
Setelah acara pernikahan selesai, semuanya bergegas pulang ke rumah Syerkhan. Namun, mereka semua pulang dengan mengendarai kendaraan masing-masing.
Dila dan Anggi pulang bersama dengan Juwita dalam satu mobil bersama, sedangkan Syerkhan dan Syifa satu mobil. Sebab, mereka tidak ingin pulang bersamaan dalam mobil yang sama.
Dila memang tidak menangis. Namun, wajahnya terlihat sangat sedih dan Anggi bisa dengan mudah menebak sang mama begitu terpukul akan pernikahan papanya.
'Aku sedih, mengapa semua ini terjadi kepada keluarga kecilku, papa menikah lagi dengan wanita yang aku cintai dan Mama, sekarang sedih karena hal itu,' batin Anggi lirih.
"Tante, apakah Tante bersedih?" tanya Juwita sambil memegang tangan wanita paruh baya itu.
Dila langsung menatap wajah Juwita, kemudian tersenyum pada gadis itu agar menutupi kesedihannya.
"Tidak sayang, tante baik-baik saja! Karena, ada kamu di samping tante," jawab Dila dengan lembut.
Namun, Juwita mengetahui kalau calon mertuanya itu sangat bersedih, karena tidak ada wanita yang rela suaminya menikah lagi apalagi Syerkhan menikah dengan wanita yang sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh Dila.
"Mama tenang saja! Suatu saat nanti, Mama juga akan bahagia dengan pria lain," sahut Anggi dengan lembut.
Dila terkejut, karena Anggi mengatakan ia akan bahagia dengan pria lain. Sebab, sang anak menginginkan dia menikah lagi. Padahal saat ini ia masih menjadi istri sah papanya Anggi.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu, sayang?" tanya Dila sambil menatap wajah sang anak.
"Sebab, Anggi ingin Mama juga bahagia seperti papa. Maka Anggi ingin Mama menikah lagi dengan pria yang Mama cinta selain papa!" jawab Anggi dengan sangat santai.
Dila benar-benar sangat terkejut, karena sang putra sangat membenci ayah kandungnya sendiri. Padahal, ia sudah memaafkan sang suami dengan cepat.
"Sayang, kenapa kamu seperti itu? Dia tetap papamu Nak, mama tidak ingin menikah lagi," jawab Dila dengan lembut.
Anggi tidak menjawab ucapan sang mama. Sebab, ia begitu membenci papanya yang sudah menikah dengan wanita yang sangat dia cintai.
'Karena pria itu, aku kehilangan cintaku dan separuh jiwaku. Apakah aku masih sanggup memaafkannya?' batin Anggi dengan sangat kesal.
__ADS_1
Bagaimana ia tidak kesal, papanya tega merebut wanita yang sangat dia cintai. Bahkan, wanita itu juga masih sangat mencintainya.
'Sepertinya, Anggi begitu marah kepada papanya. Sampai sekarang dia belum bisa memaafkan mas Syerkhan. Tapi, aku juga tidak bisa memaksanya karena, aku tahu putraku itu seperti apa,' batin Dila.
Setelah mereka sampai di rumah, Anggi dan Juwita turun dengan bergandengan tangan. Sebab, pria itu tidak ingin terlihat bersedih di depan papanya dan Syifa.
"Nggi, kalau mereka tanya kita saling mencintai, aku harus menjawab apa?" bisik Juwita di telinga Anggi. Sebab, Syerkhan dan Syifa ada di hadapan mereka.
"Jawab saja iya, itu tidak akan sulit karena aku tidak ingin mereka tahu kalau saat ini aku setengah hancur, sehancur-hancurnya," jawab Anggi dengan berbisik juga.
Juwita menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berdua berjalan menghampiri Syifa dan Syerkhan dan, mereka berdua masuk ke dalam rumah.
Hati Syifa sangat sakit saat melihat Anggi bergandengan tangan dengan sang sahabat, yang selama ini turut ikut serta dalam hubungan mereka.
'Aku tahu kalau Juwita itu menyukai Anggi. Tapi, sakit rasanya melihat mereka seperti ini, berdua apalagi saat mereka menikah nanti. Karena, aku masih sangat mencintaimu Anggi,' batin Syifa lirih.
