
Anggi tidak menjawab apa pun dan, Juwita langsung memakai baju milik sang suami, bukan karena takut dia mengenakan kaus Anggi. Namun, ini adalah kesempatan memeluk pria itu secara tidak langsung.
'Aaahhh, aku merasa ada di dalam pelukan Anggi, sangat nyaman dan tenang,' batin Juwita.
Anggi menatap heran sang istri yang tersenyum sendiri, sehingga dia melambaikan tangannya, membuat Juwita tersentak kaget.
"Anggi!" teriak Juwita.
Gadis itu langsung memukuli sang suami mengunakan bantal, membuat Anggi tertawa lepas, sebab merasa lucu kalau sahabatnya itu marah.
"Sudah hentikan!" teriak Anggi.
Sebab, ia sudah tidak tahan lagi tertawa dan, rasanya ia ingin buang air kecil. Namun, Juwita tidak mau berhenti.
"Aaahhh!" teriak Juwita.
Sebab, ia merasa ada air yang tumpah dari dalam celana sang suami, karena sekarang posisinya ada di pangkuan pria itu.
"Ju, gue pipis!" pekik Anggi.
"Iyuk!" teriak Juwita.
Gadis itu cepat-cepat berlari ke dalam kamar mandi dan, Anggi pun mengikutinya, mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi bersamaan.
"Ke luar! Aku harus berganti baju," pinta Anggi.
"Tidak! Aku juga mau berganti baju," jawab Juwita dengan menantang.
Anggi menghela nafas panjang, kemudian dia pun membuka celana di hadapan sang istri. Sontak, Juwita membuka mulut lebar-lebar.
"Dasar mesum!" Juwita bergegas pergi dari sana.
Sebab, ia tadi melihat Kris Jaka Tarub di dalam kandang, membuatnya berpikir yang bukan-bukan. Sedangkan Anggi, tertawa lepas melihat raut wajah istrinya tadi.
"Melihat milikku saja dia takut, tapi senang membuatku bernafsu, dasar wanita," gumam Anggi.
Pria itu tidak habis pikir, kenapa Juwita selalu ingin membuatnya nafsu. Namun, tadi saja takut saat melihat Kris Jaka Tarub miliknya.
. . .
Syerkhan terbangun dan, melihat dirinya ada di tempat tidur sendirian, sedangkan Syifa, ada bersama dengan Micella. Padahal sebelum tidur dia yang ada bersama sang istri.
'Apa-apaan ini, kenapa malah aku yang tidur sendirian dan, Micella enak sekali dia di pelukan Syifa,' batin Syerkhan cemburu.
Pria itu kesal sang istri ada bersama Micella, bukannya dirinya. Padahal ia sangat merindukan gadis itu.
"Aaahhh!" teriak Syerkhan kesal.
Sontak, Micella dan Syifa langsung bangun, karena terkejut Syerkhan berteriak-teriak. Padahal hari masih sangat pagi.
"Ada apa, Om?" tanya Micella panik.
__ADS_1
Sebab, ia takut terjadi sesuatu pada Syerkhan atau Syifa, pria itu langsung tersenyum dan, menggelengkan kepalanya.
"Om, kenapa berteriak?" tanya Syifa lembut.
Syerkhan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, membuat Syifa menghela nafas panjang, begitu juga dengan Micella.
"Sepertinya Om Syerkhan, mimpi buruk," bisik Micella di telinga Syifa.
"Aku juga merasa begitu," jawab Syifa pelan.
Agar sang suami, tidak mendengarkan ucapannya dan Micella, membuat Syerkhan penasaran, karena dia sama sekali tidak mendengar apapun.
"Apa yang kalian, bicarakan?" tanya Syerkhan penasaran.
"Jangan beritahu," ucap Micella.
Membuat Syerkhan semakin penasaran dan, dia pun menghampiri kedua gadis cantik itu. Kemudian, ia menggelitik mereka secercah bersamaan.
"Om Syerkhan, hentikan!" teriak Micella sambil terus mencoba kabur.
Namun, tidak bisa, sebab Syerkhan pandai membuat Micella tertawa lepas. Bahkan, Syifa juga tertawa.
"Om, sudah!" teriak Syifa.
Syerkhan langsung berhenti, karena sang istri memintanya untuk berhenti, membuat Micella bernafas lega.
"Ahkirnya, penderitaan kita berakhir juga," ucap Micella dengan sangat polos.
. . . .
Satu Minggu kemudian . . .
