Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
05 > Ya Tuhan, tolong selamatkan aku


__ADS_3

Syifa berlari menuju ruang tamu dan menghampiri calon mama mertuanya, sontak saja Dila terkejut melihat gadis itu berpakaian terbuka.


"Ya ampun sayang, ini pasti kerjaan Anggi, ya?" tanya Dila sambil memegang tubuh Syifa.


Syifa menggelengkan kepala, karena bukan Anggi yang memberikannya baju terbuka ini. Akan tetapi, Syerkhan adalah pelakunya.


"Buk-" terputus, karena Dila langsung memotong ucapannya.


"Sudahlah, tidak usah malau, Anggi memang seperti itu orangnya, sebaiknya kita masuk saja!" Dila membawa Syifa masuk ke dalam kamar.


Karena, dia ingin gadis itu berganti baju. Sebab, sang suami akan tergoda pada Syifa kalau melihat calon menantu mereka pakai baju seksi.


Sebab, Syerkhan adalah pria normal tidak memandang gadis itu calon menantu mereka. Kalau sudah suka, maka Syerkhan akan mendapatkan wanita incaran.


'Aku sedikit takut, karena mas Syerkhan pria yang suka pada wanita berpakaian terbuka, kalau wanita lain aku tidak marah. Tapi, Syifa adalah pacar anak kami,' batin Dila.


Dila memberikan piyama pada gadis itu, dan Syifa langsung berganti baju karena. Sejujurnya, dia kurang nyaman berpakaian terbuka seperti ini.


Apa lagi, Syerkhan menatapnya dengan sangat nafsu dan juga memegang tubuhnya dengan halus, tidak seperti biasanya.


"Sepertinya, aku harus berhati-hati dan menjaga jarak. Sebab, om Syerkhan sudah jauh berubah dari yang sebelumnya," ucap Syifa sambil menatap dirinya di cermin.


Setelah selesai, dia langsung ke luar dari dalam kamar mandi dan melihat Syerkhan ada di sofa dan dia sama sekali tidak melihat Dila lagi.


"Sini sayang!" Syerkhan menepuk ruang kosong di sampingnya mempersilahkan Syifa duduk.


Syifa sedikit takut pada Syerkhan, sehingga dia memilih duduk sedikit berjauhan dengan pria itu.


"Kok duduk di sana?" tanya Syerkhan sambil menatap wajah Syifa.


Syifa menelan ludah dan mendekati Syerkhan, berharap Dila segera datang dan dia terbebas dari pria itu.


"Kenapa berganti baju? Padahal, papa sangat menyukainya tadi," ucap Syerkhan dengan lembut sambil mengecup kening Syifa.


Syifa hanya diam dan menatap wajah pria yang ada di hadapannya, dan Syerkhan mendekatkan wajahnya ke wajah Syifa.


'Ya Tuhan, tolong selamatkan aku,' batin Syifa dengan lirih.


Saat Syerkhan hendak mencium bibir Syifa, Dila datang dan pria itu langsung menjauh dari Syifa dengan sekuat tenaganya.


"Loh, Papa ada di sini juga?" tanya Dila sambil mendekati mereka dan duduk di tengah.

__ADS_1


Syifa bernafas lega, karena Dila datang di saat yang tepat. Sebab, tadi sedikit lagi Syerkhan akan melahap bibirnya.


"Iya, tadi papa pikir Mama ada di dalam kamar. Tapi, ternyata Syifa yang ada di sini," jawab Syerkhan dengan lembut.


Pria itu mengecup pipi sang istri dihadapan Syifa, berharap gadis itu cemburu dan mau di perlakukan sama seperti Dila.


"Tante, Syifa ke bawa dulu ya?" ucap Syifa dengan lembut.


"Iya sayang," jawab Dila.


Syifa langsung bergegas pergi dari sana, karena dia benar-benar takut pada Syerkhan yang sudah jauh berubah dari pertama dia mengenal pria itu.


'Aku benar-benar takut, apa aku pulang saja ya? Tapi, apa alasan ku nanti, karena aku sudah berjanji pada tante Dila,' batin Syifa dengan bingung.


Syifa masuk ke dalam kamarnya, dan mengunci pintu. Sebab, dia takut Syerkhan datang dan melakukan hal yang tertunda tadi padanya.


