Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
46 > Bunda


__ADS_3

Pagi ini tiba, Syifa sudah bangun lebih dari biasanya, sebab ia ingin membuat sarapan, untuk Dilon dan juga Micella.


Walaupun dia merasa mual. Namun, Syifa tetap membuat nasi goreng dan juga macam makanan lainnya, dengan di bantu oleh pembantu Dilon.


"Non, sudah selesai," ucap mbok Lastri.


Wanita paru baya itu meletakan semua macam makanan yang di masak oleh Syifa. Gadis itu pun tersenyum dan, bergegas pergi menuju kamar Micella.


"Aku bangunkan Micella dan, kami makan bersama," gumam Syifa sambil terus berjalan menuju kamar sang adik.


Setelah sampai, dia langsung tersenyum saat melihat Micella sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


"Wah, adik sangat cantik dan, wangi. Bahkan, kakak saja kalah," ucap Syifa lembut.


Gadis itu langsung menghampiri Micella dan, merapikan penampilannya, membuat sang empunya bahagia, sebab ia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini sebelumnya.


"Kak, Micella sengat bahagia, sebab bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang wanita, sebab sebelumnya tidak pernah," ucap Micella lirih.


Syifa sedih mendengar ucapan Micella, sebab gadis kecil itu tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu sejak lahir.


"Michelle, kakak akan selalu ada untukmu dan, kamu juga bisa anggap kakak sebagai ibumu," ucap Syifa lembut.


Micella tersenyum, kerena dia sangat bahagia bisa mengenal Syifa yang sangat baik padanya. Bahkan, mau menjadi kakak sekaligus ibu untuknya.


"Terima kasih, Bunda," ucap Micella lembut.


"Sama-sama," jawab Syifa lembut.


Micella memangil Syifa dengan sebutan bunda, sebab ia ingin sekali memanggil seseorang dengan sebutan bunda.


. . .


Dilon: Baik, aku dan Micella akan bertemu denganmu nanti siang.


Dila: Terima kasih, karena aku ingin sekali bertemu dengan anakmu.


Dilon: Baiklah, aku tutup dulu telponnya.


Dilon memutuskan sambungan teleponnya dan, bergegas pergi dari kamar menuju meja makan.


Alangkah terkejutnya dia, saat melihat nasi goreng puluhan tahun lalu ada di hadapannya, pria itu langsung duduk dan, memakan nasi goreng tersebut.


"Ini, benar-benar sama seperti yang dimasak oleh Cinta saat kami tinggal bersama," gumam Dilon, sambil terus menyantap sarapannya.


Pada saat itu juga, Syifa dan Micella baru tiba dan, langsung duduk di bangku masing-masing.


"Paman, apa nasi goreng buatan Syifa tidak enak?" tanya Syifa cemas.

__ADS_1


Sebab, dia melihat raut wajah Dilon berbeda menatap dirinya. Pria itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Nasi ini mirip sekali, dengan masakan Cinta," jawab Dilon lirih.


Syifa tersenyum, karena sang ibu yang mengajarkannya masak nasi goreng, dan ia pun tidak merubah resepnya.


"Syifa memang belajar dari ibu, dia sangat pandai masak semua makanan," jawab Syifa lembut.


Gadis itu mencoba tegar, agar dia tidak menangis di hadapan Micella dan Dilon, sebab ia harus terlihat kuat di mata mereka.


"Wah, rasanya Micella akan selalu meminta Kakak membuatkan makanan untuk Micella," ucap Micella lembut.


Syifa hanya tersipu malu, akan pujian dari Micella dan Dilon, yang mengakan masakannya sangat enak.


'Apa gadis itu adalah jodohku? Sebab, dia datang dan membuat rumah kami menjadi cerita,' batin Dilon.


Mereka kembali melanjutkan sarapan masing-masing, dengan tenang dan nyaman. Dilon sampai menambah beberapa kali, sebab ia merindukan masakan Cinta.


'Paman Dilon sangat lahap makannya, aku jadi teringat om Syerkhan, apakah dia sudah makan atau belum?' batin Syifa sambil berpikir.


Walaupun Syerkhan sudah melukai hatinya, tetap dia masih sangat mengkhawatirkan keadaan sang suami.


