Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
40 < Heran


__ADS_3

Dila hanya bisa menundukkan wajahnya. Sebab, ia benar-benar sangat sedih melihat Syifa dan sang suami datang bersamaan dengan bergandengan tangan.


'Sakit hati ini. Tapi, semua sudah terjadi dan aku juga sudah mulai melupakan mas Syerkhan, sebab aku tahu dia tidak akan meninggalkan Syifa, apalagi gadis itu tengah mengandung buah hatinya,' batin Dila lirih.


Wanita paruh baya itu pun meneteskan air mata, kemudian secepat kilat ia langsung menghapus air matanya. Sebab, tidak ingin ketahuan oleh siapa pun kalau ia sedang menangis.


Syifa langsung mampir Dila, kemudian duduk di samping wanita itu, sedangkan Syerkhan duduk di samping besannya.


"Sebaiknya, aku bicarakan saja hal ini kepada Dila nanti. Sebab, aku tidak ingin menceraikannya dan aku juga sudah mencabut gugatan perceraian yang diajukan oleh Dila," gumam Syerkhan sambil menatap wajah sang istri.


Acara pernikahan telah dimulai, kini Anggi dan Juwita sudah menjadi sepasang suami-istri, mereka saling bertukar cincin kemudian pria itu mencium kening sang istri dengan lembut.


Membuat Syifa benar-benar sangat sakit dan hati yang sangat teriris iris, kemudian dia membuang pandangannya ke arah Syerkhan yang tersenyum manis kepadanya.


'Sakit yang aku rasakan, begitu juga yang dirasakan oleh Anggi saat ia menghadiri acara pernikahanku dulu,' batin Syifa lirih.


Setelah acara pernikahan selesai, kini semua pera tamu undangan berlalu pergi. Sedangkan Syerkhan dan Syifa masih di sana.


"Papa bisa menginap di sini saja, sebab kasihan Syifa, kalau pulang sudah larut," ucap Anggi dengan lembut.


"Tidak usah, kami pulang saja. Sebab, besok papa ada meeting penting pagi-pagi sekali dan tidak mungkin papa membawa Syifa juga ke kantor, karena tidak akan sempat pulang," tolak Syerkhan dengan lembut.


Padahal, ia memang tidak ingin menginap di hotel tersebut, karena masih merasa sangat malu akan perbuatan yang sudah ia lakukan.


"Baiklah Pa, kalau begitu kami di sini saja. Bahkan Mama pun menginap juga di sini," jawab Anggi dengan lembut.


Dila hanya bisa tersenyum, sebab ia berharap Syerkhan tidak akan menginap di hotel yang sama dengan mereka, karena dia akan benar-benar sangat sakit. Tidak mungkin Syerkhan tidur bersama dengannya, karena mereka sudah mengajukan gugatan perceraian.


"Maaf ya, kalau begitu kami permisi pulang dulu," ucap Syifa dengan lembut dan semuanya menganggukkan kepala mereka.

__ADS_1


Syerkhan bergegas pergi dari sana, sebab ia sudah sempat berbicara kepada Dila sebelum acara usai tadi. Namun, wanita itu masih keke tidak mau mencabut gugatan. Padahal, gugatan itu sudah dicabut dan akan kembali diajukan Dila besok pagi.


'Salahkah aku bersikap seperti ini kepada mas Syerkhan? Padahal, dia ingin berdamai denganku. Tapi, aku sama sekali tidak ingin. Sebab, aku tidak mau sampai di nomor duakan olehnya, karena aku tahu dia akan menomorsatukan Syifa,' batin Dila lirih.


Anggi dan Juwita berangkat masuk ke dalam kamar pengantin dan, membuat Anggi begitu deg-degan. Sebab, malam ini adalah malam pertama untuk mereka.


"Elo ngapain, ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Anggi kepada Juwita. Sebab, gadis itu sebenarnya harus menatap wajahnya dengan sangat dalam.


"Tidak ada, aku hanya ingin mengganti baju, sebab gaun pengantin ini benar-benar sangat berat, apakah kamu tahu sejak tadi aku sudah berganti baju tiga kali, sedangkan kamu hanya baju itu saja," jawab Juwita.


