Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
67 > Papa Pasti Cemburu


__ADS_3

Syifa menatap wajah sang suami dan, dia berpikir bahwa pria itu pasti memikirkan apa yang ia ucapkan tadi. Padahal gadis cantik itu tidak bermaksud menyakiti perasaan suaminya, ia hanya kelepasan.


"Maaf," ucap Syifa lembut.


"Tidak, aku yang seharusnya meminta maaf, karena sudah membuat kamu kesal. Bahkan sampai cemburu yang berlebihan, seperti tadi," jawab Syerkhan cepat.


Syerkhan langsung memeluk sang istri dengan lembut dan, mencium puncak kepala Syifa, tak lupa dia mengelus-elus perut istrinya yang sudah membesar


"Aku sangat mencintaimu, aku percaya bahwa kamu tidak akan meninggalkan aku," ucap Syerkhan lirih.


Pria itu sampai menitihkan air mata, karena dia tidak sanggup saat membayangkan kalau sang istri pergi dari kehidupannya.


'Aku sangat mencintainya, aku tidak akan mampu bila kehilangannya, karena dia adalah separuh jiwaku,' batin Syerkhan lirih.


Entah mengapa, dia sangat mencintai Syifa tidak seperti ia mencintai Dila dulu. Syerkhan sendiri tidak tahu kenapa hal itu terjadi padanya.


"Iya Om, bisakah lepaskan pelukan ini? Karena, Syifa menjadi lapar," ucap Syifa lembut.


Syerkhan terkekeh, mendengar ucapan Syifa. Sejak gadis itu hamil, dia sering kali makan. Bahkan sampai dua piring sekali makan dan, dia juga makan berulang kali.


"Aku akan menyiapkan makanan untuk kamu, aku juga akan membuatkan susu untukmu," jawab Syerkhan dengan lembut.


Syifa hanya tersenyum dan, menganggukkan kepalanya, karena dia tidak mau menolak keinginan sang suami, apa lagi dia juga sangat lapar saat ini.


"Entahlah, aku merasa heran pada om Syerkhan, karena dia selalu saja cemburu berlebihan padaku," gumam Syifa.


Gadis itu pun, berdiri didepan cermin, terlihat dirinya dengan perut yang sudah terlihat jelas. Syifa tersenyum, karena melihat dirinya yang tidak mengalami perubahan fisik. Sebab, semua wanita hamil pasti merasa perbedaan pada tubuhnya.


Namun, dirinya masih sama seperti sebelum mengandung, hanya saja, tubuhnya yang sedikit membesar, karena ia sering makan dan, minimum susu yang bergizi.


"Anak mama, kita sebentar lagi akan bertemu. Pasti kita akan sangat bahagia," ucap Syifa lembut.


Gadis itu tidak sabar menjadi seorang ibu dan, mengurus anaknya saat terlahir ke dunia ini, karena ia tidak akan sendirian lagi saat sang suami pergi bekerja.


. . .


Juwita bermain bersama Micella di toko baju, karena gadis kecil itu masih bersama mereka, sebab Anggi sengaja tidak mengantarkan calon adiknya ke rumah sang papa, agar ia bisa berlama-lama dengan gadis imut itu.


"Micella, apa bundamu itu tidak pernah menceritakan tentang hidupnya padamu?" tanya Juwita dengan lembut.

__ADS_1


"Tidak, dia selalu membahas pelajaran dan, juga tentang sikap Micella yang keterlaluan pada tante Dila," jawab Micella dengan polos.


Juwita menaikan sebelah alisnya, karena dia tidak mengerti akan apa yang diucapkan oleh gadis kecil itu.


"Maksudnya seperti apa? Aku tidak mengerti?" tanya Juwita lembut.


"Iya, waktu itu Micella tidak suka pada mamanya kak Anggi dan, bunda berpesan kalua mama itu adalah wanita yang baik dan, pemaaf, sebab itu Micella bisa menerima tante Dila," jawab Micella lembut.


Juwita tersenyum, karena dia sudah mengerti apa yang diucapkan oleh Micella. Tanpa mereka sadari, ternyata sejak tadi Anggi mendengar ucapan mereka berdua.