. . .


Syerkhan sudah bersiap-siap, karena hari ini ada meeting penting yang tidak bisa ia tinggalkan, membuatnya hari hadir.


"Aku sangat merindukannya, apa dia sudah makan dan, meminum susu?" gumam Syerkhan.


Pria itu sangat khawatir akan keadaan Syifa, sebab biasanya dia yang membuat susu gadis itu, sebelum berangkat ke kantor.


Namun, sekarang entah ke mana gadis itu pergi. Syerkhan akan terus mencari sang istri sampai ketemu, sebab ia tidak akan muda menyerah.


"Di mana pun kamu, aku pasti akan menemukan mu dalam waktu 48 jam," ucap Syerkhan dengan bersungguh-sungguh.


. . .


Siang hari ini, Dila sudah menunggu kedatangan Dilon bersama putrinya, sebab ia ingin mengenal lebih jauh lagi sahabat lamanya.


Sebab, mereka sama-sama single dan, ingin mencari pasangan yang bisa menerima kekurangan mereka.


"Cantiknya anak Dilon," gumam Dila, sambil terus menetes ke arah gadis kecil.


Yang bergandengan tangan dengan Dilon dan, mereka langsung menghampirinya, kemudian duduk di bangku masing-masing.


"Hai gadis cantik, siapa namamu?" tanya Dila dengan lembut.


Micella hanya diam, karena dia tahu bila sang papa bertemu seorang wanita, maka papanya akan meminta pendapat, mengenai calon istrinya.

__ADS_1


"Sayang, Tante Dila bicara padamu," ucap Dilon lembut.


"Micella," jawab Micella datar.


"Wah, nama yang sangat cantik sama seperti orangnya," ucap Dila lembut.


Micella hanya tersenyum simpul, sebab dia sama sekali tidak suka bila sang papa memiliki pacar.


"Mari kita makan siang," ucap Dila lembut.


"Ayo," jawab Dilon.


Mereka semua bergegas makan siang bersama dan, Dila terus menatap wajah Dilon dan, Micella melihat hal itu.


'Aku tidak mau, bila Tante ini menjadi ibu sambungku, sebab aku hanya menginginkan kak Syifa,' batin Micella.


"Pa, kita bungkusan makanan untuk bunda di rumah," ucap Micella lembut.


Sontak, membuat Dila terkejut mendengar Micella menyebut bunda. Padahal Dilon belum menikah lagi.


"Dilon, kamu memiliki istri?" tanya Dila sambil menatap wajah sang sahabat.


"Tidak, bunda yang disebutkan oleh Micella adalah anak Cinta dan, dia tinggal bersama kami," ucap Dilon lembut.


Dila terdiam, karena dia tidak ingat dengan Cinta, sebab dia mengenal Dilon. Namun, tidak mengetahui siapa saja keluarga pria itu.


"Oh, aku mengira kamu sudah menikah," jawab Dila lembut.


Dilon mengelengkan kepalanya, karena Syifa memang bukan istrinya. Namun, dia berharap gadis itu menjadi ibu sambung untuk anaknya.


"Papa, kita pulangnya jangan lama-lama! Sebab, kasihan bunda di rumah sendirian," ucap manja Micella.


Dilon menganggukkan kepala, kemudian dia bergegas pergi menuju kasir dan, memesan makanan untuk Syifa.


Sedangkan Micella, masih bersama Dila dan, dia pun hanya diam karena tidak menyukai wanita yang ada dihadapannya.


"Jadi, Micella sekolah di mana?" tanya Dila lembut.


Micella hanya diam dan, tidak menjawab setiap pertanyaan dari Dila, sehingga wanita paruh baya itu memilih diam.


. . .


Syerkhan lelah mencari keberadaan Syifa. Namun, gadis itu sama sekali tidak ditemukan. Bahkan, dia sudah mendatangi setiap terminal dan juga bandara.


Hasilnya sama, Syifa sama sekali tidak ditemukan, membuatnya sangat frustasi, ingin rasanya dia mengakhiri hidupnya.


Namun, semua itu tidak akan terjadi, sebab dia harus menemukan Syifa dan, membawa gadis itu kembali ke rumahnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2