
Syifa sudah selesai berganti baju dan, kini ia tengah menunggu kedatangan Syerkhan. Ya, pria itu tadi langsung pergi menuju ruangan kerja.
"Kenapa om Syerkhan berubah, ya?" gumam Syifa dengan heran.
Syifa tidak tahu, mengapa sang suami berubah. Padahal, ia ingin selalu ada di dekat pria itu.
"Apa aku hampiri saja om Syerkan? Tapi, aku malu, sebab mendatanginya," ucap Syifa dengan ragu.
Gadis itu pun mondar-mandir, sampai Syerkhan datang dan, mereka berdua saling menatap.
"Kenapa belum tidur juga?" tanya Syerkhan dengan lembut.
"Euum, menunggu kedatangan Om," jawab Syifa dengan cepat.
Syerkhan tersenyum, kemudian dia membawa sang istri ke tempat tidur dan, mereka saling menatap.
"Kenapa kamu menunggu, om?" tanya Syerkhan dengan sengaja.
Sebab, ia ingin mengetahui apa penyebab Syifa menunggunya dan, belum tidur hanya karena dia tidak ada di samping gadis itu.
"Tidak ada, hanya ingin melihat Om sebelum Syifa tidur," jawab Syifa dengan cepat.
Sebab, ia tidak ingin sang suami mengetahui kalau dia merindukan aroma tubuh pria itu dan, ingin selalu ada di dekat Syerkhan.
"Sekarang, kamu tidurlah. Malam sudah semakin larut," ucap Syerkhan dengan lembut, sambil mengecup kening Syifa.
Syifa tersenyum dan, langsung memejamkan kedua matanya. Namun, dia tidak bisa tidur dan, terus menghirup aroma tubuh sang suami.
'Aroma ini sangat menenangkan. Padahal, sebelumnya aku tidak bisa mencium aroma tubuh Om Syerkhan, bukankah itu sangat aneh?' batin Syifa sambil berpikir.
Syerkhan diam, karena dia harus bisa melupakan rasa cintanya pada Syifa, walaupun semua sudah terlambat, setidaknya ia tidak akan hidup dalam rasa bersalah untuk selamanya.
'Mungkin, aku akan menyakiti Syifa. Tapi, semua demi kami semua, aku ingin keluarga kecilku utuh kembali,' batin Syerkhan lirih.
Entah apa yang membuat Syerkhan seperti ini. Padahal, sebelumnya pria itu sangat bijak. Namun, kali ini dia sangat plin-plan, seperti remaja.
. . .
Anggi sama sekali tidak tidur, karena Juwita tidurnya sangat lasak, sehingga dia tidak bisa tidur. Sedangkan gadis itu, tertidur pulas dengan hanya menguntungkan hot pans.
"Anak gadis ini, benar-benar membuatku kesal, karena dia membuat keperkasaan ku bangun," gumam Anggi sambil menatap wajah Juwita.
Terlihat gadis itu tidur dengan sangat nyenyak. Bahkan, tidak sadar sampai bajunya terbuka pun dia tidak sadar.
"Juwita, aku tidak bisa tidur." Anggi menggeser posisi tidur Juwita.
__ADS_1
Namun, dia malah melihat gunung kembar gadis itu, yang berukuran besar. Padahal, sebelumnya ia tidak tahu, ukuran gunung kembar Juwita.
"Astaga!" pekik Anggi.
Anggi langsung menggelengkan kepalanya, kemudian ia langsung tidur. Namun, dia benar-benar tidak bisa tidur. Entah mengapa, pria itu juga tidak tahu.
Keesokan harinya . . .
Juwita terbangun dan, dia terus-menerus menatap wajah Anggi dari dekat. Sebab, ini kali pertama buatnya.
'Aku tidak habis pikir, bisa menikah dengan Anggi, pria yang sangat aku cintai,' batin Juwita.
Perlahan Juwita mendekatkan dirinya dan, ia hendak mengecup kening Anggi. Namun, langkahnya terhenti, saat mendengar suara ketukan pintu.
"Sayang!" panggil Dila dengan lembut.
"Iya, Ma!" jawab Juwita sambil bergegas bangun.
Gadis itu langsung membuka pintu kamar dan, Dila masuk ke dalam, melihat Anggi masih tidur, dengan keadaan tidak menggunakan baju.
