Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
14 > Tanda merah yang sama


__ADS_3

Syifa tersadar, kalau tanda merah kepemilikan Syerkhan masih terlihat jelas di lehernya, sehingga dia langsung melepaskan pelukannya.


"Syifa, bisa mama tanya sesuatu padamu?" tanya Dila dengan lembut, sambil melihat leher Syifa.


"Iya Tante," jawab Syifa dengan canggung.


Sebab, dia merasa sangat bersalah sudah tidur bersama suami dari wanita yang sangat baik padanya, walaupun semua itu bukanlah keinginannya.


"Tanda merah itu?" tanya Dila.


Syifa bingung harus berkata apa, karena tidak mungkin ia jujur kalau tanda itu Syerkhan yang membuat.


"In-" terputus karena ada panggilan masuk dari ponsel Dila.


"Sebentar," ucap Dila sambil bergegas menerima panggilan dari seseorang.


Setelah selesai menelpon, Dila langsung berpamitan pulang. Sebab, sang suami ada di rumah dan menunggunya.


Setelah kepergian Dila, Syifa langsung bergegas masuk ke dalam kamar dan mengunakan baju. Kemudian, gadis itu menangis, karena mengingat kembali pertanyaan wanita yang menganggapnya sebagai anak.


"Tuhan, apakah ini adil untuk tante Dila? Sebab, aku sudah merenggut kebahagiaan dia. Walaupun, bukan aku yang melakukan semuanya," ucap Syifa dalam tangisannya.


Entah apa yang akan terjadi saat Dila dan Anggi mengetahui scandal dia bersama Syerkhan. Sebab, cepat atau lambat mereka akan mengetahui semua.


"Aku harus kuat, karena tidak ada yang bisa menguatkan aku, kecuali diriku sendiri," ucap Syifa lirih.


Gadis itu menghapus air matanya, karena dia harus kuat dan menerima apapun yang terjadi padanya esok atau lusa.


. . .


Keesokan paginya . . .


Syifa sudah berada di kantor dengan cepat, karena dia harus mengerjakan semua tugas agar segera selesai, dan ia akan pergi sejauh-jauhnya dari keluarga Syerkhan.


"Pagi Syifa," sapa salah satu karyawan di sana.


"Pagi juga, kalian kerja yang semangat ya," jawab Syifa dengan sangat bergembira.


Sebab, ia tidak mau sampai siapapun tahu tentang masalahnya dan Syerkhan, karena itu hanya menjadi rahasia mereka dan, dia bersikap seperti biasanya.


"Siap Nyonya!" jawab mereka secara bersamaan.


Pada saat itu Syerkhan baru sampai dan, mereka diam karena sang bos menghampiri Syifa.

__ADS_1


"Pagi sayangku," ucap Syerkhan sambil mengecup kening Syifa dengan lembut, dihadapan semua orang.


Sebab, sudah menjadi kebiasaannya selama tiga tahun terakhir ini dan, semua karyawan sudah terbiasa melihat pemandangan itu.


"Pagi Pa," jawab Syifa dengan lembut dan senyuman manisnya, karena dia harus bersikap seperti biasanya.


"Lanjutkan perjalanan kalian!" Syerkhan menggandeng tangan Syifa masuk ke dalam ruangan gadis itu.


Semua karyawan berbisik-bisik, karena Syerkhan terlihat sayang pada Syifa. Namun, bukan sayang pada calon menantu, melainkan pada pasangan.


"Sudahlah, bila itu terjadi. Toh, mereka bukan ayah dan anak, jadi bisa menikah," ucap karyawan di sana.


"Tapi, apa tidak kasihan pada Anggi, tunangan Syifa," sahut yang lain.


"Sudah, tidak usah ikut campur," sahut yang lain dan mereka semua diam, kemudian mengerjakan tugas masing-masing.


. . .


Syifa hanya diam setelah sampai di ruangan kerjanya dan, langsung mengerjakan tugas sebagai asisten Syerkhan.


Sedangkan Syerkhan, tersenyum manis karena Syifa bisa bersikap seperti tidak terjadi apapun pada mereka, saat di depan umum tadi.


"Sayang, sudah makan?" tanya Syerkhan dengan lembut.


Syifa hanya menggelengkan kepalanya, karena dia malas berbicara pada pria yang sudah merusak masa depannya.


Syifa langsung membulatkan matanya, karena Syerkhan mengatakan kalau dia hamil dan, langsung mengingat malam kelam mereka.


