
Anggi terjauh lemas ke lantai, kemudian dia pingsan karena sakitnya kambuh membuat Syifa terkejut.
"Tolong!" teriak Syifa dan Juwita langsung masuk ke dalam.
"Anggi! Ayo kita bawa dia ke rumah sakit," ucap Juwita dengan sangat cemas.
Mereka membawa Anggi ke rumah sakit, dengan bantuan beberapa orang yang bekerja di toko baju milik Anggi.
Selama di perjalanan, Syifa sangat cemas akan keadaan Anggi dan dia terus memeluk pria itu dengan erat.
"Ya Tuhan, tolong selamatkan Anggi," ucap Syifa dengan sangat berharap.
Juwita hanya melihat Syifa memeluk Anggi dengan erat dan, hatinya sangat sakit. Namun, ia harus sadar kalau mereka memang akan segera menikah.
'Sakit sekali hati ini, andai aku yang ada di posisi Syifa, aku memeluk Anggi dengan erat,' batin Juwita lirih.
Setalah sampai di rumah sakit, mereka langsung membawa Anggi ke IGD dan, langsung di tangani oleh dokter yang berkerja di sana.
"Syifa, aku mohon duduklah! Lelah aku melihat terus berjalan!" pinta Juwita dengan kesal.
"Maaf," ucap Syifa dengan lembut.
Gadis itu langsung duduk di samping Juwita dan selang beberapa waktu, Dokter ke luar dan memanggil mereka berdua.
"Bagaimana keaannya, Dok?" tanya Syifa dengan sangat cemas.
"Penyakitnya semakin parah, karena dia tidak mau di operasi," jawab Dokternya tersebut.
Syifa merasa sangat heran, karena setahunya Anggi tidak memiliki sakit apapun dan sekarang Dokter itu mengatakan, kalau Anggi harus di operasi?
"Saya, tidak mengerti Dok," ucap Syifa.
Dokter itu menjelaskan kalau Anggi memiliki kelenjar yang ada di tangannya dan, semakin membesar harus di operasi. Membuat Syifa sangat terkejut.
'Anggi sakit dan, aku sama sekali tidak mengetahui semuanya?' batin Syifa lirih.
Gadis itu berlari dengan sekuat tenaga, menuju parkiran dan dia duduk di sana sambil menelpon Dila.
Syifa: Halo Tante.
Dila: Ada apa Nak? Kenapa, kamu menangis?
Syifa: Anggi masuk rumah sakit, sekarang datanglah.
Syifa langsung memutuskan sambungan telepon, dan menangis sejadi-jadinya. Sebab, Anggi memiliki penyakit yang hampir memakan nyawanya. Namun, tidak mau di operasi.
"Aku benar-benar sangat egois, sampai pacarku sakit aku sama sekali tidak mengetahui," ucap Syifa dalam Isak tangisannya.
__ADS_1
. . .
Juwita masuk ke dalam ruangan Anggi dan, menghampiri pria itu yang terbaring lemas, hatinya lirih melihat sang sahabat.
"Di mana Syifa?" tanya Anggi.
"Dia tadi berlari, saat Dokter menjelaskan penyakit mu," jawab Juwita.
Anggi diam, karena rahasianya sudah diketahui oleh Syifa yang selama ini di simpan rapat-rapat.
"Kenapa kamu pingsan, apa yang terjadi?" tanya Juwita.
Anggi langsung mengingat kembali pertengkarannya dan Syifa, rasa sakit di dadanya menghampirinya kembali.
'Aku benar-benar sangat kecewa pada papa, karena dia tega merenggut kebahagiaanku,' batin Anggi.
Pria itu kembali meneteskan air mata, membuat Juwita bersedih karena dia tidak bisa berbuat apapun.
"Anggi, elo mau ya operasi, supaya penyakit elo sembuh," pujuk Juwita untuk yang kesekian kalinya.
"Gue gak mau," jawab Anggi.
"Harus mau!" jawab Syifa yang baru saja sampai.
Anggi langsung menolah dan, melihat sang mama juga ada bersama Syifa masuk ke dalam dan menghampirinya.
"Maafkan Anggi Ma, semua ini demi kebaikan kita," jawab Anggi.
Dila semakin terisak-isak begitu juga dengan Syifa dan, mereka terus membujuk pria itu sampai akhir mau juga.
