Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
75 > Mendua


__ADS_3

Syifa tersenyum, membuat Syerkhan dan juga Anggi bernafas lega, karena mereka berdua mengira gadis itu tidak menyukai bulan yang mereka berikan.


"Syifa suka, terima kasih." Syifa beranjak bangun dan, bergegas pergi dari sana.


Sebab, dia ingin memeluk boneka bulan itu dengan puas tanpa ada yang menganggunya. Sedangkan Syerkhan juga Anggi, masih diam saling menatap satu sama lainnya. Karena, misi mereka selesai kali ini.


"Terima kasih banyak Nak, karena kamu bisa membuat papa bernafas lega," ucap Syerkhan lembut.


Anggi tersenyum, kemudian Syerkhan memeluknya dengan sangat lembut. Sontak, membuat pria itu terkejut, sebab mereka sudah lama tidak saling berpelukan, sebab masalah yang mereka berdua hadapi.


'Salahkah aku membenci pelukan ini? Tapi, bagaimana pun Papa adalah orang tuaku, tidak boleh aku bersikap tidak sopan padanya. Mungkin semua yang kami lalui memang sudah takdir,' batin Anggi lirih.


Goresan di dalam hatinya masih terasa pedih. Namun, ia harus menahan itu demi keluarga yang ia sayangi, sebab sang mama juga sudah bahagia dengan pria lain. Bahkan, ia pun sudah bahagia dengan wanita yang sangat mencintainya.


Rasa sakit yang awalnya tidak bisa dilupakan, kini sudah mulai memudar seiring berjalannya waktu. Anggi bisa memaafkan papanya yang merebut kekasih yang sangat dia cintai.


"Maafkan papa, selama ini sudah banyak salah. Menyakiti kalian dan, menghancurkan perasaan kalian," ucap Syerkhan lirih.


Air mata yang tidak pernah orang lihat, kini Anggi melihat jelas sang papa menangis tersedu-sedu dihadapannya, hanya karena menyesali perbuatan beberapa bulan lalu.


Anggi langsung memeluk sang anak, karena dia sudah mulai bisa memaafkan Syerkhan, walaupun itu hal yang sangat sulit untuknya. Namun, ia harus melakukan hal tersebut, sebab pria itu adalah papa kandungan yang sudah membesarkannya sampai seperti ini.


"Papa jangan seperti ini! Anggi sudah melupakan kesalahan Papa itu," ucap Anggi lirih.


Syerkhan tersenyum dan, memeluk sang anak dengan lembut, karena dia bahagia putra satu-satunya bisa memaafkan kesalahannya yang sangat besar.


"Pa, Anggi pulang dulu, kasihan Juwita di rumah sendiri," ucap Anggi lembut.


"Baiklah, hati-hati di jalan," sahut Syerkhan lembut.


Anggi mencium tangan sang papa dan, dia pun bergegas pergi dari sana, sebab hari sudah semakin malam juga, istrinya di rumah seorang diri. Ya, walaupun ada Dila, tetap Juwita hanya sendirian di kamar, karena mertuanya selalu di ruangan kerja, menyeleksi pekerjaan sebelum acara pernikahan di mulai.

__ADS_1


. . .


Syifa tersenyum sambil memeluk boneka bulan dari Anggi, karena rasa inginnya sudah terpenuhi. Ya, walaupun bukan bulan sungguhan, tetap dia gembira bisa melihat boneka bulan.


Saat tengah bermain-main dengan bonekanya, Syerkhan datang sambil membawakan susu untuknya. Dengan sigap, Syifa langsung mengambil susu itu dan, menghabiskannya, sebab dia takut sang suami marah.


"Wah, anak pintar ini meminum susu sampai habis," ujar Syerkhan.


Sontak, membuat Syifa langsung menoleh dan menatap tajam ke arah sang suami yang mengatakan dia adalah anak pintar. Padahal ia saja sudah mau memiliki anak, sudah tidak pantas lagi dipanggil anak oleh sang suami.


"Kenapa?" tanya Syerkhan sambil mengedipkan matanya.


"Dasar mesum!" teriak Syifa.