"Kenapa ya, kok Anggi jam segini belum pulang?" tanya Syifa sambil terus menatap jam tangan.


Gadis itu diam dan bermain ponsel sambil menunggu kedatangan sang pacar, karena dia ingin makan malam bersama walaupun jam sudah pukul 22.00, yang artinya sudah sangat malam.


. . .


'Ada apa denganku? Kenapa, aku menginginkan Syifa yang jelas-jelas adalah kekasih anakku?' batin Syerkhan sambil berpikir.


Syerkhan bermain bersama Dila tadi. Namun, dia mengkhayalkan wajah Syifa pada sang istri. Bukankah hal itu sudah tidak wajar lagi?


"Tuhan, tolong aku," ucap Syerkhan lirih.


Pria itu meminum bir sambil terus menatap langit-langit malam, tanpa disadarinya tenyata Syifa melihatnya dari jendela kamar.


Gadis itu ingin sekali menghampiri Syerkhan yang sedang bersedih, karena sejak dulu calon mertuanya selalu merokok dan minum bir kalua sedang memiliki masalah besar.


"Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi!" teriak Syerkhan dengan keras.


Semakin membuat Syifa tidak bisa tinggal diam, dan dia langsung berlari ke luar kamarnya dan menghampiri pria itu.


"Om," ucap Syifa dengan lembut.


Syerkhan tersenyum dan langsung bangun, kemudian dia membawa gadis itu duduk di pangkuannya dengan sangat mesrah.


"Ada apa sayang?" tanya Syerkhan dengan lembut.

__ADS_1


Syifa merasa tidak nyaman dan dia bangun, kemudian duduk di samping pria itu. Sebab, takut ada yang melihatnya.


"Maaf Om, sebaiknya kita jaga jarak saja. Bukan apa-apa, karena tidak enak di lihat orang," ucap Syifa dengan sangat hati-hati.


Syerkhan tersenyum dan mengangguk kepalanya, kemudian dia membisikan sesuatu di telinga Syifa.


"Tapi Om," ucap Syifa.


Gadis itu takut karena Syerkhan meminta mereka duduk di dalam kamar, dan sudah jelas tidak akan ada yang melihat mereka.


"Sudah, tidak ada tapi-tapi," jawab Syerkhan.


Pria itu sudah mulai mabuk, dan membawa Syifa masuk ke dalam kamar tamu, kemudian dia duduk di bibir ranjang sambil memangku calon menantunya.


"Om, Syifa mau pipis dulu ya?" ucap Syifa dengan lembut dan Syerkhan mengangguk tanda setuju.


Syifa langsung masuk ke dalam kamar mandi, dan duduk di atas toilet, karena dia menunggu Syerkhan tidur. Sebab, pria itu sudah hampir tertidur akibat mabuk.


Satu jam kemudian . . .


Syifa tidak lagi mendengar suara Syerkhan yang memanggil namanya, dan dia ke luar dengan senyuman di wajahnya.


"Baguslah kalau dia sudah tidur, aku pergi dari sini saja. Sebab, Om Syerkhan sudah berbahaya," ucap Syifa dengan sangat pelan.


Karena, dia takut Syerkhan bangun dan melakukan hal seperti tadi. Gadis itu langsung pergi menuju ruang tamu dan duduk di sana sambil menunggu Anggi pulang.


"Kenapa Anggi lama sekali?" tanya Syifa dengan kesal.


Sebab, pria itu sama sekali tidak bisa di hubungi dan dia sampai tertidur pulas di sofa menunggu Anggi.


Tepat pukul 24.00, Anggi pulang dan melihat Syifa tidur di sofa. Kemudian dia mengendong gadis itu masuk ke dalam kamar tamu.


Namun, dia malah melihat sang papa ada di sana, sehingga dia membawa Syifa masuk ke dalam kamarnya.


Dengan perlahan dia meletakan tubuh Syifa di tempat tidur, dan menatap wajah gadis itu dengan sangat dalam.


"Kenapa papa ada di kamar tamu, dan Syifa di ruang tamu?" ucap Anggi dengan sangat penasaran.


Karena, dia memang sedikit cemburu pada Syifa kalau berdekatan dengan sang papa. Sebab, gadis itu sangat mesra bila ada di dekat Syerkan.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2