Ya, Syifa tahu kalau Juwita menyukai Anggi dari gerak-gerik wanita itu dan dia juga dapat melihat saat ini Juwita begitu bahagia . Karena, selalu bisa bersama dengan Anggi. Sebab, ia sudah menikah dengan pria lain.
"Bener itu," jawab Syerkhan dengan cepat.
Syifa menganggukkan kepalanya, karena ia merasa sangat malu kepada Dila. Sebab, sudah menikahi suami dari wanita yang sudah menjadi mamanya selama ini.
Walaupun wanita itu sudah memaafkannya dan, tidak menyalahkan dia dalam hal ini. Namun, ia tetap saja merasa sangat bersalah sudah menikah dengan suami orang.
Sesampainya mereka di dalam langsung duduk di hadapan Juwita dan Anggi dan, semuanya saling pandang.
"Papa, katakan saja ada apa! Sebab, Anggi tidak bisa lama di sini," ucap Anggi dengan lembut.
Walaupun hatinya sangat sakit ia tetap bersikap lembut kepada sang papa, karena tidak ingin pria itu tahu kalau ia saat ini sangat hancur.
"Papa hanya ingin kamu tetap tinggal di sini, karena papa tahu kamu tinggal di toko itu," jawab Syerkhan dengan cepat.
__ADS_1
Anggi tersenyum simpul, kemudian menggelengkan kepalanya karena ia tidak akan mungkin tinggal bersama dengan wanita yang dicintai, yang sekarang sudah menjadi ibu sambungnya.
"Papa, jangan khawatir! Sebab, Anggi tinggal di sana bersama dengan Juwita, kami juga tidak lama lagi menikah," sahut Anggi dengan lembut.
Syerkhan diam, kemudian menganggukan kepalanya karena ia harus menghargai keputusan sang anak. Sebab, ia juga tahu Anggi akan menikah dengan Juwita yang artinya anaknya akan menjadi kepala rumah tangga.
"Baiklah bila itu kemauan kamu, papa tidak akan melarang tetapi, sebaiknya jangan tinggal di toko! Tinggallah di apartemen yang kamu miliki," jawab Syerkhan dengan tegas.
Ya, Anggi memang memiliki apartemen, karena ia membeli apartemen itu untuknya bersama dengan Syifa. Namun, semua harapan itu sudah gugur dan musnah saat wanita yang dicintai sudah menikah dengan sang papa.
"Apartemen itu biarlah menjadi kenangan Pa, Anggi akan menjualnya lagi dan membeli rumah. Karena, kami nanti akan tinggal di rumah tidak akan tinggal di apartemen," jawab Anggi cepat.
Syifa langsung meneteskan air matanya. Sebab, ia tahu Anggi berbicara itu karena mereka sudah merencanakan setelah menikah akan tinggal di apartemen. Gadis itu langsung bangun dan berlari menuju kamar tamu.
Membuat semua orang yang ada di sana terkejut terutama Syerkhan, saat melihat sang istri berlari.
"Syifa!" teriak Syerkhan. Namun, Syifa tidak mendengarkannya dan langsung masuk ke dalam kamar tamu kemudian mengunci pintu.
Syerkhan langsung bergegas menghampiri sang istri. Namun, Syifa tidak mau membuka pintu kamar sehingga ia memilih kembali ke ruang tamu.
"Mas biarkan Syifa tenang dulu, karena ia pasti sangat bersedih. Kamu juga jangan memaksanya!" ucap Dila dengan tegas.
"Iya aku tahu dia butuh ketenangan. Tapi, setidaknya bilang dulu kalau dia mau pergi jangan pergi-pergi itu saja tanpa berpamitan," jawab Syerkhan.
Anggi sudah mengetahui apa penyebab Syifa lari tadi, kemudian dia memegang tangan ke Juwita dan bergegas pergi dari sana.
Sebab, sudah tidak sanggup lagi menahan air mata yang sejak tadi sudah ia mendung. Sesampai di dalam mobil, dia langsung menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Juwita.
"Anggi lu jangan kayak gini, gue juga ikutan sedih kalau lo nangis terus!" minta Juwita dengan lembut. Namun, Anggi tidak mendengarkan ucapannya dan semakin terisak-isak.
BERSAMBUNG.
__ADS_1