
Dua hari kemudian . . .
Hari ini, Syerkhan dan Syifa sudah berada di luar kota dan melihat proyek mereka yang harus selesai satu bulan ini.
Membuat Syifa sedikit cemas, karena sehabis dia pulang ke kotanya, ia akan memutuskan hubungan dengan Anggi kemudian pergi sejauh-jauhnya.
"Semuanya sudah beres, hanya tinggal menyelesaikan saja!" jelas mandor proyek di sana.
"Itu sangat bagus. Tapi, saya mau semua harus seperti kemauan pak Vinzen," ucap Syerkhan.
"Baik Pak," jawab mandor tersebut.
Syifa hanya diam, sambil menikmati hembusan angin yang membuat rambutnya berterbangan. Syerkhan langsung menarik tangan gadis itu.
"Biar papa rapikan, nanti kamu tidak melihat apapun karena rambutmu berantakan," ucap Syerkhan dengan lembut.
Syifa hanya diam, dan Syerkhan langsung mengikat rambut gadis itu mengunakan sapu tangan miliknya.
"Terima kasih Pa," ucap Syifa dengan lembut, kemudian dia bergegas pergi dari sana.
Sebab, untuk hari ini sudah selesai dan tinggal menunggu hari dia akan kembali dan bertemu dengan Anggi.
Sedangkan Syerkhan, masih diam sambil mengingat kembali malam saat dia dan Dila bertengkar hebat, karena ia sangat menginginkan Syifa menjadi istrinya.
Flashback on.
Syerkhan duduk di hadapan sang istri yang tengah menangis meminta agar suaminya, menceraikannya dan menikahi Syifa.
"Aku sudah puluhan kali, mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu," ucap Syerkhan dengan lembut.
"Cinta? Kalau itu benar, pasti kamu tidak akan pernah ingin menikahi wanita lain?!" tanya Dila dengan sangat emosi.
Jujur, hatinya sangat sakit mengingat kembali saat suaminya mengatakan mencintai wanita lain dan, sudah tidur bersama.
Wanita mana yang tidak sakit, suaminya ingin menikah lagi dengan gadis yang sudah mereka anggap sebagai anak?
"Iya, aku sangat mencintaimu. Tapi, aku juga mencintai Syifa," jawab Syerkhan dengan lembut.
"Baiklah, aku rela kamu menikah dengan Syifa, dengan satu syarat, bila Anggi juga menyetujui hal ini," ucap Dila degan tenang.
Sebab, dia juga memikirkan masa depan Syifa yang sudah hancur, karena berbuatan sang suami.
"Setuju!" jawab Syerkhan.
Flashback off.
Syerkhan belum memberitahu Anggi, karena itu adalah tugas Syifa dan dia hanya menunggu waktu menikahi gadis itu.
__ADS_1
"Tidak sabarnya aku, menunggu hari pernikahan kami," ucap Syerkhan sambil terus berjalan.
. . .
Anggi muntah-muntah sejak tadi dan, di bantu oleh Juwita yang senantiasa selalu bersamanya.
"Minum dulu Anggi, kalau tidak sehat sebaiknya kamu pulang biar semua aku yang mengurus," ucap Juwita dengan lembut.
Anggi tersenyum dan meminum air dari Juwita, kemudian dia mengatur nafas akibat kelelahan.
"Aku baik-baik saja! Terima kasih, karena kamu selalu ada di sampingku," ucap Anggi dengan lembut.
Juwita tersenyum, karena dia sangat mencintai Anggi. Namun, perasaannya di tahan karena sang sahabat mencintai wanita lain.
"Elo ya, kayak sama siapa aja, pakai ngucapin terima kasih," ucap Juwita yang mengeluarkan suara prianya.
Anggi tersenyum, karena Juwita selalu ada di saat dia membutuhkan seseorang seperti sekarang.
"Aku senang, karena kamu masih mau berteman denganku dan, mengetahui aku sakit apa," ucap Anggi dengan lirih.
Juwita memegang tangan Anggi, kemudian memeluk pria itu dengan lembut dan menitihkan air mata.
'Tuhan, semoga Anggi bisa sembuh dari sakitnya,' batin Juwita lirih.
Anggi melepaskan pelukannya, karena dia tidak mau berpelukan dengan wanita selain mamanya dengan waktu lama.
