Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
32 > Isyarat


__ADS_3

Setelah mengambil susu, Syerkan pergi menuju tempat buah-buahan dan, memilih buah yang disukai Dila saat hamil Anggi dulu.


"Aku sangat yakin, kalau adiknya Anggi sama seperti kakaknya, pasti sangat menyukai buah-buahan ini." Syerkan berjalan pergi dari sana.


Setelah selesai membayar, pria itu pun bergegas pulang, sebab dia ingin sang istri memakan buahan dan, meminum susu yang ia beli.


"Sesampainya di rumah nanti, aku akan membuat susu ini sendiri dan, memotong semua buah-buahan ini agar Syifa semakin suka padaku. Aku sangat yakin dia pasti akan sangat mencintaiku," ucap Syerkhan dengan percaya diri.


Pria itu pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar ia segera sampai di rumah, namun saat di tengah perjalanan ponselnya berdering.


"Ada apa, anak-anak sialan ini menelpon!" geram Syerkhan sambil menerima panggilan dari anak buahnya.


Rojer: Bos, nyonya muda sudah kembali ke rumah. Jadi, kami tidak perlu mencarinya lagi?


Syerkhan: Kalian semua tidak becus! Aku, yang menemukannya. Apa pekerjaan kalian semua!


Rojer: Maafkan kami Bos, kami juga sudah berusaha semampu kami mencari nyonya muda, tetapi tidak menemukannya dan malah Bos yang menemukan dia.


Syerkhan: Dasar kalian semua tidak ada yang becus, tidak berguna!


Syerkhan langsung memutuskan sambungan teleponnya, karena dia benar-benar sangat kesal kepada semua anak buahnya yang bekerja tidak becus.


Setelah sampai di rumah, pria itu pun langsung turun dari mobil sampai membawa barang belanjaannya. Setelah itu, berjalan masuk menuju dapur dan mulai membuat susu kemudian memotong buah-buahan.


Setelah semua selesai, Syerkhan langsung membawa susu dan buahan yang sudah dipotongnya tadi ke nampan, kemudian berjalan menuju kamarnya.


Saat pria itu masuk ke dalam, terlihat Syifa masih tertidur dan ia pun langsung menghampiri sang istri.


"Sayang bangunlah, aku membawakanmu susu dan juga buah-buahan ini," ucap Syerkhan dengan lembut.


Syifa langsung bergegas bangun, kemudian ia menatap susu yang di bawah Syerkhan sangat menggugah seleranya, begitu juga dengan buah-buahan yang dibawa pria itu.


"Terima kasih Om, karena sudah membawakan ini semua untuk Syifa," uca Syifa dengan lembut.

__ADS_1


Syerkhan tersenyum, karena benar dugaannya calon adik Anggi benar-benar sama seperti kakaknya dulu.


"Itu sudah kewajibanku, sebagai seorang suami dan ayah untuk anak kita," ucap Syerkhan dengan sangat bergembira.


Syifa terdiam, karena Syerkhan mengingatkannya akan anak yang ia kandung adalah benih pria itu dan, karena hal itu ia harus kehilangan semua kebahagiaannya.


'Salahkah aku menginginkan anak ini pergi, dari dalam rahimku?' batin Syifa sambil berpikir.


Gadis itu berniat akan menggugurkan kandungannya, karena dia benar-benar sangat tidak menyukai akan kehamilannya. Namun, dia masih memikirkan bagaimana cara agar tidak ada yang mengetahui hal itu.


Syifa pun meminum susu buatan Syerkhan hingga habis tak tersisa begitu juga dengan buah-buahannya, kemudian matanya pun mulai mengantuk dan bergegas tidur.


Sedangkan Syerkhan, langsung bergegas pergi dari sana, namun sebelum ia pergi ia mengunci pintu kamar Syifa, sebab ia takut gadis itu kabur lagi.


"Aku tidak akan memberikan dia kabur lagi, karena itu tidak akan pernah terjadi!" Syerkhan bergegas pergi dari sana.


Syerkhan takut Syifa kabur lagi, dan ia pun memperketat penjagaan di rumahnya, karena dia tidak mau sampai gadis itu pergi jauh darinya.


. . .