"Tumben anak ini sopan manggil gue, biasanya kagak ada kesopanannya," sahut Anggi membuat Juwita benar-benar sangat kesal.


Gadis itu pun tersenyum simpul, kemudian mengambil piyama di dalam tasnya dan melemparkan ke sembarang arah, begitu juga dengan kain segitiga. Bahkan, pengaman gunung kembarnya juga dilempar ke sembarangan arah, membuat Anggi menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya Elo punguti barang-barang elo itu, sebelum gue bakar itu semua!" ucap Anggi dengan ketus, membuat Juwita benar-benar sangat kesal.


Sebab, terlihat gadis itu hanya mengenakan hot fans yang memperlihatkan setiap lekuk tubuh gadis itu.


"Kalau elo gak segera pakai piyama, gue bakal jadi bencong kayak elo, gue bakalan pakai bikini," ucap Anggi sambil menunjuk ke semua arah, terlihat barang-barang Juwita berserakan di lantai.


Juwita tertawa, karena Anggi akan menjadi bencong jika ia tidak mengenakan pakaiannya membuat ia jahil.


"Gue pengen lihat lu jadi bencong dan, gue nggak akan mau pakai baju sebelum lo jadi bencong kayak gue," ucap Juwita dengan sangat menantang.


Anggi heran akan sikap Juwita, karena sebelumnya gadis itu sangat sopan kepadanya, tidak seperti ini. Anggi pun langsung memunguti barang-barang Juwita yang berserakan di lantai.


"Elo mau gue jadi bencong yang sebenarnya?" tanya Anggi sekali lagi dengan nada ancaman.


Membuat Juwita sangat takut, kemudian bergegas mengambil barang-barang yang ia serakkan tadi yang sudah dipungut oleh Anggi.

__ADS_1


Kemudian, gadis itu pun masuk ke dalam kamar mandi dan, bergegas membersihkan diri. Sebab dia benar-benar sangat gerah seharian tidak mandi.


"Gue nggak habis pikir sama Anggi, kenapa dia nggak selera lihat gue. Padahal, 'kan dia itu pria normal," ucap Juwita dengan heran.


Gadis itu pun berniat akan mengganggu Anggi lagi. Namun, dengan cara yang sangat berbeda. Sebab, ia ingin menjadi istri yang seutuhnya tidak menjadi istri pajangan.


. . .


Dila terus-menerus memikirkan perkataan Syerkhan yang mengajaknya rujuk kembali. Namun, ia sama sekali tidak menginginkan hal itu, karena apa yang sudah menjadi keputusannya tidak akan bisa diganggu gugat oleh siapapun.


"Mungkin memang ini yang terbaik untuk kami, walaupun mas Syerkhan berkata dia sudah menyesali perbuatannya. Tapi, semua itu tidak terjadi dan, aku berpikir kalau ia sangat sayang kepada kami, kenapa dia berpikir sekarang, kenapa dia tidak berpikir sebelumnya saat belum melakukan hal di luar batas," ucap Dila dengan lirih.


Wanita paruh baya itu pun bergegas menidurkan tubuhnya, di atas tempat tidur. Kemudian, meminjamkan kedua mata dan mulai tertidur pulas.


Namun, dia terbangun. Sebab, mendengarkan keributan dan samping kamarnya yang terdengar suara Juwita berteriak-teriak histeris, membuat dirinya sangat terkejut.


"Apa yang terjadi kepada mereka? Kenapa Juwita berteriak-teriak?" tanya Dila dengan sangat cemas.


Ya, kamarnya dan kamar Anggi memang bersebelahan. Sebab, pria itu sendiri yang menginginkannya karena dia takut sang mama kenapa-napa.


"Anggi jangan elo seperti itu, elo itu bakal nyakitin gue ntar," ucap Juwita dengan histeris.


"Nggak bakalan nyakitin elo, gue pelan-pelan kok!" jawab Anggi dengan berteriak juga.


Dila benar-benar sangat tidak percaya, karena sang anak akan sangat seganas itu saat malam pertamanya.


"Mereka melakukan hubungan suami-istri. Padahal mereka berdua mengatakan tidak saling cinta," ucap Dila dengan sangat heran.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2