Gadis itu langsung berlari naik ke atas tempat tidur, membuat Syerkhan cemas akan keadaan calon anaknya yang ada di dalam perut Syifa.


"Sayang, jangan berlari! Aku takut anak kita kenapa-kenapa!" teriak Syerkhan.


"Anak papa, bila sudah besar nanti jangan seperti Mama! Sebab, dia tidak mendengarkan ucapan papa," ucap Syerkhan lembut.


Syifa langsung mencubit lengan Syerkhan, karena dia kesal sang suami berbicara seperti itu pada calon anak mereka, yang belum tahu apa-apa.


"Ada apa?!" tanya Syerkhan dengan kesal.


Sebab, dia tidak bisa disakiti oleh siapa pun termaksud sang istri. Membuat Syifa langsung, karena dia sedikit takut akan marah pria yang ada dihadapannya.


"Maaf, aku bukan sengaja membentak kamu. Tapi, aku terkejut tadi," tambah Syerkhan.


Karena dia tahu, kalau sang istri pasti marah akan sikapnya tadi. Namun, Syifa sama sekali tidak menjawab ucapan suaminya, sehingga Syerkhan langsung mencium pipi gadis itu dengan bertubi-tubi, berharap gadis itu marah padanya.


Namun, Syifa hanya diam, membuat Syerkan bingung harus berbuat apa dan, satu ide masuk ke dalam pikirannya, agar sang istri mau berbicara padanya.

__ADS_1


"Astaga! Aku lupa, kalau bu Merlin meminta bertemu malam ini," ucap Syerkhan sambil menepuk keningnya.


"Apa?" tanya Syifa dengan sepontan.


Sebab, dia sangat cemburu pada Syerkhan dan Merlin, entah mengapa, dia juga tidak tahu rasa itu datang dengan sendirinya, tanpa disadari olehnya.


"Wah, sepertinya ada yang kepo," jawab Syerkhan dengan lembut.


Namun, nada bicaranya sangat meledek Syifa, membuat gadis itu langsung memegang tangannya dan, mereka berdua saling menatap satu sama lain.


"Katakan! Kenapa bu Merlin ingin bertemu, di malam hari seperti ini?" tanya Syifa dengan sedikit memaksa Syerkhan.


Karena, dia benar-benar sangat emosi mendengar wanita lain ingin menemui suaminya di malam hari seperti ini. Padahal jam kerja mereka hanya pagi dan sore. Lalu, untuk apa bertemu lagi?


"Tidak ada, aku hanya berbohong tadi, agar kamu mau berbicara padaku," jawab Syerkhan lembut.


Pria itu terkekeh, karena rencananya membuat Syifa cemburu sudah berhasil dan, dia pun mencium tangan suaminya dengan lembut, sebab dia senang pria itu tidak berselingkuh dengan Merlin.


"Om, jangan selingkuh ya? Syifa takut menjadi Janda," ucap Syifa lirih.


Entah mengapa, tiba-tiba tebersit dalam pikirannya, kalau Syerkhan akan menduakannya sama seperti Dila, karena hal itu bisa saja terjadi, sebagai karma untuknya, sebab menikahi suami orang.


"Hei, apa yang kamu bicarakan? Aku tidak akan selingkuh, karena kamu adalah berlian yang tidak ada orang miliki," jawab Syerkhan lembut.


"Benarkah?" tanya Syifa lagi.


Syerkhan menganggukan kepalanya, karena dia senang akan jawaban dari sang suami yang tidak akan menduakannya. Namun, ia juga harus bisa menerima bila suatu saat nanti pria itu mencintai wanita lain.


'Aku tidak boleh terlalu senang, karena bisa Om Syerkhan mendua, aku harus bisa terima sebagai karma untukku. Dia saja bisa menikahi aku saat bersama mama Dila. Jadi, aku tidak bisa menyimpulkan bahwa dia sertia saat bersamaku,' batin Syifa lirih.


Entah mengapa, rasa cintanya pada Syerkhan semakin dalam dan, rasa takut kehilangan pria itu juga semakin besar. Namun, dia tidak ingin memperlihatkan hal itu pada siapa pun, karena takut juga malu, bercampur menjadi satu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2