Juwita langsung mencubit lengan Anggi, karena pria itu sama sekali tidak tergoda dengannya. Padahal, ia sering kali hanya memakai pengaman gunung kembar, dan Anggi sama sekali tidak tergoda.
"Ngapain juga elo jadi bencong, lebih baik kita menikah saja!" sahut Juwita dengan serius.
"Elo yakin mau sama gue? Yang penyakitan ini?" tanya Anggi sambil menatap wajah sang sahabat.
Juwita menganggukkan kepala, kemudian memegang tangan Anggi dengan lembut, karena dia sangat mencintai pria itu.
"Gue masih virgin kok, jadi elo jangan khawatir dan, gue mau hidup sama elo walaupun elo penyakitan," jawab Juwita dengan serius.
Anggi tertawa, karena sang sahabat selalu bersikap seperti ini padanya. Sebab, ia sudah menganggap gadis itu seperti adiknya sendiri.
"Elo tahu gak?" tanya Anggi dan Juwita menggelengkan kepala.
"Sebenernya Syifa gak tau, kalau gue sakit, kalau dia tahu. Pasti gak bakalan mau nikah sama gue," ucap Anggi.
"Gue mau," ucap Juwita dengan cepat.
Anggi tersenyum dan mengelus puncak kepala Juwita dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Sekali lagi elo ngomong mau nikah sama gue, langsung gue sikat elo,"ucap Anggi.
__ADS_1
Juwita tersenyum dan mengatakan apa yang dilarang Anggi, membuat pria itu kesal langsung langsung mencubit pipi Juwita.
"Dasar cewek mesum!" celetuk Anggi dan Juwita tersenyum dengan sangat bahagia.
'Kalau aja elo tahu, kalau gue emak baner-bener mau nikah sama elo,' batin Juwita lirih.
. . .
Malam hari, Syifa sudah bersiap-siap karena akan ada makan malam bersama rekan bisnis Syerkhan. Padahal, ia sangat malas ke luar. Namun, dia harus hadir.
"Kenapa aku cemas ya, seperti akan ada yang terjadi. Tapi, apa itu?" gumam Syifa sambil terus berjalan.
Gadis itu berjalan dengan perlahan menuju cafe yang di minta oleh Syerkhan, karena pria itu sudah pergi duluan.
Setelah sampai, dia langsung bergabung dan makan bersama. Syerkhan terus menatap wajah Syifa dengan sangat dalam.
"Pak Syerkhan, jangan terlalu menatap putri Anda seperti itu! Sebab, kami tidak akan mengambilnya darimu," ucap salah satu rekan bisnisnya.
Syifa langsung menolah, dan benar adanya Syerkhan menatapnya dengan sangat dalam membuatnya semakin takut.
'Ya Tuhan, semoga aku tidak akan merasakan malam kelam itu lagi,' batin Syifa.
"Tentu saja saya takut! Karena, kalian semua mata keranjang," sahut Syerkhan dengan santai.
"Begitu? Lalu, Anda bukan mata keranjang?" jawab salah satu rekan bisnisnya.
"Tidak!" sahut Syerkhan.
Mereka semua bercanda tawa bersama, sedangkan Syifa hanya diam. Padahal, ada banyak wanita di sana. Namun, dia malah sibuk berpikir.
'Syifa pasti sedang berpikir' batin Syerkhan.
Pria itu hanya diam, karena tidak mau menanggung Syifa sampai mereka selesai makan malam bersama.
"Syifa, kamu pulang sama papa saja!" pinta Syerkhan saat gadis itu hendak pergi dari cafe.
"Ha?"
Syerkhan langsung narik tangan gadis itu masuk ke dalam mobilnya dan, mulai mengemudikan dengan perlahan.
"Apa ada masalah?" tanya Syerkhan dengan lembut.
"Tidak ada," jawab Syifa.
Syerkhan tersenyum, dan mereka hanya diam sampai mereka tiba di penginapan. Syifa langsung bergegas turun dan berjalan menuju kamarnya.
Sebab, dia masih takut pada Syerkhan dan berpikir pria itu pasti akan muda macam-macam dengannya, karena penginapan itu hanya mereka berdua yang tinggal.
__ADS_1
BERSAMBUNG.