'Ternyata dugaan aku benar adanya, Syifa yang membuat Micella bisa menerima mama dengan muda,' batin Anggi.


Pria itu langsung bergegas pergi dari sana, karena dia ingin menenangkan diri sebentar, sebab mengingat kembali masa-masa indah bersama Syifa.


Butuh waktu lama baginya untuk melupakan Syifa, karena masa-masa indah yang mereka berdua lalui, tidak singkat, 12 tahun adalah waktu yang lama.


"Kalau saja semua tidak terjadi. Mungkin aku dan, Syifa sudah memiliki anak, andai aku menerima uang papa untuk menikahi Syifa, pasti kami sudah bahagia bersama."


Anggi berucap dengan lirih. Bahkan pria itu sampai menitihkan air mata, karena jujur belum bisa melupakan Syifa dengan sepenuhnya, walaupun dia dan, Juwita sudah saling menerima satu sama lainnya.


"Semua sudah berlalu, cepat atau lambat, pasti aku bisa melupakannya dengan muda," ucap Anggi lirih.


. . .


Dila tersenyum saat melihat wajah Dilon dari layar ponselnya. Ya, pria itu menelpon Dila mengunakan panggilan video, karena dia sangat merindukan wanita cantik itu.


Dila: Apa ada wanita di sana?


Dilon: Banyak.


Dila: Maksudnya, di samping kamu!


Dilon tersenyum dan, menggeleng kepalanya, karena dia lucu melihat sikap Dila yang seperti remaja, selalu cemburu padanya.


Dilon: Tidak ada sayang, aku akan kembali secepatnya dan, menikahimu.


Dila: Aku tutup dulu, ada orang datang.


Dila langsung menutup panggilan video secara sepihak, karena dia belum bisa menjawab pertanyaan pria itu.

__ADS_1


"Aku belum bisa menikah dan, menjalin hubungan. Jujur, aku masih trauma, apa lagi baru setengah tahun aku menjadi janda," ucap Dila lirih.


Wanita itu masih sangat trauma akan apa yang ia lalui bersama Syerkhan dan, berpikir semua pria pasti akan selingkuh bila melihat wanita yang lebih darinya.


'Jujur, aku sangat sakit saat mengingat kembali kejadian itu. Tapi, aku juga tidak boleh hidup dalam rasa sakit itu, karena aku tidak akan merasakan kebahagiaan, kalau terus hidup dalam dendam,' batin Dila lirih.


. . .


Syerkhan tersenyum, saat melihat Micella datang bersama Anggi juga Juwita dan, dia pun langsung mengendong gadis kecil itu dengan lembut.


"Om sangat merindukanmu," ucap Syerkhan lembut.


"Turun," sahut Micella.


Syerkhan tersenyum dan, menurunkan Micella dengan lembut, kemudian mereka semua bergegas ke sofa dan, duduk di sana.


"Pa, di mana Syifa?" tanya Anggi sepontan saat tidak melihat adanya Syifa.


Sontak, membuat Syerkhan dibakar api cemburu dan, langsung mengelengkan kepalanya, karena tidak mau memberitahu sang anak di mana Syifa.


"Sudahlah, ayo kita duduk," ucap Syerkhan yang mengalihkan pembicaraan.


"Om, di mana bunda?" tanya Micella.


Syerkhan menghela nafas panjang, karena dia tidak bisa berbohong pada Micella di mana sang istri berada saat ini.


"Dia ada di kamar," jawab Syerkhan pelan.


Micella langsung berlari ke lantai atas, karena dia sudah sangat merindukan sang bunda. Sedangkan Juwita dan, Anggi juga Syerkhan duduk di sofa dengan.


'Apa maksudnya bertanya Syifa,' batin Syerkhan.


Syerkhan terus-menerus menatap wajah Anggi, membuat pria itu paham kenapa sang papa menatap dirinya seperti itu.


'Papa pasti cemburu, karena aku bertanya Syifa. Tapi jujur, semua ini membuatku selalu mengingat Syifa, bukannya melupakan dia, aku malah sulit, karena sering kali bertemu dengannya,' batin Anggi.


Bukan mau Anggi, dia belum bisa melupakan Syifa, namun takdir tidak mempersatukan mereka berdua.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2