
Sudah satu jam lamanya Syifa di pelukan Syerkhan. Namun, pria itu tak kunjung bangun membuat gadis cantik tersebut langsung bangun, sebab ia merasa sangat lapar.
"Aduh aku kok laper banget, sebaiknya aku makan aja deh, biarin Om Syerkan di sini. Lagian ini juga sudah tengah malam," gumam Syifa sambil terus berjalan.
Sejak hamil, gadis itu sangat sering kelaparan. Padahal, biasanya ia tidak pernah makan malam apalagi di tengah malam seperti ini.
Syifa membuat susu sendiri, kemudian ia juga memotong buah-buahan dan, membuat roti isi. Sebab, malam sudah larut jadi makanan sudah tidak ada lagi.
"Sepertinya ini sangat enak, sebaiknya aku makan di dalam kamar saja. Sebab, aku takut di sini tidak ada orang," ucap Syifa sambil membawa makanannya menuju kamar.
Gadis itu berjalan dengan perlahan masuk dalam kamar, kemudian duduk di sofa dan mulai menyantap makanannya, juga menghabiskan susu yang ia buat.
Setelah selesai makan, gadis itu pun merasa kenyang dan, ia langsung berangkat menghampiri Syerkhan, kemudian menidurkan tubuh di samping sang suami.
Rasa rindunya kian membara dan, langsung memeluk sang suami tanpa rasa malu. Sebab, pria yang itu ternyata tidur pulas jadi tidak akan tahu kalau ia memeluknya.
'Aku juga sedikit kasihan kepada Om Syerkhan, pasti dia merasa sangat menyesal dan aku sebenarnya senang kalau dia menyesal. Tapi, semua itu sudah tidak ada gunanya lagi. Sebab, aku sudah tidak bisa bersama dengan Anggi dan, dia akan menikah dengan wanita lain,' batin Syifa lirih.
Entah mengapa ia merasa sangat sedih bila melihat Syerkhan, yang tengah tertidur seperti ini. Padahal bila pria itu terbangun ia akan benar-benar sangat membencinya.
Karena, sudah menghancurkan masa depan dan kebahagiaannya bersama dengan Anggi, kini mereka sudah hidup bersama pasangan masing-masing, walaupun ia yakin Anggi itu tidak bahagia menikah dengan Juwita.
'Aku tahu dia menikah dengan Juwita hanya agar terlihat dia baik-baik saja. Namun, aku sangat tahu betul sifat dan kelakuannya, karena kami sudah bersama sejak 12 tahun yang lalu,' batin Syifa.
Gadis itu pun membayangkan masa-masa indahnya bersama dengan Anggi, sampai ia pun terlelap pulas tanpa sadar memeluk Syerkhan dengan erat.
Saat jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi, Syerkhan terbangun dan, melihat sang istri memeluknya, betapa senangnya hati pria itu karena Syifa memeluknya tanpa paksaan darinya.
__ADS_1
Namun, saat itu juga ia pun teringat kepada sang anak, karena dia, anak semata wayangnya menderita dan kehilangan cinta pertama.
'Aku ini memang wyah yang egois sudah membuat putraku menderita dan, aku malah bahagia di atas penderitaannya,' batin Syerkhan lirih.
Pria itu dengan perlahan menyingkirkan sang istri dari pelukannya. Sebab, ia ingin menjauhi Syifa dan melupakan rasa cintanya kepada gadis itu, ia berpikir akan menceraikan sang istri setelah melahirkan buah hati mereka.
"Semoga keputusanku ini benar, karena aku tidak ingin merasa bersalah seumur hidupku sudah menikah dengan wanita yang sangat dicintai Anggi, Putra pertamaku," ucap Syerkhan dengan lirih.
Syerkhan dengan perlahan bergegas pergi dari sana. Sebab, ia ingin bersiap-siap ke kantor pagi ini, karena ada meeting pentin, ia pun pergi tanpa berpamitan kepada sang istri tidak seperti biasanya.
Setelah selesai bersiap-siap, Syerkhan langsung bergegas pergi, ia pun sengaja tidak berpamitan dengan Syifa, karena pria itu ingin melupakan wanita yang dicintai agar tidak hidup dalam rasa bersalahnya seumur hidup.
