Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
56 > Aneh?


__ADS_3

Satu bulan berlalu . . .


Kini usia kehamilan Syifa sudah memasuki usia empat bulan dan, pada pagi ini mereka mengadakan acara-acara empat bulanan Syifa, bersama seluruh keluarganya.


Ada Dilon dan sang anak, ada Dila dan menantunya juga ada rekan bisnis Syerkhan, yang menghadiri acara syukuran empat bulan Syifa.


Sebab, Syerkan yang menginginkan hal itu. Padahal Syifa sama sekali tidak mau mengadakan syukuran calon anaknya, namun sang suami yang sangat menginginkan hal tersebut.


"Sayang, mari kita duduk di depan, karena acara sudah dimulai dan, para tamu undangan juga sudah hadir," ucap Syerkhan dengan lembut.


Syifa yang baru saja selesai dirias langsung menghampiri sang suami dan, bergelayut manja di tangan kekar pria itu, sebab sudah menjadi kebiasaannya satu bulan terakhir, bila melihat suaminya.


"Sayang, apa tidak malu dilihat oleh para MUA yang ada dihadapan kita?" tanya Syerkhan lembut.


Padahal ia hanya berpura-pura, agar Syifa merasa malu sudah bermanja-manja dengannya didepan umum.


"Tidak, karena mereka tidak melihat kita," jawab Syifa lembut.


Syerkan langsung mencium kening sang istri, kemudian mengandeng tangan Syifa lembut dan, berjalan menuju luar. Sesampainya mereka di tempat cara, terlihat semua orang sudah hadir, namun tidak ada Anggi di sana.


Karena pria itu, memang tidak mau menghadiri acara yang membuat hatinya kian sakit dan, meminta Juwita untuk hadir di sana mewakilinya.


'Tidak ada Anggi, apa dia belum bisa melupakan aku? Tapi, kami sudah berjanji kemarin, akan saling melupakan dan, melanjutkan kehidupan kami yang baru,' batin Syifa sambil berpikir.


"Kita turun?" tanya Syerkhan dengan lembut.


Pria itu bergegas turun dari tangga bersama sang istri dengan perlahan, sebab dia takut terjadi sesuatu pada calon anaknya, karena perut Syifa sudah mulai membesar.


"Selamat Pak Syerkhan, Anda sebentar lagi akan mendapatkan anak," ucap rekan bisnis Syerkhan.


"Terima kasih Pak, saya juga tidak menyangka, di umur yang sudah tua, saya masih bisa mendapatkan anak," jawab Syerkhan lembut.


Mereka berdua saling bercerita, sedangkan Syifa langsung bergegas pergi dari sana, sebab dia ingin menghampiri Dila. Sesampainya dia di tempat Dila, dia pun langsung duduk.


"Tante, di mana Anggi?" tanya Syifa dengan terus terang.


Sebab, dia penasaran kenapa mantan kekasih yang sekarang menjadi anak tirinya tidak harus dalam caranya. Sedangkan Juwita, hanya tersenyum saat wanita lain bertanya tentang suaminya.


"Entahlah, mama tidak tahu kenapa Anggi sejak kemarin terus muntah. Bahkan, sekarang dia tidak enak badan," jawab Dila.


Ya, Anggi memang beberapa hari ini terus muntah dan tidak mau makan, juga demam disertai sakit kepala.

__ADS_1


"Iya, suamiku seperti wanita hamil saja. Padahal dia pria," tambah Juwita.


"Aneh ya, kenapa dia seperti itu. Sudah di bawa ke dokter?" tanya Syifa lembut.


Dila menceritakan semua Dokter sudah mereka kunjungi, namun tidak ada penyakit yang serius pada sang anak, membuat mereka bingung, pasalnya Anggi tak kunjung sembuh.


"Besok Syifa dan om Syerkhan, akan menjenguk Anggi, siapa tahu dia langsung sembuh. Mungkin juga, dia rindu papanya," ucap Syifa lembut.


Dila dan Juwita tersenyum, sebab mereka juga berpikir hal yang sama, namun tidak berani mengungkapkan, karena Anggi tidak mau bertemu papanya sejak dua bulan terakhir ini.