"Anggi masih tidur?" tanya Dila sambil menatap wajah sang menantu.
"Iya Ma, entah mengapa dia belum bangun," jawab Juwita dengan lembut.
Dila tersenyum, karena dia melihat Juwita menggunakan baju seksi dan, sudah pasti mereka habis melakukan malam pertama.
"Baik Ma," jawab Juwita.
Dia bergegas pergi dari sana, karena ia harus mengurus perceraiannya dan Syerkhan. Sebab, pria itu tidak ingin bercerai dengannya.
. . .
Syerkhan sudah bangun, lebih dari biasanya. Sebab, ia ingin cepat pergi ke kantor, karena ada meeting penting pagi ini.
Namun, sebelum ia pergi, dia menyempatkan diri untuk membuat susu Syifa dan, meletakan susu yang dibuat ke meja kamar sang istri.
"Sayang, aku pergi dulu," ucap Syerkan sambil mengecup kening Syifa dengan lembut.
Pria itu pun bergegas pergi dari sana. Padahal, ia ingin sekali berdekatan dengan sang istri. Namun, ia harus menjaga jarak dengan Syifa.
'Aku sedih harus menjauhi Syifa. Padahal, dia sudah mulai memaafkan ku, dari sikapnya beberapa hari ini,' batin Syerkan lirih.
Syerkan bergegas pergi dari rumahnya, menuju kantor dengan mengendarai motor sport miliknya.
. . .
__ADS_1
Syifa terbangun, karena mencium aroma susu dan, ia melihat susu untuknya sudah ada di meja.
"Pasti yang membuatkan aku susu, om Syerkhan. Tapi, ke mana dia? Apa, dia sudah pergi?" gumam Syifa.
Gadis itu beranjak dari tidurnya, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan, mencuci wajahnya. Setelah itu, ia ke luar dan meminum susu buatan Syerkhan sampai habis.
"Kenapa ya, aku merasa om Syerkhan berubah?" gumam Syifa sambil berjalan ke luar kamarnya.
Syifa merasa sangat aneh melihat sikap Syerkhan padanya beberapa hari ini, karena pria itu seperti menjauhinya.
Sore hari tiba . . .
Syifa sudah bersiap-siap untuk menyambut kepulangan Syerkhan. Namun, sang suami tak kunjung pulang, membuat Syifa benar-benar kesal.
"Kenapa sih, om Syerkhan berubah!" gram Syifa.
Gadis itu duduk di depan rumah, sambil menunggu kepulangan Syerkhan. Tak berselang berapa lama, ahkirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.
"Ahkirnya, om Syerkhan pulang juga," gumam Syifa sambil berjalan menghampiri sang suami.
Syerkhan tersenyum, karena Syifa menyambutnya pulang dan, ia pun langsung mengecup kening sang istri dengan lembut.
"Kenapa menunggu om pulang, di luar?" tanya Syerkan dengan lembut.
Syifa tidak menjawab, karena dia sibuk menghirup aroma tubuh sang suami yang belum mandi.
'Tenangnya aku mencium aroma ini. Aaahhh, aku rasanya ingin memeluk Om Syerkhan dalam waktu yang lama,' batin Syifa.
Syerkhan melambaikan tangannya. Namun, Syifa sama sekali tidak menggubris, sehingga ia pun jahil dan, mengendong sang istri.
"Om!" pekik Syifa.
Karena, ia terkejut sang suami menggendongnya tanpa aba-aba. Namun, di dalam hatinya sangat gembira, bisa berdekatan dengan Syerkhan.
"Siapa suruh, aku memanggil mu. Tapi, tidak ada jawaban," jawab Syerkhan.
Syifa hanya diam dan, dia pun masuk ke dalam pelukan Syerkhan, kemudian mencium aroma tubuh sang suami sampai puas.
"Eh, kita mau ke mana ini?" tanya Syerkhan.
Saat mereka sudah tiba di ruang tamu. Namun, pria itu tidak menurunkan sang istri, membuat Syifa semakin senang.
"Sayang!" panggil Syerkhan, karena Syifa hanya diam sejak tadi.
"Syifa ingin seperti ini, dalam waktu yang lama," jawab Syifa cepat dengan sempontan.
__ADS_1
Gadis itu langsung menutup mulutnya, karena sudah keceplosan. Sedangkan Syerkhan, langsung menatap sang istri dengan intens.
BERSAMBUNG.