'Berat memang, apakah ini saatnya aku membuat gugatan? Karena, tidak ada lagi yang bisa dipertahankan dari pernikahan kami, sebab mas Syerkhan sangat mencintai Syifa, sedangkan aku sudah ia lupakan,' batin Dila lirih.


Wanita paruh baya itu meneteskan air matanya, tanpa mempedulikan sang anak yang ada di sampingnya, sebab kali ini ia benar-benar sangat sedih dan terpukul.


"Mama jangan menangis, tenang saja! Ada Anggi di sini, kita akan memulai hidup baru bersama tanpa adanya pria itu," ucap Anggi lembut sambil menghapus air mata sang mama yang terus berjatuhan.


Dila langsung menatap sang putra, kemudian memeluk pria itu dengan erat dan menumpahkan isi hatinya.


"Jujur, mama sudah tidak sanggup saat papa mau menikah dengan Syifa. Apakah memang ini sudah takdir kami berpisah," ucap Dila dalam isak tangisnya.


Anggi mengelus-ngelus punggung sama mama, agar wanita paru baya itu tenang, namun Dila semakin terisak-isak.


"Mama tenang saja! Karena, Anggi sangat yakin ada pria yang baik akan membuat Mama bahagia, tidak seperti pria itu!" ucap Anggi dengan dendam yang membara di dalam hatinya.

__ADS_1


Dila benar-benar sangat tidak bisa menerima kenyataan ini, bahwa ia harus berpisah dan sang suami. Padahal usia pernikahannya sudah 26 tahun, mereka pun sudah bersama-sama sejak dulu dan sekarang harus berpisah, karena sang suami mencintai wanita lain.


"Mama akan pergi dari papamu, tetapi mama tidak akan mau menikah dengan pria manapun. Karena mama sangat takut pria itu tidak bisa setia dengan satu wanita" ucap Dila dengan lirih.


Anggi hanya menganggukkan kepalanya, karena ia tahu saat ini sang mama tengah bersedih dan mengikuti apa yang diucapkan oleh wanita itu.


'Aku akan mencarikan pria yang terbaik untuk Mama, karena aku ingin Mama juga bahagia bersama pasangan barunya, sama seperti papa bahagia dengan istri barunya,' batin Anggi.


Juwita hanya mengintip dari sebalik pintu, dia tidak ingin masuk ke dalam dan membuat Dila semakin sedih karena kehadirannya.


"Hanya karena mencintai Syifa, dia sampai meninggalkan wanita yang selama ini sudah bersamanya apa sebenarnya, entah apa yang ada pada diri Syifa, kenapa semua orang sangat mencintainya!" geram Juwita.


Sebab, semua pria menyukai Syifa, sedangkan dirinya tidak ada yang menyukai sama sekali dan, semua pria yang ia suka tertarik kepada gadis itu.


Juwita bergegas pergi dari sana, karena ia harus mengerjakan tugas Anggi, sebab pria itu juga belum bisa bekerja, masih belum pulih betul selepas operasi beberapa hari lalu.


. . .


Syifa terbangun, karena merasa sangat mual ia pun menggosokkan minyak kayu putih ke seluruh perutnya, kemudian berjalan menuju pintu dan membuka pintu tersebut, namun tidak bisa.


"Ini tidak bisa dibuka, bagaimana aku mau minum? Aku sangat haus," ucap Syifa dengan bingung.


Gadis itu pun berpikir dan ia sudah mengetahui, sang suami sudah mengunci pintu dari luar karena takut ia kabur lagi.


"Aku benar-benar sangat muak kepada om Syerkhan, kenapa dia seperti ini? Aku sangat membencinya!" garam Syifa sambil berjalan menuju sebalik jendela.


Gadis itu mengetuk-ketuk jendela kemudian para penjaga melihat ke arahnya dan, ia pun memberikan isyarat bahwa dia haus dan ingin minum.


"Nona muda itu ingin minum, sebaiknya kita beritahu pembantu agar memberikan air minum kepada Nona itu," ujar salah satu penjaga di sana.


"Baiklah, aku akan memberi pembantu agar memberikan minum kepada Nona Syifa," ucap salah satu penjaga di sana dan, bergegas pergi.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2