'Astaga! Bukankah, Om Syerkhan tidak memakai pengamanan waktu kami melakukan itu, apa aku akan hamil?' batin Syifa sambil berpikir.


Syifa semakin takut, kalau dia hamil anak Syerkhan yang artinya akan semakin banyak masalah yang menghampirinya.


"Aku pergi dulu, sayang." Syerkhan bangun dari duduknya dan menghampiri Syifa.


Kemudian, mencium puncak kepala gadis itu dengan sangat lembut dan, bergegas pergi dari sana. Sebab, ia ingin membelikan sarapan untuk Syifa.


Sedangkan Syifa, hanya diam sambil terus berpikir apakah dia akan hamil atau tidak. Sebab, perkataan Syerkan tadi.


"Menyembunyikan malam kelam itu saja aku sudah gila, apa lagi sampai aku hamil?" ucap Syifa dengan sangat cemas.


Walaupun dia cemas memikirkan apakah ia hamil, Syifa tetap menyelesaikan pekerjaannya yang sangat menumpuk.


. . .

__ADS_1


Anggi tidak bersemangat bekerja, karena Syifa sangat sulit untuk dihubungi. Entah mengapa, ia juga tidak tahu, sejak kepulangan gadis itu dari luar kota, Syifa langsung berubah dingin padanya.


"Sudah berulang kali, aku mengirimkan pesan pada Syifa. Tapi, sama sekali tidak ada balasan sedikitpun," ucap Anggi dengan lirih.


Pria itu kembali menelpon Syifa. Namun, sama sekali tidak ada jawaban, karena gadis itu sengaja mematikan ponselnya.


"Sudahlah, nanti malam aku akan menghampirinya lagi," gumam Anggi sambil mematikan ponselnya.


Pria itu menyesal sudah membuat Syifa marah, padahal hanya untuk memberikan kejutan istimewa pada sang kekasih. Namun, berujung petaka.


. . .


Dila, semakin mencurigai sang suami. Sebab, ada anting di dalam saku baju Syerkhan yang ia yakini adalah milik Syifa.


"Tapi, mungkin saja Syifa sedang bersama mas Syerkhan dan anting ini jatuh. Sebab, kalau bermain kuda-kudaan, tidak mungkin papa mengunakan baju," ucap Dila.


Sebab, ia sudah hafal akan sang suami seperti apa. Namun, kali ini dia semakin curiga, karena ada tanda yang sama pada gadis itu.


"Tuhan, jangan uji aku seperti ini. Karena, aku tidak sanggup apa lagi Anggi, sudah jelas dia akan sangat terpuruk," ucap Dila lirih.


. . .


Syerkhan tersenyum, karena dia baru saja menerima panggilan dari rekan bisnisnya yang meminta bertemu di proyek mereka, yang artinya Syifa akan pergi juga.


"Ini waktu yang sangat tepat, agar Syifa semakin dekat denganku. Sebab, kami akan lama di sana, mungkin satu bulan," ucap Syerkhan dengan sangat bergembira.


Karena, tidak ada yang menggangu mereka di sana, karena Anggi dan Dila tidak akan ikut. Sebab, ini masalah pekerjaan.


"Aku harap setelah pulang dari sana, aku akan menikahi Syifa dan dia sudah hamil anakku," ucap Syerkhan dengan penuh harapan.


Tanpa disadari oleh Syerkhan, tenyata sejak tadi Syifa menguping apa yang diucapkannya. Membuat gadis itu meneteskan air mata.


'Bagaimana ini? Aku, tidak mungkin di sini. Sebab, itu adalah proyek ku dan, aku harus ikut,' batin Syifa dengan lirih.


Gadis itu membawa berkas masuk ke dalam ruangan Syerkhan sambil menghapus air matanya.


"Permisi Tuan, ini berkas kita," ucap Syifa dengan lembut.


Syerkhan tersenyum kemudian dia mendekati Syifa dan, memeluk gadis itu seperti biasanya.


"Panggil aku, suamiku atau sayangku, jangan panggil aku tuan lagi!" bisik Syerkhan di telinga gadis itu.


Syifa langsung menjauh, karena dia tidak ingin orang mengira dia adalah pelakor dan dia langsung menangis akan perlakuan Syerkhan padanya.

__ADS_1


"Jangan perlakuan Syifa seperti ja-lang, Om!" Syifa langsung bergegas pergi dari sana dengan tangisannya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2