"Baiklah, aku akan ada di sampingmu saat kamu operasi nanti," ucap Syifa.
Ya, Anggi meminta agar Syifa selalu ada di sampingnya saat melakukan operasi nanti. Sebab, dia takut.
"Satu lagi, jangan beritahu papa. Sebab, Anggi tidak ingin pria itu ada di sini!" pinta Anggi.
Dila dan Syifa menganggukkan kepala mereka, karena hanya itu yang membuat Anggi mau di operasi.
'Andai saja, Anggi mau aku yang menemaninya operasi. Tapi, dia hanya menginginkan Syifa,' batin Juwita lirih.
Dila dan Syifa bergegas ke luar, karena mereka ingin membahas masalah penting. Setelah keuda wanita itu duduk di bangku.
"Syifa, mama mohon kamu menikahlah dengan papa. Sebab, anak ini butuh seorang ayah," ucap Dila sambil mengelus perut Syifa dengan lembut.
Ya, Dila mengetahui Syifa hamil karena gadis itu menceritakan semua pada wanita itu tadi, saat bertemu di depan rumah sakit.
"Tidak! Syifa tidak aku sampai kapanpun, karena om Syerkhan sudah merenggut kebahagiaan Syifa dan Anggi, apa Tante tidak lihat bagaimana Anggi tadi?" jawab Syifa dengan lirih.
__ADS_1
Dila terus membujuk Syifa. Namun, gadis itu masih tetap tidak mau, sehingga dia mengikuti apa keinginan Syifa.
"Tante, jangan pergi saat Syifa menemani Anggi operasi nanti," ucap Syifa dengan lirih.
Dila memeluk gadis itu dengan lembut, karena dia benar-benar sangat menyayangi, apa lagi ada benih suaminya di dalam rahim Syifa.
"Janji, mama akan ada di sini," jawab Dila dengan lembut.
Syifa langsung bergegas pergi dari sana, karena Anggi akan segera di operasi. Walaupun kondisinya masih lema, Syifa tetap ingin menemani Anggi, karena pria itu tidak akan mau kalau tidak ada dia.
"Tuhan, selamatkan Anggi dan lancarkan operasinya nanti," gumam Syifa sambil berjalan masuk ke dalam ruangan operasi.
Gadis itu berganti baju medis, karena dia akan ada di samping Anggi nanti. Setelah selesai, dia langsung bergegas masuk ke dalam ruangan yang sudah ada Anggi di sana.
"Syifa, aku takut," ucap Anggi pelan.
Syifa memegang tangan pria itu dan duduk di samping kepalanya, kemudian menguatkan Anggi dan meyakinkan kalau operasinya akan berjalan dengan lancar.
"Percayalah, aku akan ada di sampingmu," ucap Syifa dengan lembut.
"Terima kasih," jawab Anggi.
Beberapa perawat datang dan mulai menyanyikan beberapa cairan, yang sama sekali tidak diketahui Syifa. Gadis itu hanya diam sambil terus berdoa.
Sedangkan Anggi, sudah mulai pingsan karena obat bius yang disuntikkan Dokter tersebut.
"Dek, sanggup melihat operasi ini? Jika mau pergi bisa, setelah semuanya selesai, kami akan panggil lagi," ucap salah satu perawat di sana.
"Tidak Pak, karena janji saya menemani Anggi di sini sampai selesai operasinya," jawab Syifa.
Semua yang ada di sana kagum, karena seorang pacar menemani sampai selesai operasi, benar-benar sangat mencintai pasangannya.
Satu jam kemudian . . .
Syifa bernafas lega, karena operasi Anggi berjalan dengan lancar. Gadis itu sampai menangis karena melihat kelenjar yang sangat besar ke luar dari tubuh Anggi.
'Semua berjalan dengan lancarb dan, Anggi selamat, aku senang,' batin Syifa.
Setelah semuanya selesai, Anggi di pindahkan ke ruang pemulihan dan, Syifa masih setia menemani Anggi sampai pria itu sadar.
"Syifa," ucap Anggi dengan lema.
"Iya, aku ada di sini sejak tadi," jawab Syifa.
Anggi tersenyum, karena Syifa benar-benar menemaninya sampai selesai operasi. Padahal, ia pingsan tadi.
BERSAMBUNG.
__ADS_1