Acara sudah dimulai, semua tamu undangan menyaksikan keseruan yang diciptakan oleh Syerkan, sebab pria itu banyak melakukan tradisi dari kedua orang tuanya, walaupun mereka sudah lama meninggal.


Setelah acara selesai, semua tamu undangan pulang termaksud Dila dan Juwita, sebab mereka tidak tenang memikirkan Anggi sendirian di rumah.


. . .


Syerkhan dan Syifa tidak pulang, karena mereka sudah menyewa kamar ditempat mereka mengadakan acara empat bulanan, sebab gadis itu merasa lelah bila harus pulang ke rumah.


"Om, besok kita temui Anggi ya," ucap Syifa lembut.


"Memangnya ada apa dengannya?" jawab Syerkan dengan pernyataan.


"Sakit, mungkin dia rindu dengan papanya," jawab Syifa lembut.


'Aneh, kenapa aku tidak cemas saat mendengar anakku sakit?' batin Syerkhan sambil berpikir.


"Om, mau tidak?!" tanya Syifa kesal.


Sebab, sang suami hanya diam tidak menjawab pertanyaannya, membuat dia sangat kesal.


"Iya, besok kita akan ke sana sebelum pulang," jawab Syerkhan lembut.


Syifa tersenyum dan, langsung memeluk sang suami dengan lembut, sebab sudah menyetujui permintaannya.


"Aku sangat mencintaimu," ucap Syerkhan lembut.


"I love you too," jawab Syifa lembut.


Syerkan sangat bahagia, karena cintanya bisa terbalas oleh wanita yang berarti dalam hidupnya dan, tengah mengandung buah hatinya.


. . .

__ADS_1


Juwita pusing, karena Anggi sama sekali tidak mau makan. Bahkan, minum saja tidak mau, membuat gadis itu pusing.


"Anggi, elo mau apa? Biar gue buatin?" tanya Juwita lembut.


Anggi mengelengkan kepalanya, dengan wajah pucat, sebab dari kemarin pria itu sama sekali tidak makan apapun sampai hari ini.


"Elo mau susu?" tanya Juwita lembut dan sabar.


Sambil memakan buah-buahan yang diberikan Dila untuk Anggi, namun malah Juwita yang memakannya.


"Susu?" tanya Anggi.


Pria itu langsung bangun dan, menatap wajah sang istri dengan lembut, kemudian menganggukkan kepalanya, sebab dia ingin minum susu.


"Iya, kamu mau?" jawab Juwita dengan pertanyaan.


Anggi menganggukan kepalanya, kemudian Juwita bergegas pergi dari sana untuk membuat susu sang suami, namun saat dia sampai di dapur, ponselnya berdering.


"Ngapain juga ni anak nelpon. Padahal gue dah mau balik ke kamar?" gumam Juwita sambil menerima panggilan dari Anggi.


Anggi: Sayang, tolong ya, gue mau susu ibu hamil rasa Valina.


Sontak, membuat Juwita terkejut, karena sang suami menginginkan susu ibu hamil. Padahal Anggi adalah seorang pria.


Juwita: Elo gak salah minta, 'kan?


Anggi: Enggak, pokoknya gue mau susu ibu hamil, sekarang juga!


Anggi memutuskan telepon secara sepihak, membuat Juwita menghela nafas panjang, sebab dia harus ke Swalayan untuk membeli susu ibu hamil.


"Entah deh, gue heran banget sama tuh orang, udah malem-malem kayak gini, gue disuruh ke Swalayan beli susu ibu hamil. Kurang kerjaan banget, 'kan?!" gram Juwita sambil terus berjalan.


Gadis itu berjalan masuk ke dalam Swalayan dan, mengambil susu ibu hamil yang diminta oleh sang suami. Saat dia tengah membayar, tiba-tiba ada seorang pria yang menabraknya, membuat dia hampir terjauh.


"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Edwin lembut.


"Tidak masalah Om, saya baik-baik kok," jawab Juwita lembut.


Edwin menatap wajah Juwita dan, mengingat gadis itu adalah menantu sang-bos, kemudian dia menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.


Tidak mau menolak, Juwita mau saja di antara Edwin sampai di rumah, sebab dia juga telah kalau berjalan pulang ke rumah.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2