembut.
__ADS_1
Pria itu tertidur di ruangan kerjanya, sebab Juwita bersama sang mama, ada di kamar utama. Ya, toko Anggi memang memiliki kamar khusus untuknya beristirahat jika ia lelah.
. . .
Malam semakin larut. Namun, Syerkhan belum masuk ke dalam rumah, sebab ia masih benar-benar menyesal akan perbuatan yang sudah ia lakukan.
Syerkhan berniat akan menemui anak dan istrinya besok, untuk meminta maaf karena dia benar-benar sangat menyesal. Namun, semua sudah terlanjur yang ia harapkan hanya maaf dari keluarga kecilnya.
"Walaupun aku tahu maaf itu akan susah aku dapatkan dari mereka berdua, tetapi tidak ada salahnya jika aku mencobanya," gumam Syerkhan sambil berjalan masuk ke dalam kamar Syifa.
Sesampainya di dalam kamar Syifa, gadis itu tidur tanpa menggunakan selimut, kemudian Syerkan menghampiri gadis itu dan, menyelimuti tubuh Syifa, kemudian dia menatap wajah sang istri dengan sangat dalam.
'Dulu aku memang sering menyelimuti dia seperti ini. Tapi, dulu aku anggap sebagai hubungan anak dan ayah. Namun, aku tidak tahu entah setan apa yang merasukiku sampai aku merusak masa depannya,' batin lirih.
Pria itu langsung menirukan tubuh di samping Syifa, kemudian mengelus perut sang istri dengan lembut, karena ia senang bisa memiliki anak di umur yang sudah memasuki kepala empat.
"Aku benar-benar sangat kejam sudah merenggut kebahagiaan Syifa, gadis ini tidak bisa menerima pernikahan kami sampai kapanpun. Sebab, itu aku akan melepaskannya setelah dia melahirkan bayi yang tengah dikandungnya," gumam Syerkhan lirih.
Pria itu menutup kedua matanya dan, mulai terlelap dalam tidurnya. Sedangkan Syifa terbangun, sebab mencium aroma tubuh yang sangat ia rindukan.
'Apa Om Syerkhan sudah tidur ya? Kalau dia sudah tidur, aku ingin memeluk yang secara diam-diam agar dia tidak tahu, sebab entah mengapa aku merasa sangat ingin mencium aroma tubuhnya, jika itu tidak terlaksana ingin rasanya aku berteriak-teriak dan meminta agar dia memberikan aku apa yang aku inginkan,' batin Syifa.
Dengan perlahan gadis itu langsung memeluk Syerkhan dengan perlahan sambil mencium aroma tubuh pria itu dan, sang ampuhnya sama sekali tidak terbangun. Sebab, sudah masuk ke dalam alam mimpi yang indah.
'Oh ya ampun, ini benar-benar sangat menyenangkan. Entah kenapa aku suka mencium aroma tubuh Om Syerkhan, mungkin ini karena bawaan bayiku. Sebab, anak ini adalah benih Om Syerkan, pasti dia menyukai Ayah kandungnya,' batin Syifa sambil berpikir.
__ADS_1
BERSAMBUNG.