Tak terasa, hari ini Dila dan Syerkhan sudah bercerai dan, mereka bukan lagi suami-istri. Namun, keduanya tampak hadir di persidangan terakhir.
"Sekarang kalian bukan pasangan lagi!"
Dila tersenyum, karena sekarang dia sudah terbebas dari Syerkhan. Namun, pria itu terlihat bersedih saat mereka dinyatakan sudah berpisah.
"Mas, selamat bahagia bersama istri barumu, aku harap kamu senang dengan keputusan yang kamu ambil ini," ucap Dila lembut.
Namun, sangat menyayat hati Syerkhan, kemudian pria itu bangun dari duduknya dan, menghampiri Dila.
"Bukankah, aku sudah menjabat gugatan mu beberapa hari lalu?" tanya Syerkhan lembut.
Dila langsung bangun, kemudian menatap wajah Syerkhan dengan dalam dan ia memperlihatkan kertas yang sudah di sobek-sobek.
"Apa yang terjadi pada kertas ini? Katakan padanya?" tanya Dila lembut.
"Hancur," jawab Syerkhan cepat.
Dila tersenyum simpul, sambil menepuk tangannya dengan lembut, kemudian memberikan satu kode. Namun, Syerkhan tidak mengerti.
__ADS_1
"Katakan saja! Aku tidak mengerti," ucap Syerkhan dengan bingung.
"Kertas itu ibaratnya aku, bila sudah hancur tidak akan bisa kembali lagi, seperti semula dan tidak bisa utuh lagi," jawab Dila.
Syerkhan diam dan, menundukkan wajahnya, karena dia malu akan perbuatan yang ia lakukan.
"Maafkan aku," ucap Syerkhan lirih.
"Aku selalu memaafkan kamu. Tapi, ingatlah, penyesalan sudah tidak ada gunanya lagi." Dila berucap dan, bergegas pergi dari sana.
Tanpa disadari oleh Syerkhan, ternyata Syifa sejak tadi melihat dan mendengar ucapan mereka.
'Ternyata, om Syerkhan masih mencintai tante Dila, lalu mengapa dia mengatakan cinta padaku?' batin Syifa sambil berpikir.
Gadis itu sudah mulai memiliki perasaan pada Syerkhan. Namun, belum menyadari dan, menepis rasa itu.
"Aku tunggu di mobil saja," gumam Syifa sambil berjalan menuju mobil.
Setelah sampai, dia pun duduk dan Syerkhan juga tiba dan, duduk di sampingnya sambil mengecup kening gadis itu.
"Tidak lama menunggu aku, 'kan?" tanya Syerkhan lembut.
"Tidak," jawab Syifa cepat sambil tersenyum manis.
Syerkhan tersenyum dan, bergegas mengemudikan mobilnya menuju dokter kandungan, sebab hari ini adalah jadwal Syifa memeriksa kandungannya.
"Aku tidak sabar, melihat anak kita nanti seperti apa," ucap Syerkhan dengan antusias.
Syifa tersenyum, karena lucu melihat Syerkhan seperti mendapatkan anak pertahun saja. Padahal ini anak kedua pria itu.
"Kandungan Syifa saja, baru berusia lima Minggu, yang jelas belum kelihatan," sahut Syifa.
Syerkhan langsung diam dan, mengingat kembali saat Dila hamil Anggi, dia pun tertawa, sebab sudah lupa kenangan 25 tahun silam.
"Sudah lama sayang, jelas saja aku lupa dan, aku hanya satu kali menjadi seorang ayah. Jadi, tidak muda mengingat masa lalu ku," ucap Syerkhan sambil tersenyum.
Syifa tersenyum, karena dia juga berpikir hal yang sama seperti Syerkhan dan, memaklumi bahwa sang suami sudah tua.
'Om Syerkhan sudah tua. Bahkan, umurnya sama seperti ayah,' batin Syifa.
Gadis itu sama sekali tidak pernah malu saat bersama Syerkhan, karena orang akan mengira mereka adalah ayah dan anak.
Setelah sampai di rumah sakit, mereka berdua langsung turun dari mobil dan, bergegas masuk ke dalam, sebab Dokter kandungan sudah menunggu.
Ceklek!
"Permisi Dok, maaf lama menunggu kami," ucap Syerkhan lembut.
"Tidak, kalian belum terlambat," jawab Dokter tersebut dengan rama.
Syerkhan langsung duduk bersama dengan Syifa di hadapan Dokter tersebut dan, mulai menceritakan keluh kesah Syifa.
__ADS_1
BERSAMBUNG.