Padahal, ia tidak yakin jika ia bisa melupakan Syifa dengan mudah. Sebab ia tidak pernah mencintai seorang wanita dengan sedalam ini. Bahkan, ia pun tidak mencintai Dila sebesar ini.
. . .
Dila, Anggi dan Juwita sudah sampai ini butik langganan keluarga Syerkhan yang sangat mereka percayai, beberapa tahun ini.
"Ma, sebaiknya papa dan Syifa juga dibuatkan baju untuk keluarga kita. Sebab, Anggi ingin mama dan papa memakai baju sama sebelum kalian bercerai," pinta Anggi kepada sang mama.
Sontak Dila diam akan pertanyaan Anggi. Sebab, ia sama sekali tidak ingin memakai baju yang sama dengan sang suami. Bahkan, juga dengan madunya. Namun, ini semua ia harus lakukan demi Anggi.
"Baiklah Nak, kami semua akan memakai baju yang sama, mama keluarga Juwita dan juga papamu," jawab Dila dengan lembut.
"Terima kasih Ma, karena ini memang permintaan Anggi terakhir kalinya, sebelum mama dan papa bercerai," sahut Anggi dengan sangat bergembira.
Dila tersenyum, karena bisa melihat kebahagiaan dari sang putra. Kemudian, mereka pun berpelukan.
__ADS_1
Sedangkan Juwita, hanya melihat kebahagiaan Anggi dan sang mama, karena ia tidak ingin mengganggu kebahagiaan mereka. Walaupun ia tidak menghancurkan kebahagiaan mereka.
Tetap saja, ia merasa akan mengganggu kebahagiaan mereka, karena tidak seperti biasanya Anggi terlihat sebahagia saat ini.
'Aku senang, karena Anggi bisa memaafkan papanya dan, juga Syifa karena aku ingin mereka akur. Namun, tidak mungkin om Syerkhan. dan, Tante Dila bisa kembali menjadi suami-istri lagi. Sebab, aku tahu pria itu tidak akan melepaskan Syifa,' batin Juwita.
Mereka semua bergegas memakai baju karena pemilik butik, sudah membawakan pakaian yang dipesan oleh Anggi dan Juwita.
Terlihat Juwita begitu sangat cantik mengenakan baju yang seharusnya digunakan oleh Syifa. Sebab, Anggi sudah mempersiapkan baju itu untuk sang istri beberapa bulan lalu. Namun, semua tidak menjadi kenyataan, karena Syifa sudah menikah dengan ayahnya.
'Aku sedih jika mengingat baju ini, karena seharusnya yang mengenakan adalah Syifa bukan Juwita. Tapi, aku harus bisa menerima semuanya, karena sudah takdirku,' batin Anggi lirih.
"Juwita sayang, kamu terlihat sangat cantik mengenakan gaun pengantin itu, Mama tidak sabar kamu menikah dengan Anggi," ucap Dila dengan sangat bergembira.
Sontak membuat Juwita tersipu malu dan, dia pun langsung menundukkan wajahnya, membuat Anggi langsung menoleh.
"Sudah, kamu tidak usah malu. Mama memang suka begitu berbicara bohong. Padahal, kamu terlihat begitu jelek mengenakan baju pengantin itu," canda Anggi membuat Juwita kesal.
"Dasar emang nggak ada akhlaknya, manis dikit gitu, sama calon istrinya," celetuk Juwita sambil memukul lengan Anggi dengan lembut.
Dila langsung tertawa melihat tingkah mereka, sebab keduanya tidak berubah dari dulu hingga saat ini selalu bertengkar.
"Mama dulu ingin mengatakan kalau kalian itu takutnya jodoh, kalau terus-terusan bertengkar. Tapi, sekarang semua sudah menjadi kenyataan, kalian akan menjadi sepasang suami-istri beberapa hari lagi," ucap Dila sambil menatap wajah Juwita.
Sebab, Dila sudah memprediksi mereka akan berjodoh. Padahal mereka berdua terus-terusan bertengkar sejak dulu.
BERSAMBUNG.
__ADS_1